KUNINGAN (MASS) – Selain PDAM, pemanfaatan air secara komersil dari Curug Cimangkok Cisantana Kecamatan Cigugur juga ternyata tengah “diincar” oleh perusahaan swasta. Bahkan sebelumnya, sempat beredar pamflet sosialisasi untuk rencana pembangunan penangkap air oleh perusahaan.
Camat Cigugur Yono Rahmansah S TP MH, membenarkan ada kabar perusahaan yang ingin sosialisasi pemanfaatan air di Curug Mangkok, meski yang ia tahu, baru satu entitas yang punya ijin komersil pemanfaatan air di Curug Mangkok.
“Yang punya IUPA hanya PDAM. Kalo ijin (perusahaan) belum keluar cuma mereka ingin sosialisasi ke masyarakat mungkin bagian proses,” ucapnya, Senin (17/8/2026) kemarin.
Dari perusahaan sendiri, lanjutnya, datangnya ke desa. Namun secara kewilayahan, Camat Cigugur mengaku pihaknya jadi beririsan, dan memberikan masukan terkait kondisi air di masyarakat.
“Air kan bukan hanya kebutuhan satu dua orang tapi banyak. Harapannya yang memberikan ijin bisa memberikan pandangan komprehensif tentang kebutuhan air,” ucapnya.
Adapun perusahaan yang dimaksud adalah PT Hutan Lestari Nusantara. Camat mengaku kurang tahu apakah perusahaan akan memanfaatkan air untuk AMDK atau tidak, tapi kabarnya akan mengambil air dengan skala 35 liter/detik.
Untuk diketaui,, IUPA PDAM sendiri skalanya 50 liter/detik. Peraturan pemanfaatan air di wilayah konservasi adalah 50% kembali ke alam, 30% kebutuhan masyarakat, dan 20% bisa untuk kebutuhan komersil.
“Debit kan awalnya 500 liter maka PDAM (baru) 10%. (Tapi) Hemat saya dihitung kembali debit air, karena (itukan hitungan yang) sudah cukup lama sebenarnya, existing hari ini berapa debit air?” tuturnya.
“(Apalagi sekarang musim kemarau dan potensi kekeringan ya pak? Ya saya kira dengan berbagai factor, air tersebut kiranya bisa dihitung debit air terkini, jangan sampai datanya 500 liter/detik faktanya bukan,” ucapnya.
Sejauh yang ia tahu, perusahaan baru mendapat Pertek dari BTNGC, mungkin bagian dari proses perijinan, karena memang yang mengeluarkan ijinnya nanti adalah Dirjen BKSDA Kemehut RI.
“Kan kita melihat hari ini, air ini isu sensitif karena kebutuhan air masyarakat,” tuturnya.
“(Karenanya) Untuk air (harus) lebih komprehensif pengelolaannya, jangan terburu buru dan betul-betul meletakan kepentingan masyarakat didahulukan, karena mereka itulah yang paling merasakan dampaknya,” imbuhnya di akhir. (eki)