Pontren Husnul Khotimah Perkuat Kompetensi Pustakawan, Dorong Transformasi Perpustakaan sebagai Pusat Literasi

KUNINGAN (MASS) – Menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat terhadap informasi, pengetahuan, dan pembelajaran, Pondok Pesantren Husnul Khotimah (Pontren HK) terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk dalam pengelolaan perpustakaan. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan pustakawan yang diikuti 13 peserta dari Tim Perpustakaan Husnul Khotimah.

Kegiatan yang diselenggarakan Tim Perpustakaan bekerja sama dengan HRD dan Personalia ini berlangsung di Ruang Diklat HRD dan Personalia, Sabtu (7/11/2026). Pelatihan menghadirkan M. Fickry, S.I.Pust., Pustakawan Ahli Pertama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan, sebagai narasumber.

Kepala Divisi HRD dan Personalia, H. Sanwani, S.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi pengelola perpustakaan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan di lingkungan Pontren HK.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, perpustakaan semakin diminati dan menjadi salah satu tujuan utama santri maupun warga pesantren untuk memperoleh pengetahuan.

“Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, perpustakaan di Husnul Khotimah semakin diminati, semakin banyak yang datang untuk membaca, serta tumbuh budaya literasi di lingkungan pesantren,” ungkap H. Sanwani.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Urusan Perpustakaan HK 1, Ust. Afif Bahtiar, S.Pd.I., menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas tim perpustakaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Menurutnya, pengelolaan perpustakaan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang terus diperbarui agar mampu mengikuti perkembangan zaman serta menjawab kebutuhan pemustaka. Ia berharap, wawasan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan berbagai program literasi di lingkungan Pontren HK.

Perpustakaan sebagai Pusat Pembelajaran dan Inovasi

Dalam sesi pemaparan, M. Fickry mengangkat pentingnya transformasi perpustakaan seiring perubahan kebutuhan masyarakat terhadap informasi, pengetahuan, dan pembelajaran. Perpustakaan tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.

Lebih dari itu, perpustakaan perlu berkembang menjadi pusat pembelajaran, inovasi, kreativitas, literasi digital, serta pemberdayaan masyarakat. Perubahan paradigma ini menuntut pengelola perpustakaan untuk terus meningkatkan kapasitas dan menghadirkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

Transformasi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap peran pustakawan. Mereka tidak hanya bertanggung jawab dalam penataan dan pengelolaan koleksi bahan pustaka, tetapi juga dituntut mampu mengembangkan layanan informasi, memanfaatkan teknologi, serta menciptakan suasana perpustakaan yang menarik dan mendorong minat baca.

Bagi Pontren HK, pengembangan perpustakaan memiliki arti strategis dalam mendukung proses pendidikan dan pembinaan santri. Perpustakaan merupakan salah satu sarana penting untuk memperluas wawasan, memperkaya khazanah keilmuan, dan menumbuhkan budaya membaca sebagai bagian dari tradisi pendidikan Islam.

Karena itu, peningkatan kompetensi pustakawan menjadi langkah penting agar perpustakaan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap ekosistem pendidikan pesantren. Pengelolaan yang profesional dan layanan yang adaptif diharapkan dapat menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang hidup, produktif, dan dekat dengan kebutuhan santri.

Melalui pelatihan ini, Pontren HK berharap para pengelola perpustakaan dapat mengembangkan wawasan dan keterampilan baru untuk meningkatkan kualitas layanan. Kolaborasi Tim Perpustakaan dengan HRD dan Personalia sekaligus menjadi bagian dari komitmen lembaga dalam membangun sumber daya manusia yang kompeten dan profesional.

Pada akhirnya, keberhasilan perpustakaan tidak hanya diukur dari banyaknya koleksi buku yang tersedia, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dalam membangun budaya membaca, memperluas pengetahuan, dan melahirkan generasi pembelajar yang berwawasan luas.

Sebab, pesantren yang kuat tradisi keilmuannya tidak hanya mengajarkan santri untuk membaca, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sepanjang hayat. (deden/AB)