KUNINGAN (MASS) – Kawasan Jalan Soekarno-Hatta kembali menjadi pusat perhatian publik Kuningan. Bukan karena ada terobosan ekonomi atau peningkatan kesejahteraan rakyat, melainkan karena proyek pembongkaran ikon lama ”Tugu Bola Dunia” beserta slogan “Kuningan Bangkit”yang digantikan dengan Patung Kuda dan tulisan “Kuningan Melesat”. Yang membuat publik dan kalangan muda bertanya-tanya adalah, proyek penataan ulang ini menelan anggaran APBD hingga Rp200 juta.
Alasan birokrat bahwa pergantian ini bertujuan untuk memperkuat identitas daerah dan menyesuaikan dengan visi kepala daerah. Ini memang terdengar manis di atas kertas. Namun, sebagai bagian dari masyarakat yang melihat langsung kondisi riil di lapangan, kebijakanini memicu pertanyaan besar: Seberapa mendesak penggantian tugu ini jika dibandingkan dengan masalah-masalah krusial yang mendera warga Kuningan?
Di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas, pemda Kuningan justru mengalirkan dana APBD sebesar Rp200 juta hanya untuk mengubah bentuk fisik bundaran jalan yang terasa seperti langkah yang kurang empati. Pemerintah daerah terkesan gemar melakukan proyek kosmetik kota, memoles bagian luar agar terlihat indah dipandang, sementara substansi kesejahteraan masyarakat kerap terabaikan.
Terlebih lagi, Tugu Bola Dunia dan slogan “Kuningan Bangkit” bukanlah benda mati tanpa makna, ia adalah bagian dari rekam jejak pembangunan masa lalu yang menjadi memori kolektif warga. Menggantinya secara instan demi menyesuaikan selera rezim atau tagline kekinian justru menunjukkan lemahnya penghargaan terhadap sejarah lokal. Apakah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan atau visi kepala daerah, identitas kota harus selalu dirombak dengan menghabiskan ratusan juta rupiah uang rakyat?
Sebagai bagian dari kalangan muda, kami tidak anti terhadap estetika kota atau upaya memperkuat identitas lokal. Namun, kami menuntut adanya skala prioritas yang akuntabel.
Jika anggaran Rp200 juta tersebut dikelola dengan orientasi yang berpihak langsung kepada masyarakat, ada banyak alternatif program yang jauh lebih berdampak nyata.
Alih-alih mempercantik beton di jalan raya, dana tersebut jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk subsidi pendidikan pelajar kurang mampu di Kuningan atau peningkatan fasilitas perpustakaan desa/taman baca masyarakat yang mangkrak. Barangkali di tengah himpitan ekonomi saat ini, modal Rp200 juta bisa disalurkan sebagai dana bergulir atau inkubator bisnis bagi wirausahawan muda dan UMKM lokal di Kuningan agar mereka bisa bangkit secara mandiri.
Pemerintah Kabupaten Kuningan harus paham bahwa “melesat” yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa cepat kita mengganti patung di jalanan, melainkan seberapa cepat angka kemiskinan turun, fasilitas kesehatan merata, dan pendidikan anak-anak terjamin.
Jangan sampai proyek “Kuningan Melesat” justru melesatkan anggaran ke tempat yang salah, sementara rakyatnya jalan di tempat. Teruntuk pemerintah Kab Kuningan, hentikan proyek kosmetik kota yang elitis, dan mulailah mendengarkan denyut nadi persoalan rakyat yang sebenarnya.
Oleh: Rafly Maulana Akbar, Ketua Umum IPPMK Jadetabek