KUNINGAN (MASS) – Dzulhijjah datang membawa hadiah. 10 hari pertama di dalamnya disebut Rasulullah ﷺ sebagai hari-hari terbaik di dunia. Sayangnya, banyak dari kita membiarkannya lewat seperti hari biasa. Padahal, ini adalah “musim panen” pahala bagi yang mau berdagang dengan Allah.
Berikut 10 sebab yang bisa membuat hatimu bangkit, dengan pertolongan Allah, untuk meningkatkan ibadah di 10 hari pertama Dzulhijjah:
- Ini Adalah Sebaik-Baik Hari di Dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini” – yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah.”
Kalau Allah sendiri mencintai amalan di hari ini, kenapa kita biasa-biasa saja? - Pahala Dilipatgandakan Tanpa Batas
Di hari biasa, 1 kebaikan = 10 kali lipat. Di 10 hari ini, Allah lipatgandakan lebih dari itu. Setiap takbir, dzikir, sedekah, dan shalatmu bernilai jauh lebih tinggi. Rugi besar kalau dilewatkan. - Allah Bersumpah dengan Hari-Hari Ini
Allah berfirman:
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh”
Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Sumpah ini adalah tanda betapa mulianya 10 malam pertama Dzulhijjah. - Memuliakannya adalah Bagian dari Takwa
“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
Menghidupkan 10 hari ini dengan ibadah adalah bukti bahwa hatimu mengagungkan Allah. - Ini Musim Dagang dengan Allah
Orang berdagang mencari waktu terbaik untuk untung besar. 10 hari ini adalah pasar akhirat. Setiap detiknya adalah peluang untuk menimbun pahala yang tak akan habis. - Berkumpulnya Induk-Induk Ibadah
Di hari-hari ini berkumpul shalat, puasa, sedekah, dan haji. Tidak ada waktu lain dalam setahun di mana semua ibadah besar ini berkumpul kecuali di 10 hari Dzulhijjah. - Ada Hari Arafah dan Hari Nahr
Hari Arafah menghapus dosa dua tahun bagi yang berpuasa. Hari Nahr adalah hari raya dan hari yang paling dicintai Allah untuk berkurban. Dua hari ini saja sudah cukup jadi alasan untuk serius. - Kesempatan Melatih Konsistensi Ketaatan
10 hari cukup panjang untuk membentuk kebiasaan, tapi cukup singkat agar tidak berat. Jadikan ini latihan: perbanyak dzikir, jaga shalat sunnah, baca Al-Qur’an, dan qiyamul lail. - Waktunya Singkat, Cepat Berlalu
10 hari hanya 2,7% dari setahun. Rasakan waktunya cepat berlalu. Kalau sekarang saja kita lalai, kapan lagi? - Khawatir Ini Kesempatan Terakhir
Hadirkan rasa takut: bagaimana jika tahun depan kita tidak lagi bertemu Dzulhijjah? Banyak yang tahun lalu bersama kita, kini sudah di alam kubur. Jangan tunda taubat dan amal.
10 hari ini tidak akan datang dua kali dalam tahun ini. Jangan sampai menyesal di akhir Dzulhijjah karena kita menyia-nyiakannya.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan hari-hari ini dengan amal shalih dan menerima semua ibadah kita.
Oleh Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat