KUNINGAN(MASS) – Tradisi tahunan Kawin Cai di Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, kini tak sekadar menjadi ritual syukur atas melimpahnya air. Kebudayaan lokal Kabupaten Kuningan ini resmi diangkat menjadi khasanah pengetahuan modern melalui program Tirtha Pawitan: Living Lab Sumber Mata Air.
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek),Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), Pemkab Kuningan, serta Yayasan Hibar Budaya Nusantara.
Pendekatan Living Lab atau laboratorium kehidupan bertujuan mengawinkan kearifan lokal dengan inovasi sains dan teknologi mutakhir guna memperkuat ketahanan air daerah. Dukungan penuh dari pemerintah pusat disampaikan langsung oleh Sekretaris Ditjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Dr Samsuri, saat menghadiri gelaran riset dan tradisi Kawin Cai 2026 di Kuningan.
Ia menyoroti betapa krusialnya pengembangan teknologi yang mengakar pada nilai-nilai lokal serta membawa manfaat riil bagi masyarakat luas. “Kabupaten Kuningan memiliki potensi kekayaan sumber mata air, ini harus kita jaga bersama,” pesannya.
Ia menambahkan perlindungan terhadap ketersediaan air bersih tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan teknis formal, tetapi wajib memadukan pelestarian tradisi dan kesadaran kolektif warga.
“Upaya menjaga sumber mata air tidak cukup hanya melalui pendekatan teknis, tetapi juga perlu didukung oleh kesadaran kolektif, keterlibatan masyarakat, dan pelestarian tradisi lokal,” tambahnya.
Dalam program Living Lab Tirtha Pawitan ini, tim peneliti memasang sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas dan kuantitas debit air secara real-time, serta mengembangkan portal peta digital TirthaMap untuk memetakan sebaran mata air.
Melalui teknologi tersebut, warga tidak hanya menjadi penonton, melainkan diajak terlibat aktif dalam mengawasi kondisi air di lingkungannya. Hal itu disampaikan Staf Pengajar sekaligus Peneliti dari UTB, Dr AA Ade Kadarisman.
“Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu terlibat dalam pemantauan air, pemanfaatan teknologi, dan pelestarian kearifan lokal, semangat gotong royong menjaga mata air,” lanjut penulis buku Green Public Relations.
Sementara itu, Rektor UTB, Dr M Naseer, mengapresiasi keteguhan masyarakat Kuningan yang terus merawat nilai-nilai luhur Kawin Cai secara turun-temurun hingga menjadi percontohan nasional. Ia berharap sinergi kampus, pemerintah, dan komunitas budaya ini mampu menginspirasi daerah lain dalam memelihara ekosistem air.
“Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung ketahanan air di Kabupaten Kuningan serta menjadi pembelajaran bagi daerah lain,” pungkasnya. (raqib)
