Cegah Korban Hoaks, Mahasiswa Kuningan di Cirebon Bedah “Seni Memahami” Informasi Lewat Dunia Dibalik Teks

KUNINGAN (MASS) – Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang seringkali membuat masyarakat bingung, Ikatan Mahasiswa Kuningan (IMK) Wilayah Cirebon mengambil langkah nyata. Melalui program Literasi-in yang digelar pada Kamis (23/4/2026), para mahasiswa ini berkumpul di Waroeng Literasi Sekretariat IMK, Jalan Puri Kaca Piring, Kota Cirebon, untuk belajar cara membedah informasi secara kritis.

Pengurus PKMB IMK sekaligus aktivis literasi, Haerul Tamami, menyoroti fenomena sosial saat ini yang bergerak sangat cepat dan serba tidak pasti. Menurutnya, masyarakat modern saat ini sedang kebanjiran informasi. Sayangnya, banyaknya informasi tersebut seringkali tidak dibarengi dengan kemampuan membaca yang kritis, sehingga orang cenderung mudah bereaksi tanpa memahami isi.

“Segala fomena sosial hari ini berproses dengan begitu sangat cepat, serba tak pasti dan berimplikasi pada kehidupan manusia modern, contohnya ialah banjirnya informasi di media sosial yang mana hal tersebut oleh masyarakat sebagai pengguna seringkali tak di imbangi dengan pembacaan yang mandiri dan kritis atas informasi sehingga responnya bersifat reaksional,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com Jum’at (24/4/2026).

Dalam diskusi bertajuk “Dunia di Balik Teks: Menelusuri Makna dalam Tradisi Membaca”, Haerul mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk mengenal metode “seni memahami” atau yang secara akademis disebut hermeneutika. Tujuannya sederhana, yaitu agar seseorang tidak hanya membaca tulisan di permukaan saja, tetapi juga mampu menangkap maksud terdalam dari sebuah informasi.

“Memahami informasi atau teks setidaknya butuh tiga tahapan. Tahap pertama adalah melihat teks itu sendiri secara utuh. Kita harus jeli melihat apa yang tertulis secara fisik sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan atau membagikannya ke orang lain,” tambahnya.

Tahap kedua yang tidak kalah penting adalah memahami konteks atau latar belakang. Seorang pembaca yang cerdas harus mencari tahu kapan informasi itu muncul dan apa alasan di baliknya.

“Dengan melihat sisi sejarah dan kondisi sosial saat teks itu dibuat, kita tidak akan mudah tertipu oleh potongan-potongan berita yang sengaja dipelintir,” paparnya.

Tahap terakhir adalah melakukan pemaknaan baru atau kontekstualisasi. Setelah memahami isi dan latar belakangnya, barulah kita menghubungkannya dengan kondisi saat ini.

“Proses inilah yang disebut sebagai cara berpikir mandiri, di mana seseorang tidak lagi hanya menjadi pengikut arus, melainkan penelaah yang punya prinsip,” jelasnya.

Ini menjadi oase di tengah dangkalnya pemahaman masyarakat terhadap informasi di dunia maya. Dengan mempelajari dasar-dasar pemahaman ini, diharapkan para mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam menjawab problem kesesatan informasi atau hoaks yang marak terjadi.

“Literasi-in membuktikan mahasiswa Kuningan di perantauan tidak hanya fokus pada urusan kuliah saja, tetapi juga peduli pada kesehatan iklim informasi di masyarakat. Ruang-ruang berpikir kritis seperti ini dianggap sangat mewah di tengah era yang serba instan,” pungkasnya. (raqib)