KUNINGAN (MASS) – Lelaki tua ini lebih dikenal dengan sebutan Engkong Rana. Bertahun-tahun lamanya, ia tinggal seorang diri di rumah “gubuk” yang ada di Desa Karangbaru Kecamatan Ciwaru.
Tempat tinggalnya memprihatinkan. Bentuknya gubuk dengan alas masih tanah. Atap rumah Engkong Rana juga banyak yang bocor. Dan lagi, keterbatasan ruang itu membuatnya harus berdamai dengan seabrek barang bekas yang memenuhi isi rumah.
Meski terlihat renta, Engkong Rana tak ingin hanya berpangku tangan meminta belas kasihan tetangga. Ia pergi membersihkan makam, serta mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan, atau diminta tetangga.
Hidup sendiri dijalani Engkong Rana hari demi hari pasca ditinggal mati sang istri sekitar 20 tahun lalu. Ia memang punya anak, satu-satunya, tapi sudah tinggal merantau di ibu kota.

Penghasilan Engkong Rana di kampung juga tak menentu. Mungkin maksimalnya Rp 50 ribu dalam sehari (jika ada pekerjaan), itupun hanya cukup untuk makan diri sendiri.
Keterbatasan penghasilan, hidup dalam kesendirian, membuat Rana harus tegar hidup di rumah yang seadanya, tak layak, bahkan tidur di sela-sela barang bekas.Mungkin tak terfikir lagi buat Engkong Rana, di usianya yang menjelang senja, rumahnya justru direnovasi besar-besaran. Dibuat lebih kokoh, lebih layak, lebih bersih dan tak perlu lagi tidur di sela-sela tumpukan barang bekas.
Terbesit ada rasa tak percaya di raut wajahnya saat rumah barunya dirayakan bersama-sama tetangga, perangkat desa dan kecamatan, serta Yayasan Cahaya Sedekah Kehidupan (YCSK) yang mendanai renovasi rumah Engkong Rana.

Engkong Rana tak henti mengucap rasa syukur. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia bisa melihat rumahnya ajeg, bersih dan rapi. Apalagi saat renovasi, Engkong Rana sendiri terlibat banyak dalam pekerjaan.
“Alhamdulillah. Seneng sudah dibenerin rumahnya. Alhamdulillah,” kata Rana, dalam bahasa bercampur Sunda.
Setelah rumahnya direnovasi, ia tak muluk-muluk punya harapan lain. Ia hanya ingin sehat, bisa bekerja dan mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan.
Kegembiraan yang terpancar dari raut muka Engkong Rana membuat Ketua YCSk Sari Maryati ikut senang. Ia mengaku, pihaknya menginisiasi renovasi karena prihatin dengan kondisi Engkong Rana. Mulanya, kata Sari, YSCK datang ke kediaman Engkong Rana untuk menyalurkan bantuan sembako.

“Awalnya tuh rumahnya gubuk, bawahnya masih tanah, udah bolong-bolong, pokoknya sudah tidak layak Saya mau duduk di mana saja waktu penyaluran sembako saya bingung, karena udah nggak ada tempat duduk sedikitpun,” kata Sari Maryati, baru-baru ini.
“Kita pembangunan ini selama satu bulan dari nol. Jadi kita robohkan semuanya, kita hancurkan, jadi kita bangun baru. Untuk pembangunannya selama sebulan,” imbuhnya lagi.
Aksi baik YSCK sendiri direspon baik oleh Kepala Desa Karangbaru dan Camat Ciwaru. Keduanya, didampingi jajaran pemerintahan, hadir langsung dalam peresmian rumah.
Bantuan Rutilahu, Tapi Kualitas Jempolan..
Camat Ciwaru, Rusmiadi, mengapresiasi bantuan yang diberikan YCSK terhadap salah satu warga di kecamatannya tersebut. Ia juga memuji, rumah yang dibangun itu tidak alakadarnya. Bahkan bisa dibilang di atas layak huni semata.
“Intinya kami dari pemerintah kecamatan apresiasi sebesar-besarnya YSCK yang support kami. Sehingga rumah tidak layak (itu) sekarang diatas layak. Ini tidak mungkin 25 juta (biasanya bantuan rutilahu di angka tersebut) di atas 40 juta mungkin betul karena kualitas (luar biasa),” kata Camat.

Selain mendoakan semoga kebaikan tersebut dibalas yang maha kuasa, Camat juga berharap bantuan ini bisa menular ke masyarakat lain yang membutuhkan. “Semoga sinergi ini terus berlanjut,” ucapnya.
Senada, Kepala Desa Karangbaru, Andri Herawan, juga mengucapkan terima kasih yang mendalam. Di tengah keterbatasan desa, warganya yang sudah masuk penerima bantuan PKH (untuk kebutuhan harian) ini, bisa dibantu rutilahu dari nol.
“Alhamdulillah dari nol sampai ke atas, luar biasa bantuan besar ini. Saya mewakili warga Desa Karangbaru mengucapkan terima kasih.
Semoga yayasan lebih amanah lebuh maju. Apa yang sudah diberikan dilipatgandakan,” kata Kuwu Andri. (eki)