KUNINGAN (MASS) – Kemeriahan Karnaval Hari Jadi Kuningan ke-528 di Jalan Siliwangi tidak hanya menyuguhkan atraksi budaya. Rombongan Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan justru menjadikan panggung karnaval sebagai ruang untuk menyuarakan kritik terhadap kerusakan lingkungan, khususnya ancaman terhadap Gunung Ciremai.
Mengenakan beragam kostum, puluhan peserta menggambarkan kehidupan yang bergantung pada ekosistem Ciremai. Sosok petani, hewan, hingga makhluk yang dipercaya hidup di kawasan gunung ditampilkan berdampingan dengan kelompok orang berjas dan berdasi.
Kontras tersebut menjadi simbol pesan yang hendak disampaikan UNISA Kuningan. Di satu sisi terdapat masyarakat dan makhluk hidup yang bergantung pada kelestarian Ciremai. Di sisi lain, terdapat simbol kelompok berkepentingan yang dianggap merepresentasikan ancaman terhadap alam.
Pesan itu diperkuat ketika peserta menampilkan adegan Ciremai yang digambarkan telah kehilangan pepohonannya akibat ulah sekelompok orang berjas dan berdasi yang digambarkan terus menebar uang.
Di hadapan masyarakat dan Bupati Kuningan, UNISA Kuningan mengangkat konsep hablum minal ‘alam, yakni hubungan manusia dengan alam yang semestinya dibangun melalui tanggung jawab dan kepedulian.
Orator perwakilan UNISA Kuningan, Zaky, mengingatkan masyarakat bahwa alam bukan sekadar ruang yang dapat dieksploitasi demi kepentingan ekonomi.
“Ka para wargi, bumi anu dipijak, cai anu diinum, hawa anu diseuseup, jeung leuweung anu hejo, mangrupa kurnia ti Gusti Nu Maha Suci. Ulah urang ngaruksak, ulah urang ngotoran, sing pageuh piara kalayan rasa asih jeung tanggung jawab,” tuturnya.
Seruan ini kemudian dipertegas dengan falsafah Sunda yang menggambarkan konsekuensi kerusakan lingkungan.
“Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (hutan rusak, air habis, manusia sangsara),” tegas Zaky.
Menurutnya, kerusakan hutan dan hilangnya sumber air pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kehidupan manusia. Ketika fungsi hutan terganggu, masyarakat akan menjadi pihak yang turut menanggung dampaknya.
Pesan UNISA kemudian diarahkan pada persoalan generasi mendatang. Melalui ungkapan puitis, Zaky mengajak masyarakat memastikan sumber kehidupan tetap tersedia bagi anak cucu.
“Cinyusu diraksa, kahirupan raharja; cai soca dicegah, sangkan incu bagja. Nu kiwari dipiara, nu jaga dipiboga; wariskeun cinyusu, ulah wariskeun cai soca!”
Bagi UNISA, menjaga mata air berarti menjaga keberlangsungan kehidupan. Karena itu, warisan yang diberikan kepada generasi berikutnya seharusnya berupa lingkungan yang lestari, bukan kerusakan yang harus mereka tanggung.
Kritik lingkungan tersebut dikemas melalui paduan suara, properti visual, kostum, dan orasi kebudayaan. Pendekatan itu membuat isu pelestarian alam disampaikan melalui bahasa budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Hablum minal alam menjadi pesanan bahwa hubungan manusia dengan alam harus dibangun atas dasar kasih sayang, tanggung jawab dan keberlanjutan. Sebab, menjaga alam hari ini berarti menjaga kehidupan generasi yang akan datang,” tutup Zaky. (didin)