JAKARTA (MASS) – PT Rumah Tani Nusantara (RTN) resmi memulai babak baru perjalanan perusahaan dengan menggelar Kick Off Persiapan Initial Public Offering (IPO) 2027, Rabu (19/8/2026).
Hadir langsung dalam Kick Off persiapan IPO, Dewan Komisaris, Jajaran Direksi, Tim pendukung dari Legal Pasar Modal, serta Akuntan Pasar Modal dan Sekuritas.
Kick off ini menjadi penanda dimulainya transformasi besar Rumah Tani Nusantara: dari perusahaan yang bertumbuh melalui perdagangan dan penyerapan hasil pertanian, menuju perusahaan supply chain pangan terintegrasi yang dipersiapkan untuk memasuki pasar modal Indonesia.
Bagi Rumah Tani Nusantara, IPO bukan sekadar target untuk menjadi perusahaan terbuka. IPO merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun perusahaan pangan nasional yang lebih kuat, transparan, terukur, dan mampu bertumbuh secara berkelanjutan.
“Kami tidak ingin IPO hanya menjadi cerita tentang valuasi dan penghimpunan modal. Kami ingin IPO menjadi jalan untuk memperbesar kapasitas Rumah Tani dalam membangun ekosistem pangan yang menghubungkan petani, produksi, gudang, logistik, distribusi, pasar, teknologi, dan pembiayaan dalam satu rantai pasok yang semakin terintegrasi,” ujar Direktur Utama PT Rumah Tani Nusantara, Bahtiar.
Dari Offtaker Menjadi Supply Chain Orchestrator
Transformasi menuju IPO juga membawa perubahan fundamental dalam positioning perusahaan. Bahtiar mengaku, Rumah Tani Nusantara tidak lagi ingin hanya dikenal sebagai offtaker yang membeli hasil produksi petani.
“Perusahaan menargetkan peran yang lebih strategis sebagai Supply Chain Orchestrator yang mengelola dan menghubungkan berbagai mata rantai dalam ekosistem pangan,” ujar Bahtiar.
Model tersebut dibangun mulai dari perencanaan produksi dan kemitraan petani, pengadaan dan agregasi komoditas, standardisasi kualitas, pengelolaan gudang, logistik, distribusi, hingga akses pasar.
Dengan pendekatan tersebut, lanjutnya, Rumah Tani ingin menjawab salah satu persoalan mendasar sektor pertanian Indonesia: produksi pangan yang besar belum selalu diikuti oleh rantai pasok yang efisien dan kepastian pasar yang kuat.
“Indonesia tidak kekurangan petani hebat dan tidak kekurangan tanah yang produktif. Salah satu tantangan besarnya adalah bagaimana produksi, data, logistik, pembiayaan dan pasar dapat diorkestrasi dengan lebih baik. Di ruang itulah Rumah Tani ingin mengambil peran,” kata Bahtiar.
IPO sebagai Transformasi, Bukan Garis Akhir
Persiapan IPO 2027 akan menjadi momentum bagi Rumah Tani Nusantara untuk memperkuat fundamental perusahaan, mulai dari tata kelola, struktur organisasi, sistem keuangan, manajemen risiko, kepatuhan, audit, legal, hingga penguatan strategi pertumbuhan perusahaan.
Untuk mendukung proses tersebut, Rumah Tani mempersiapkan tim yang melibatkan berbagai profesional dan institusi di bidang pasar modal, hukum bisnis, akuntansi publik, serta underwriting.
Lebih lanjut, kata Bahtiar, Perusahaan menyadari bahwa menjadi perusahaan publik membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar. Transparansi, akuntabilitas dan tata kelola tidak hanya diperlukan untuk memenuhi regulasi, tetapi harus menjadi budaya baru perusahaan.
“IPO bukan garis finish. IPO justru merupakan pintu masuk menuju level tanggung jawab yang lebih tinggi. Ketika sebuah perusahaan membawa dana dan kepercayaan publik, maka setiap keputusan harus memiliki standar yang lebih tinggi pula,” tegas Bahtiar.
Membawa Perusahaan Daerah ke Panggung Nasional
Ada makna lain dalam perjalanan Rumah Tani menuju pasar modal. Bahtiat bercerita, perusahaan ini lahir dan tumbuh dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, daerah yang memiliki akar kuat pada sektor pertanian.
Karena itu, lanjutnya, perjalanan menuju IPO juga membawa pesan bahwa perusahaan yang lahir dari daerah memiliki kesempatan yang sama untuk membangun skala nasional.
Rumah Tani ingin menunjukkan bahwa daerah tidak harus hanya menjadi tempat produksi bahan baku. Dari daerah juga dapat lahir perusahaan, teknologi, jaringan distribusi, talenta, dan pusat pengambilan keputusan bisnis berskala nasional.
“Kami lahir dari Kuningan. Tetapi mimpi kami tidak berhenti di Kuningan. Kami ingin membuktikan bahwa dari daerah dapat lahir perusahaan nasional yang profesional, modern, dan suatu hari mampu berdiri sejajar dengan perusahaan-perusahaan besar di pasar modal,” ujar Bahtiar.
Pertumbuhan Harus Sampai kepada Petani
Di tengah ekspansi bisnis, Rumah Tani menegaskan bahwa pertumbuhan perusahaan harus tetap memiliki hubungan langsung dengan sektor hulunya: petani.
Semakin besar Rumah Tani, semakin besar pula kapasitas yang ingin dibangun untuk membuka pasar, memperkuat kepastian serapan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan menciptakan rantai pasok pertanian yang lebih sehat.
Karena itu, visi menuju perusahaan publik tidak dipisahkan dari misi perusahaan untuk menciptakan dampak ekonomi di daerah-daerah produksi.
“Bagi kami, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa besar perusahaan tumbuh. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika Rumah Tani semakin besar, apakah semakin banyak petani yang mendapatkan akses pasar? Apakah rantai pasok menjadi semakin efisien? Apakah pangan semakin mudah bergerak dari daerah surplus menuju daerah yang membutuhkan?” ujarnya mempertanyakan.
“Kalau jawabannya iya, maka pertumbuhan itu memiliki arti.” imbuhnya lagi.
Menuju 2027
Kick Off Persiapan IPO menjadi awal dari rangkaian panjang transformasi Rumah Tani Nusantara menuju 2027. Dalam periode tersebut, perusahaan akan berfokus pada penguatan fundamental bisnis, tata kelola perusahaan, sistem dan teknologi, infrastruktur rantai pasok, kualitas sumber daya manusia serta perluasan jaringan produksi dan distribusi.
Rumah Tani, ucapnya, melihat masa depan perusahaan bukan sekadar sebagai pedagang komoditas, melainkan sebagai infrastruktur rantai pasok pangan yang mampu menghubungkan kekuatan produksi pertanian Indonesia dengan kebutuhan pasar secara lebih cepat, efisien, dan terukur.
Dari sebuah perusahaan yang lahir di Kuningan, Rumah Tani kini membawa ambisi yang lebih besar: membangun perusahaan pangan nasional yang bertumbuh bersama petani dan dipercaya pasar.
“Hari ini kami memulai perjalanan menuju IPO. Tetapi mimpi terbesar kami bukan sekadar melihat kode saham Rumah Tani di Bursa. Mimpi terbesar kami adalah ketika pertumbuhan Rumah Tani ikut mengangkat kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” jelas Bahtiar sambil kemudian menegaskan slogan.
Dari Kuningan, tumbuh bersama petani.
Dari pertanian, membangun kekuatan ekonomi.
Dari Rumah Tani, menuju perusahaan pangan nasional.
(eki)