KUNINGAN (MASS) – Logo Hari Jadi Kuningan ke-528 resmi ditetapkan Pemerintah Kabupaten Kuningan, Kamis (30/7/2026). Identitas visual itu ditetapkan setelah dilakukan proses kurasi panjang dari sayembara.
Logo yang ditetapkan ini, merupakan karya Ligar Fajar Maulana, pemenang lomba. Tidak sembarangan, Logo ini ditetapkan setelag dipresentasi di depan panelis, serta kombinasi public online voting.
Sayembara atau lomba logo Hari Jadi sendiri diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan dan Ekraf Kuningan.
Koordinator Kegiatan, Azhar N. Ahdiyat, SPd, MDs, yang juga bertugas sebagai kurator dan panelis, menjelaskan bahwa proses pemilihan identitas visual dirancang untuk menjamin kualitas desain sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat.
“Tahapan yang dilalui meliputi penyusunan design brief, open call portofolio, seleksi dan kurasi peserta, proses perancangan oleh desainer terpilih, presentasi final di hadapan panelis, hingga Public Online Voting yang berlangsung pada 20–22 Juli 2026,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Dalam mekanisme penilaian, bobot penilaian terdiri atas 60 persen dari panelis dan 40 persen dari hasil voting publik.
Antusiasme masyarakat terhadap proses ini tergolong tinggi. Selama periode voting tercatat sebanyak 821 suara sah hingga penutupan pada 22 Juli 2026 pukul 17.28 WIB.
Berdasarkan hasil voting publik, Logo 01 memperoleh 469 suara (57,1 persen), disusul Logo 03 dengan 210 suara (25,6 persen), dan Logo 02 dengan 142 suara (17,3 persen).
Hasil voting tersebut kemudian dikombinasikan dengan penilaian lima panelis sesuai skema pembobotan yang telah ditetapkan.
Rekapitulasi:
Logo 01 karya Ligar Fajar Maulana memperoleh nilai akhir 92,56 dan menempati peringkat pertama.
Logo 03 karya Geral Dwi Cahyo memperoleh nilai akhir 71,55.
Logo 02 karya M. Alfiq Haikal memperoleh nilai akhir 64,31.
Azhar menegaskan, Public Online Voting bukan dimaksudkan sebagai kontes popularitas, melainkan ruang partisipasi masyarakat terhadap karya-karya yang sebelumnya telah melalui proses kurasi dan penilaian profesional.
“Hasil akhir ditentukan melalui kombinasi penilaian panelis sebesar 60 persen dan dukungan masyarakat sebesar 40 persen. Mekanisme ini menjaga keseimbangan antara kualitas konseptual dan penerimaan publik,” katanya.
Menurutnya, tingginya angka partisipasi masyarakat menjadi indikator positif terhadap keterbukaan proses pengembangan identitas visual daerah.
“Sebanyak 821 suara yang masuk menunjukkan bahwa masyarakat memiliki perhatian dan rasa memiliki terhadap identitas visual Hari Jadi Kabupaten Kuningan. Partisipasi ini menjadi modal sosial yang sangat penting karena sebuah identitas visual akan lebih bermakna ketika lahir melalui proses yang transparan, akuntabel, dan melibatkan publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh tahapan penyelenggaraan telah dilaksanakan sesuai mekanisme yang diumumkan sejak awal, mulai dari seleksi berbasis portofolio, briefing, masa perancangan, presentasi final di hadapan panelis, hingga pelaksanaan voting publik dan rekapitulasi akhir.
“Keputusan yang dihasilkan bukan semata-mata berdasarkan jumlah suara publik ataupun penilaian panelis secara terpisah, melainkan hasil integrasi keduanya sesuai formula yang telah ditetapkan. Dari proses tersebut, Logo 01 karya Ligar Fajar Maulana memperoleh capaian terbaik, baik dari sisi dukungan masyarakat maupun nilai akhir hasil pembobotan,” imbuhnya.
Pada tahap finalisasi, lanjut Azhar, logo terpilih mengalami penyempurnaan desain tanpa mengubah konsep maupun filosofi yang telah ditetapkan.
“Logo terpilih hasil karya Ligar kemudian dilakukan beberapa pengembangan lanjutan yang wajar tanpa mengurangi konsep awal maupun filosofinya. Penyesuaian dilakukan pada bentuk wordmark atau tipografi agar semakin mempertegas konsep dan meningkatkan keselarasan visual,” terangnya.
Sementara, Ketua Hari Jadi ke-528, U Kusmana, S Sos, M Si,menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis, panelis, serta masyarakat Kabupaten Kuningan yang telah berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan.
“Partisipasi tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan identitas visual daerah dapat dilaksanakan secara profesional, terbuka, transparan, dan melibatkan publik sebagai bagian dari pengambilan keputusan bersama,” ucapnya. (eki)