KUNINGAN (MASS) – Pengembangan energi panas bumi atau geotermal tidak lepas dari potensi dampak terhadap lingkungan, termasuk kebisingan dari aktivitas pembangkit yang dapat mengganggu flora dan fauna. Ahli geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, menjelaskan suara dari sistem turbin dapat muncul dan perlu dikendalikan melalui langkah mitigasi yang tepat.
Hal tersebut disampaikan Jumhari dalam sebuah podcast yang tayang di YouTube baru-baru ini. Dalam pembahasan mengenai geotermal, ia menjelaskan suara yang dihasilkan bukan hanya berkaitan dengan kegiatan pengeboran, tetapi juga dapat berasal dari aliran fluida yang menggerakkan turbin.
“Suara air yang memutarkan turbin itu akan berisik, akan keluar suaranya wush, wush, wush, tapi, suara itu bisa diperkecil dengan peredam,” tuturnya.
Menurutnya, setiap pembangunan, termasuk pengembangan energi geotermal, memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Dampak tersebut dapat bersifat positif maupun negatif, bergantung pada cara pengelolaan, teknologi yang digunakan, serta kemampuan menjaga dampak agar tetap berada dalam batas yang dapat diterima.
“Setiap perubahan, setiap pembangunan itu mengandung konsekuensi. Apakah baik atau buruk, itu tergantung pada bagaimana kita mengelolanya dan ambang batas lingkungan yang disepakati,” tandasnya.
Ia menjelaskan, potensi kesalahan dalam suatu kegiatan selalu ada. Namun, risiko tersebut dapat ditekan melalui mitigasi, baik dengan metode kerja yang tepat maupun penggunaan struktur dan teknologi yang sesuai.
“Peluang terjadinya kesalahan itu selalu ada. Tetapi, dengan mitigasi melalui cara kerja maupun struktur yang dibuat, risikonya bisa diminimalkan,” ungkapnya.
Potensi kebisingan dari turbin menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam kajian lingkungan. Selain penggunaan peredam suara, penilaian dampak perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kebisingan yang mungkin diterima masyarakat maupun satwa di sekitar lokasi proyek.
Dalam konteks geotermal di Kabupaten Kuningan, Jumhari menilai pengembangannya secara teknis dari aspek geologi memiliki kelayakan. Meski demikian, ia menegaskan persoalan dampak lingkungan tetap harus dibahas secara serius, termasuk bagaimana perubahan kondisi lingkungan akan diukur dan dikendalikan.
“Secara teknis, dari aspek geologi, geotermal Kuningan itu ada kewajaran untuk dikembangkan. Namun, perubahan terhadap lingkungan dan ambang batasnya harus disepakati,” pungkasnya. (raqib)
