Dua Kali Gantung Diri karena Frustasi

KUNINGAN (MASS) – Siapa yang harus disalahkan dengan maraknya kasus gantung  diri di Kabupaten Kuningan?  semua tentu tidak ingin disalahkan. Namun, pemerintah harus turun tangan agar kasus tidak terulang kembali.

Dari catatan kuninganmass.com total selama 2017 ada sembilan kasus gantung diri. Tentu bukan jumlah yang sedikit. Bahkan tahun 2018 sudah ada dua kasus gantung diri.

Kasus pertama terjadi pada 5 Januari. Korban   bernama Sapja Bin Astra Sarib  (70) yang berprofesi sebagi petani. Korban  yang merupakan warga  Dusun Wage RT 004/ 007 Desa Luragunglandeuh Kecammatan Luragung itu nekad gantung diri karena frutsasi dengan sakit yang diderita tidak kunjung sembuh.

Belum juga kasus itu hilangan dari ingatan warga. Kasus serupa terjadi pada Selasa (6/2/2018). Kali ini korbanya adalah Karmi Binti Karta Sanpi, yang berumur 60 tahun.

Warga Dusun Manis Rt 001 Rw 001 Desa Luragungtonggoh Kecamatan  Luragung itu  gantung diri penyebab  utamanya adalah diduga karena frustasi. Penyakit kencing manis, darah tinggi dan kangker kulit yang dideritanya membuatnya memilih jalan pintas karena tidak kuat menanggung sakit yang diderita.

“Iya ada dua kasus di Luragung dan dugaannya sama frustasi. Itu hasil keterangan dari pihak keluarga,” ujar Kapolsek Luragung AKP Agus Suroso, Kamis (8/2/2018).

Terpisah, Beni Prihayatno SSos MSi mengatakan, pihak sudah berupaya memberikan bantuan dengan cara menyediakan BPJS. Namun, mungkin korban sudah merasa lelah dengan derita yang sudah dialaminya.

“Sebenarnya mah kalau sabar Insya Allah, tapi mungkin tidak kuat menahan sakit terlebih cukup lama,” tandasnya.

Khusus untuk korban yang terakhir bernama Karmi. Korban tinggal terpisah dengan anaknya.  Mayat tergantung pertama kali diketahui oleh anaknya  yang bernama juriah (43).  Ketika itu ia mau menengok Ibunya dan mau membuka pintu depan rumah  ternyta melihat Ibunya sudah gantung diri dipintu tengah rumah .

Sementara itu, banyak pihak menilai dengan .banyak kasus bunuh diri menandakan ada yang salah dengan pemerintah. Selama ini pemerintah tidak hadir di tengah-tengah warga.

“Harusnya tidak terjadi kasus ini andai pihak desa atau pun RT sering memberikan motivasi kepada korban. Begitu juga  para tokoh masyarakat dan tokoh agama dijamin tidak akan ada yang gandir,” tandas Andri salah seorang mahiswa semester 7 kepada kuninganmass.com . (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com