Kekeringan Mulai Melanda, Santri Husnul Khotimah Shalat Istisqa

KUNINGAN (MASS) — Di tengah teriknya sinar matahari, keluarga besar Pondok Pesantren Husnul Khotimah melaksanakan Shalat Istisqa di Lapangan STISHK, Jumat (11/9/2026). Shalat sunnah untuk memohon turunnya hujan tersebut dipimpin KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd., Al-Hafidz, yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib.

Shalat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan ketundukan kepada Allah SWT di tengah kondisi kekeringan yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Jamaah mengikuti rangkaian shalat dengan khidmat, meski harus berada di bawah terik matahari.

Usai pelaksanaan shalat, KH. Mu’tamad menyampaikan khutbah dengan mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta memperbanyak istighfar atas segala kesalahan dan dosa.

Ia mengingatkan bahwa berbagai musibah dan kesulitan yang menimpa manusia hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Kondisi kekeringan yang mulai dirasakan di sejumlah daerah, harus menjadi pengingat agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Rasulullah SAW memberikan contoh kepada umatnya untuk banyak beristighfar dan memohon kepada Allah SWT. Apalagi kita yang penuh dengan dosa dan kesalahan, maka seharusnya kita banyak-banyak beristighfar dan banyak berdoa kepada Allah SWT,” pesannya.

Dalam khutbahnya, Mu’tamad juga mengingatkan tentang berbagai perilaku yang dapat menjadi sebab datangnya musibah. Di antaranya kecurangan dalam takaran dan timbangan, tidak menunaikan zakat, mengabaikan amanah, serta munculnya permusuhan dan pertikaian.

Selain itu, Kyai Mu’tamad mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, termasuk menunaikan zakat dan membantu mereka yang membutuhkan. Menurutnya, kondisi sulit yang dihadapi masyarakat seharusnya mendorong setiap muslim untuk semakin peduli dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Setelah menyampaikan khutbah, Mu’tamad memimpin doa bersama. Dengan suasana yang semakin khidmat, jamaah menengadahkan tangan memohon ampun sekaligus berharap Allah SWT segera menurunkan hujan.

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Sungguh, banyak hamba, negeri, hewan dan makhluk lainnya yang mengalami bencana, kesempitan dan kesusahan. Kami tidak mengadu kecuali kepada-Mu,” ucap Mu’tamad dalam doa yang penuh penghayatan.

Ia juga memohon agar Allah SWT menghidupkan kembali bumi dengan air hujan yang penuh keberkahan.

“Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman kami, alirkanlah air di sekitar tanah kami, dan turunkanlah kepada kami hujan yang penuh berkah. Tumbuhkanlah tanaman kami dengan keberkahan bumi-Mu,” do’anya.

“Ya Allah, kami menyadari di antara kami masih ada orang tua yang lalai terhadap anaknya, guru yang lalai dan belum melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Di antara kami juga masih ada para pelajar dan santri yang belajarnya belum sungguh-sungguh, masih bermain-main dan belum melaksanakan amanah yang diberikan oleh kedua orang tuanya,” sambung Mu’tamad.

Doa kemudian ditutup dengan permohonan ampun atas seluruh dosa dan kesalahan.

“Ya Ghafiradz-dzanbi, Ya Ghafirul-dzanbi, ampunilah semua kesalahan dan dosa kami. Sungguh, Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”

Shalat Istisqa di Lapangan STISHK menjadi momentum bagi keluarga besar Husnul Khotimah untuk tidak hanya memohon turunnya hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.

Di bawah terik matahari, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap agar Allah SWT mengangkat kesulitan, mengampuni dosa dan kesalahan, serta menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi bumi dan seluruh makhluk. (deden/AB)