Saat Silent Treatment Menjadi Kebiasaan dalam Keluarga

KUNINGAN (MASS) – Keluarga seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman untuk bercerita, berbagi keluh kesah, dan saling menguatkan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah. Saat marah atau kecewa, ada orang yang memilih diam dan menghindari percakapan dengan anggota keluarganya.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah silent treatment, yaitu sikap mendiamkan seseorang secara sengaja karena merasa kesal, kecewa, atau terluka. Tanpa disadari, hal seperti ini cukup sering terjadi di banyak keluarga, baik antara suami dan istri, orang tua dan anak, maupun antar saudara. Bahkan, ada yang menganggap diam lebih baik daripada berbicara karena takut masalah menjadi semakin besar.

Padahal, tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan didiamkan. Ketika komunikasi berhenti, kesalahpahaman justru lebih mudah muncul. Perasaan yang dipendam terlalu lama juga bisa membuat hubungan yang sebelumnya hangat perlahan menjadi renggang. Kadang yang membuat hubungan terasa jauh bukan karena masalah yang besar, melainkan karena tidak ada yang mau mulai membicarakannya.

Pandangan Islam tentang Komunikasi

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Komunikasi yang baik menjadi salah satu cara untuk menjaga keharmonisan dan menghindari permusuhan.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan (memboikot) saudaranya sesama muslim lebih dari tiga malam. Mereka berdua bertemu, namun yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari no. 6237 dan Muslim no. 2560)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menganjurkan sikap saling mendiamkan dalam waktu yang lama. Diam memang bisa menjadi cara untuk menenangkan diri ketika emosi sedang memuncak, tetapi bukan untuk memelihara kebencian atau menyakiti perasaan orang lain.

Selain itu, Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 114 yang menjelaskan bahwa mendamaikan manusia termasuk perbuatan yang membawa kebaikan. Pesan ini menunjukkan bahwa setiap konflik seharusnya diarahkan kepada perdamaian dan penyelesaian, bukan dibiarkan berlarut-larut.

Dampak yang Sering Tidak Disadari

Sebagian orang menganggap silent treatment sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam keluarga. Ada yang memilih diam karena ingin menenangkan diri, tetapi ada juga yang melakukannya karena merasa kecewa dan enggan membicarakan masalah yang sedang dihadapi. Jika berlangsung terlalu lama, kebiasaan ini dapat membuat hubungan menjadi kurang harmonis. Komunikasi yang mulai renggang sering kali memunculkan berbagai kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dihindari.

Tidak sedikit persoalan dalam keluarga yang bermula dari hal sederhana. Kesibukan, perbedaan pendapat, atau ucapan yang kurang tepat bisa menjadi pemicunya. Sayangnya, ketika tidak ada yang berinisiatif membuka pembicaraan, masalah kecil tersebut dapat terus berlarut-larut. Perasaan yang tidak tersampaikan akhirnya tersimpan sendiri dan membuat suasana dalam keluarga menjadi canggung. Padahal, sebuah percakapan yang dilakukan dengan baik sering kali mampu mencegah masalah berkembang lebih jauh.

Membangun Kembali Kehangatan Keluarga

Di era sekarang, berkomunikasi sebenarnya menjadi semakin mudah. Namun, tidak sedikit orang yang justru lebih mudah bercerita kepada orang lain daripada kepada keluarganya sendiri. Akibatnya, banyak perasaan yang dipendam dan tidak pernah benar-benar disampaikan.

Dalam ajaran Islam, menjaga hubungan baik dengan keluarga merupakan bagian dari akhlak yang mulia. Meminta maaf, memaafkan, dan mau saling mendengarkan adalah sikap yang perlu dibiasakan. Hubungan yang baik sering kali lebih berharga daripada mempertahankan ego.

Saat terjadi masalah, memulai percakapan memang tidak selalu mudah. Namun, suasana yang sempat renggang sering kali bisa membaik ketika ada yang bersedia membuka komunikasi terlebih dahulu. Tidak ada keluarga yang selalu bebas dari masalah. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, menjadikan silent treatment sebagai kebiasaan bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan.

Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk menjaga silaturahmi dan memperbaiki hubungan ketika terjadi perselisihan. Karena itu, saat masalah datang, yang dibutuhkan bukan saling mendiamkan, melainkan keberanian untuk mulai berbicara dan saling memahami.

Oleh: Shilvia Marcelani Nurhika, Mahasiswa STISHK Prodi Hukum Ekonomi Syariah Semester 6