KUNINGAN (MASS) – Tidak terasa kita akan kembali melewati pergantian tahun baru hijriyah, dari tahun 1447 H berganti 1448 H. Pergantian tahun baru semestinya dijadikan sarana refleksi diri dan pengingat waktu yang begitu cepat berlalu. Seiring cepat berlalunya waktu hendaknya diiringi persiapan untuk menyiapkan bekal dalam menghadapi kehidupan selanjutnya.
Cepatnya waktu berlalu, hendaknya manusia tidak menyia-nyiakannya. Menyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kesempatan dalam kehidupan. Karena waktu itu merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Imam Syahid Hasan al-Banna mengingatkan hakikat waktu, “Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.” Dengan begitu, orang yang menyia-nyiakan waktu berarti tidak memahami akan arti sebuah kehidupan.
Saking berharganya waktu, pepatah Inggris mengatakan time is money (waktu adalah uang). Hal ini mengandung makna, menyia-nyiakan waktu berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak. Inilah gambaran bagi orang yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, sehingga segala sesuatu selalu diukur dengan harta (uang).
Dalam pepatah Arab alwaqtu kassaifu in lam taqtha’hu qatha’aka (waktu itu bagaikan pedang. Jika Anda tidak memanfaatkannya, Anda yang akan dimanfaatkan (ditebas olehnya). Hal ini mengandung makna, orang yang tidak memanfaatkan waktu akibatnya seperti orang yang telah kehilangan kesempatan hidup.
Dan, orang yang kehilangan kesempatan untuk hidup seakan mati sebelum waktunya. Dikatakan mati namun masih bisa menghabiskan nasi, dikatakan hidup namun tidak berbuat hal yang bermanfaat dan hanya menghabiskan waktu untuk menunggu datangnya mati.
Bagi seorang muslim alwaqtu huwal ibadah (waktu adalah ibadah). Hal ini mengandung makna, setiap waktu yang berlalu selalu bernilai ibadah, karenanya bagi seorang muslim akan selalu memanfaatkan waktu untuk aktifitas beribadah kepada Allah SWT.
Inilah hakikat dari diciptakannya manusia untuk selalu beribadah kepada-Nya. “Dan, Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS al-Dzariyat [51]: 56).
Jika waktu begitu cepat berlalu, apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengimbangi cepatnya pergerakan waktu? Hasan al-Basri mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, berlalu pula sebagian hidupmu.”
Berkaitan dengan waktu, Rasulullah SAW mengingatkan empat hal, tentang umur untuk apa dihabiskan, masa muda untuk apa digunakan, terkait harta dari mana diperoleh dan untuk apa dihabiskan, dan ilmu untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi).
Rasululloh mewanti-wanti melalui sabdanya, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; sehatmu sebelum datang sakitmu; kayamu sebelum datang kefakiranmu; luangmu sebelum datang sibukmu; dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Hakim).
Dalam hadis yang lain, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).
Saking pentingnya waktu, dalam Alquran Allah bersumpah atas nama waktu dengan redaksi yang berbeda-beda, misalnya wal-fajr (demi waktu fajar), wal-lail (demi waktu malam), wan-nahar (demi waktu siang), wadh-dhuha (demi waktu dhuha) dan kalimat lainnya.
Hal ini mengisyaratkan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan dari waktu yang diberikan terdapat pertanggungjawaban atas segala apa yang diberikan oleh-Nya. Manfaatkan kesempatan dan waktu yang diberikan sebagai sarana ibadah kepada-Nya, apapun profesi kita. Bukan aji mumpung, mumpung menjadi pejabat, menjadi penguasa, punya posisi strategis, dimanfaatkan untuk menumpuk harta (memperkaya diri) meski tidak halal.
Pada setiap momentum pergantian tahun baru hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan refleksi diri, sudah sejauhamana waktu dan kesempatan yang diberikan digunakan untuk perihal yang bermanfaat.
Sebagai penggiat media cetak dan elektronik, maka akan dimanfaatkan untuk menyajikan informasi dan berita yang menyejukkan (bukan profokatif) dan dapat dipertanggungjawabkan (bukan hoax). Karena hal itu akan dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat kelak.
Sebagai pengusaha, dimanfaatkan dengan bisnis yang halal dan memberikan hak kepada karyawan sebelum keringatnya mengering, bukan malah untuk memeras tenaga karyawan demi mendapatkan keuntungan yang besar.
Sebagai orang yang berpunya (kaya), maka akan dimanfaatkan untuk membantu dengan banyak berderma kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan sehingga tercipta kehidupan yang harmonis bukan kesenjangan.
Sebagai suami atau istri dalam rumah tangga, akan dijadikan sebagai ladang penyiapan generasi yang berakhlakul karimah sebagai pemimpn di masa depan. Sebagai anak, akan selalu berbakti kepada orang tua, membahagiakan, dan menjaga nama baik keluarga serta melanjutkan visi dan misinya.
Sebagai pendidik, akan memanfaatkan seluruh potensi untuk mendidik anak bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Sebagai siswa, mengerahkan seluruh potensi untuk menyerap ilmu, berbakti kepada guru, dan mempersiapkan diri untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagai pemimpin, akan memanfaatkan kesempatan itu dengan memberikan pelayanan dan tidak menelantarkan rakyat, serta bekerja keras mengantarkan kepada kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan sejahtera.
Sebagai rakyat, akan memanfaatkan dengan mengerahkan kemampuan untuk mendukung setiap program dan kebijakan pemerintah yang berorientasi untuk kemaslahatan bagi semua, dan akan mengingatkan terhadap segala bentuk penyimpangan yang dilakukan.
Sebagai politisi (anggota legislatif), akan memanfaatkan kesempatan itu untuk memeras pikiran dan tenaga untuk kemaslahatan rakyat yang telah memberi mandat, bukan memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongannya.
Sebagai pejabat, akan memanfaatkan dengan memberikan pelayanan prima, bukan malah memanfaatkan untuk memperkaya diri dengan meminta imbalan padahal telah digaji oleh negara yang berasal dari uang rakyat.
Sebagai apapun kita, akan berupaya memberikan manfaat yang lebih besar kepada umat, bangsa, dan negara. Sebab, puncak kebaikan itu manakala seseorang dapat memberikan manfaat seluas-luasnya untuk kepentingan bersama.
Semoga Allah membimbing kita agar dalam momentum pergantian tahun baru ini dapat memanfaatkan sebagai refleksi diri sehingga dapat mengisi waktu dan kesempatan yang tersisa dengan amal kebajikan yang bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Amin.
Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat