KUNINGAN (MASS) – Langkah optimalisasi aset daerah oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan terbukti mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan daerah. Salah satu contoh sukses pemanfaatan aset milik Pemkab Kuningan adalah kawasan wisata Kopi Botanika yang saban tahun mampu menyetorkan dana hingga 1,6 milliar rupiah ke kas daerah.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Kuningan, Deden Kurniawan, membeberkan skema kerja sama pemanfaatan aset bersama pihak swasta seperti di Botanika terbukti sangat menguntungkan pemerintah daerah.
“Kita mendapatkan PAD seperti di Botanika ini Rp 1,6 miliar dalam satu tahun. Kalau dulu kita harus memelihara tanah ini, kalau sekarang dipelihara oleh Botanika. Semakin Botanika laku, sharing profit-nya akan semakin besar,” ujarnya saat ditemui di Kopi Botanika, Palutungan, Kecamatan Cigugur, Rabu (4/11/2026).
Deden merinci saat ini BPKAD telah mendata sekitar 1.270 titik aset tanah dan bangunan milik Pemkab Kuningan. Dari ribuan aset tersebut, terdapat 528 aset yang tidak ditujukan untuk pelayanan publik maupun perkantoran, dan 295 aset di antaranya masih berstatus kosong alias belum dimanfaatkan, termasuk beberapa lahan yang berada di luar daerah seperti di Bogor.
“Kita menghimpun seluruh data aset dan kita sudah data 1270 an. Aset tanah bangunan yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten kita fokuskan yang pertama untuk pelayanan publik, perkantoran dan lain sebagainya. Sehingga ada 528 aset yang itu tidak digunakan untuk pelayanan publik. Dari 528 tersisa, 295 yang masih kosong belum dimanfaatkan. Termasuk kita punya tanah di Bogor,” paparnya.
Melalui sistem digital ini, seluruh detail aset mulai dari status sertifikat, luas lahan, batas wilayah, hingga prospek peruntukan kawasan seperti sektor pertanian (LP2B), industri, atau pariwisata dapat diakses secara transparan oleh publik dan investor.
“Kita publish semua dengan data data luas sertifikat, batas batas dan juga prospek ke depan. Kalau tanah tersebut LP2M, berarti kami akan bisa berinvestasi pada sektor pertanian, kalau industri bisa industri dan lain sebagainya Manfaatnya dengan membuat data digital. Platform digital sampai kapanpun data aset itu tidak bisa dihilangkan,” tambahnya.
Deden juga mengilustrasikan penghematan pemeliharaan fisik aset yang sebelumnya bisa menyedot anggaran hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. “Seperti kemarin Bhinneka sebulan sekali kita babat pohonnya, rumputnya, listriknya dulu RSCI listriknya, pengamanannya hampir 40 juta per bulan, dengan sewa kita dapat PAD, kita dapat menghilangkan biaya,” tegasnya.
Lebih jauh, masuknya investasi pengelolaan aset daerah juga membawa multiplier effect yang positif bagi perekonomian warga lokal Kuningan, terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja baru.
“Dengan masuknya investor tenaga kerja pasti akan kita akan utamakan merekrut yang ada di Kuningan,” pungkasnya. (raqib)
