Perpustakaan Daerah Semakin “Dijauhi” Saat Pandemi

KUNINGAN (MASS) – Kesempatan kali ini, kuninganmass.com akan membawa pembaca pada pengalaman berkunjung ke salah satu tempat yang ‘sakral’ di Kuningan, Perpustakaan daerah, Edi S Ekadjati.

Sebagai perpustakaan daerah yang menjadi sumber rujukan keilmuan dan literasi se-Kabupaten Kuningan, letaknya cukup strategis, berada di pusat kota tak jauh dari gedung pendopo (pemda, red) Kuningan.

Kuninganmass.com pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku sebagai bahan referensi. Tak sulit masuk kesana, semua serba terbuka dan tidak ada protokol yang berlebihan.

Hanya saja, untuk yang belum terbiasa, mungkin akan sedikit canggung, pasalnya, sebelum masuk perpustakaan, kalian harus melewati ‘ruang’ yang biasanya, menjadi tempat saling komunikasinya para pekerja.

Saat memasuki ruang ‘sakral’ keilmuan tersebut, suasana sangat lenggang. Mungkin karena kesakralannya, atau memang efek pandemic ini juga sampai di perpustakaan. Bisa dimaklumi, tanpa pelajar dan mahasiswa, perpustakaan tidak begitu ramai.

Tak butuh waktu lama di dalam ruangan, ada beberapa buku yang menarik. Sebagai pengujung yang baik, itikad baik meminjam buku, tentu harus diaplikasikan dengan cara yang baik. Setelah mengambil buku, kuninganmass.com pergi kearah luar dan melapor untuk peminjaman.

“Sudah ada kartunya a ? kalo mau pinjam, harus punya kartu dulu” ujar petugas yang berjaga disana.

Karena belum memiliki, kuninganmass.com coba berkonsultasi apa saja yang diperlukan untuk pembuatan kartu anggota perpus. Ternyata tak sulit, yang penting ada kartu pengenal yang sah, seperti e-KTP, lalu kartu perpustakaan bisa segera diproses dengan biaya admin sebesar Rp10 ribu.

Komunikasi berlangsung cukup lama. Saat itu, kuninganmass.com adalah satu-satunya pengunjung yang ada.

Percakapan melebar dan meluas kemana-mana, termasuk menceritakan pengalokasian biaya admin, untuk pemeliharaan buku, penambahan koleksi, atau sekedar keperluan operasional.

Saat itu, setelah membuat kartu, kuninganmass.com meminjam buku dengan tenggat waktu satu minggu saja.
Mungkin karena pandemic, tidak ada pelayanan digital di depan.

Kabarnya, pengunjung juga tidak bisa teralu lama di dalam perpustakaan untuk menghindari penumpukan pengunjung. Hal itu wajar, meskipun sedikit aneh karena tidak ada pengunjung lain.

Di lain waktu, kuninganmass.com kembali menyambangi perpustakaan daerah tersebut. Masih dengan suasana yang sama, cukup sepi. Kedatangan ke perpustakaan, selain untuk mengembalikan buku, juga untuk meminjam buku sejarah Kuningan.

Sayangnya, Buku Sejarah Kuningan ternyata terbatas. Hanya ada buku induk yang tidak bisa dipinjamkan di luar ruangan.

Terpaksa, kuninganmass.com harus memperbanyak dengan meng-copynya diluar. Dan untuk peng-copyan buku induk, pengunjung harus menjaminkan KTP di meja pelayanan.

Untuk siapapun yang butuh dan tertarik mengunjungi perpustakaan daerah Edi S Ekadjati Kuningan untuk meminjam buku di luar ruangan, dan belum memiliki kartu perpustakaan, jangan lupa siapkan untuk admin sebesar Rp10 ribu.

Satu lagi, untuk persiapan jika ternyata buku yang dipinjam merupakan terbatas dan buku induk, siapkan juga dana untuk meng-copy.

Sekadar informasi jumlah wajib di Kabupaten Kuningan sekitar 800 ribu orang. Sedangkan yang datang bisa dihitung jari.

“Kalau kata saya mah harus punya strategi khusus agar gudang ilmu ini menarik minat warga untuk memijam buku,” ujar Evi Novia Dewi salah seorang mahasiswa. (eki)