Para Penutur Bahasa ‘Aneh’ yang Masih Hidup

KUNINGAN (MASS) – Banyak bahasa di Indonesia, bahkan dalam satu bahasapun memiliki aksen dan bahasa lokal tersendiri, basa wewengkon.

Bahkan, dalam perkembangannya, banyak sekali bahasa-bahasa yang hanya dimengerti kelompok orang dan di masa tertentu.

Seperti juga bahasa ‘aneh’ yang masih digunakan orang tua pada zaman dulu. Bahasa ‘aneh’ tersebut, biasanya digunakan ketika membahas hal-hal yang tidak ingin diketahui banyak orang.

Nonoh Umsanah, salah atau penuturnya. Ada setidaknya tiga jenis bahasa aneh, masih modifikasi dari bahasa Sunda, yang digunakan.

“Uhar Danang, Ulak Baning, Uka Bunung,” ujarnya saat dipintai mengartikan kata-kata dahar, balik, dan buku.

Bahasa tersebut, dijelaskannya pada kuninganmass.com Jumat (29/5/2020) sore, sering digunakan pada masa lalu. Konon bahasa tersebut biasa digunakan ketika masa kemerdekaan belum stabil, digunakan untuk sandi.

Disebutkannya, rumusnya sebenarnya cukup mudah dan bisa diterapkan dalam bahasa apapun. Cukup membalik suku kata akhir jadi awal, dengan awalan U dan kata ketiga dengan vokal a, sedang suku kata awal diakhirkan dengan akhiran ‘n-ng’, seperti kata dahar = Uhar-danang , atau balik = ulak-baning.

Bahasa kedua yang dituturnya adalah bahasa serba ‘de’ , dimana setiap kata diawali kata de, dan setiap suku kata diselingi kata de juga.

“de-bade-jude,” ujarnya saat mengartikan kalimat baju. Baju = de – Bade – Jude.

Bahasa de sendiri, dipercaya saduran bahasa Belanda saat kolonialisme. Namun, semua itu hanya prakiraan dan tidak ada sumber yang jelas. Hanya saja, beberapa penggunanya masih mengerti dengan menganggapnya bahasa gaul di zaman dulu.

Bahasa terakhir yang masih cukup populer adalah bahasa ga. Dimana setiap suku kata cukup ditambah imbuhan ‘g_’ dengan vokal mengikuti suku kata sebelumnya.

“Bugukugu sagayaga wagarnaga kuguniging,” ujarnya saat mengartikan kalimat ‘buku saya warna kuning’.

Bahasa terakhir sebenarnya tidak terlalu asing, terutama bagi kalangan yang tumbuh di tahun 90-an. Konon, bahasa ini seringkali dianggap bahasa gaul. (Eki)