CIREBON (MASS) – Lapas Narkotika Kelas IIA Cirebon menggelar penutupan Program CRIMINON Angkatan 106, Senin (21/9/2026). Program rehabilitasi dan pembinaan kepribadian tersebut telah berlangsung selama tiga bulan dengan total 40 kali pertemuan.
Salah satu mahasiswa PPL, Shita, mengatakan Program CRIMINON diikuti oleh 66 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Selama mengikuti program, para peserta mendapatkan pendampingan dan mengikuti rangkaian kegiatan secara konsisten.
“CRIMINON merupakan program rehabilitasi dan pembinaan kepribadian yang telah dilaksanakan sebanyak 40 kali pertemuan selama kurun waktu tiga bulan,” ujar Shita kepada kuninganmass.com Rabu (30/9/2026).
Menurutnya program itu dirancang untuk membantu WBP membangun kembali kesadaran diri, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan perilaku. Pembinaan tersebut menjadi bagian dari persiapan WBP sebelum nantinya kembali dan beradaptasi di tengah masyarakat.
“Program ini dirancang untuk membantu WBP membangun kembali kesadaran diri, tanggung jawab, dan kemampuan pengendalian perilaku sebagai bagian dari upaya pembinaan menjelang masa reintegrasi ke tengah masyarakat,” tuturnya.
Kegiatan penutupan turut dihadiri Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) Hendryadi Bangsawan, Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Kasubsi Bimkemaswat) Brian Gerhana D.A, serta pelaksana kegiatan Program CRIMINON, Irma Rosdiyanti.
Dalam kegiatan penutupan tersebut, panitia juga memberikan penghargaan kepada tiga peserta terbaik Program CRIMINON Angkatan 106. Ketiganya merupakan WBP berinisial GC, DW, dan DA.
Ketiga peserta tersebut dinilai menunjukkan konsistensi, keaktifan, serta perkembangan sikap yang menonjol selama mengikuti seluruh rangkaian program. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi peserta lainnya agar tetap berkomitmen mengikuti proses pembinaan.
Shita mengatakan, keberadaan mahasiswa PPL dan anak magang dalam program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan ilmu secara langsung di lingkungan pemasyarakatan. Kolaborasi tersebut mempertemukan unsur petugas lapas, pelaksana program, dan pihak akademik dalam mendukung kegiatan pembinaan WBP.
“Kolaborasi antara petugas lapas, pelaksana program, dan pihak akademik diharapkan dapat terus memperkuat efektivitas program pembinaan kepribadian bagi WBP ke depannya,” pungkasnya. (raqib)
