Mendalami Nilai Luhur Pengorbanan Nabi Ibrahim dalam Konteks Menyaksikan Kesabaran dan Ketangguhan Warga Palestina – Gaza

Sumbangsih untuk Khutbah Idul Adha 1447 H

Bismillah

Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمْد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِينَ عِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً أَرْجُو بِهَا الفَوْزَ يَوْمَ المَزِيدِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ مَنْ صَامَ وَصَلَّى وَحَجَّ وَوَحَّدَ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ma’asyiral muslimin, jamaah Idul Adha rahimakumullah.

Bahwa sesungguhnya Hari ini, di pagi yang penuh berkah ini, kita berkumpul dalam balutan takbir yang menggema, memuji kebesaran Allah atas nikmat iman dan Islam. Hari ini adalah hari raya kurban, peringatan akan ketaatan luar biasa Nabi Ibrahim, yang rela menyembelih putra tercintanya, Ismail Alaihi salam, dan bagaimana Allah menggantikannya dengan seekor domba yang agung.

Ini adalah puncak pengorbanan seorang ayah dan kesabaran seorang anak.

Inilah puncak dari ketaatan total kepada perintah Allah, yang tak terjangkau oleh nalar manusia biasa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Namun demikian, saudaraku sesama muslim dimanapun berada, di tengah gemuruh takbir kita, ada suara lain yang tak kalah kerasnya menggema jauh disana di kejauhan. Suara bom, suara dinding yang runtuh, suara tangisan anak-anak yang kehilangan ayah ibu mereka, dan suara rintihan warga Gaza tertimpa luka yang terasa berat terobati.

Itulah suara dari Palestina.

Itulah suara saudara kita dari Gaza.

Itulah suara saudara kita dari Lebanon.

Saudara-saudara kita sesama muslim yang tercabik-cabik oleh kedzaliman kebiadaban dari teroris Zionis Tentara Israel dipimpin Raja Teroris Zionis : Netanyahu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ma’asyiral muslimin,

Seringkali media dan narasi global menggambarkan saudara kita di Palestina sebagai “korban kemanusiaan” yang pasif; orang-orang yang teraniaya, lapar, dan terluka. Tentu secara faktual itu benar.

Namun, jika kita hanya berhenti di situ, kita telah salah memahami hakikat perjuangan mereka.

Saudara-saudara kita di Gaza, di Tepi Barat, di Lebanon yang terusir, adalah bentuk paling nyata dari pengorbanan mencari nilai luhur membela tanah air dan agama. Mereka bela agama, bela negara dan mereka tidak mati dalam tidur.

Mereka tidak mati dalam kelalaian.

Mereka mati dalam posisi terhormat: menghadapi musuh yang biadab, mereka mempertahankan rumah, mesjid, lembaga pendidikan tempat mencetak anak bangsa yang faham untuk bela negara adalah ahlaq terpuji, karena mereka sudah terpatri jiwa raganya bahwa salah satu hal penting yang perlu dicatat dimana pendidikan itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam bahasa agama kita, mereka adalah para pejuang yang mengharapkan mati syahid.

Bukan korban yang teraniaya biasa. Mereka dengan kesadaran penuh menghadapi gempuran rudal dengan dada yang terbuka, dengan hati yang bertasbih, dan dengan lisan yang bertakbir.

Allah berfirman dalam kitab suci-Nya yang agung:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169).

Ya Allah, kami bersaksi: Mereka anak-anak yang dibombardir dengan biadab oleh teroris zionis israel, yang tertimpa reruntuhan di Gaza, Lebanon, Iran, mereka yang kedua orang tuanya dan anak-anaknya mati syahid, sesungguhnya mereka hidup di sisi Allah ar-rahmani ar-rahimi…

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah.

I’dul Adha mengajarkan kita satu kata kunci: KETAATAN. Nabi Ibrahim taat meskipun harus menyembelih darah dagingnya sendiri. Disisi lain, Ismail taat meskipun dirinya faham atas tugas suci ayahnya. Itulah puncak pengorbanan.

Oleh sebab itu hari ini, kita melihat bayangan nyata dari kisah Nabi Ibrahim, tertuju pada diri warga Palestina- Gaza, Lebanon, Iran.

1.Harta di Dunia mereka jadikan langkah fiisabilillah Sebagaimana Nabi Ibrahim rela meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah kering dan warga Gaza, Lebanon rela meninggalkan rumah dan harta mereka karena perintah Allah untuk berjihad di jalan Allah dilandasi sikap bela negara, cinta tanah air dan bangsa, mereka tidak rela dijajah asing dalam segala bentuknya.

Militansi mereka di Iran, Gaza, Lebanon, sungguh sangat luar biasa dengan sumpahnya: Padamu Negeri Jiwa Raga Kami siap berjihad.

2.Anak-anak mereka di Iran, Gaza, Lebanon, mengikuti jejak Ismail, ikhlas, karena yaqin Allah ar-rahmani ar-rahimi.

Berapa banyak ibu-ibu di Palestina yang memeluk jasad anaknya yang hancur terkena bom teroris tentara zionis Israel.

Apakah mereka menangis histeris? Iya.

Tetapi setelah itu, mereka masih bisa mengangkat kepalanya dan berbisik: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, terimalah anakku sebagai qurban di jalan-Mu.” Inilah yang mesti hadir penerus generasi Ibrahim, penerus generasi Ismail-ismail muda di zaman modern yang dikhawatirkan mengarah ke arah melupakan Allah.

3.Mereka tidak meminta ganti rugi. Mereka meminta takbir. Orang zalim menawarkan uang, jabatan, dan tanah untuk meninggalkan tanah air. Namun mereka (muslim Palestina – Gaza -Lebanon) menolak. Seperti Ibrahim yang menolak bujukan setan ketika hendak menyembelih Ismail. Mereka warga Palestina, Lbanon, konsisten dan istiqamah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Kita harus berani menyuarakan kebenaran.

Zionis Israel dan para pendukungnya menyebut pejuang Hamas, pejuang Jihad Islam, dan seluruh faksi perlawanan Palestina sebagai “teroris”.

Kita tolak sebutan itu ! Justru Zionis Israel itulah sebenarnya teroris !

Teroris adalah mereka yang merebut tanah orang lain dengan paksa.

Teroris adalah mereka yang membom rumah sakit dan sekolah.

Teroris adalah mereka yang membiarkan anak-anak kelaparan di tengah gurun.

Teroris adalah Israel dan sekutunya.

Sementara warga Palestina yang berjuang adalah pejuang kemerdekaan, adalah mujahid fi sabilillah, adalah pasukan bela negara yang sah. Mereka mempertahan kan apa yang menjadi hak mereka sejak ribuan tahun secara spiritual dan ratusan tahun dalam konteks modern.

Mereka adalah the real defenders of humanity.

Hadirin rahimakumul lah,

Saat kita menumpahkan darah hewan kurban, jangan sampai hati kita lebih keras dari hati orang-orang kafir. Darah domba itu mengingatkan kita pada darah para syuhada Iran, Gaza dan Lebanon yang tak pernah berhenti mengalir.

Jangan biarkan darah itu sia-sia.

Jadikan ibadah kita hari ini sebagai energi untuk terus mendukung perjuangan mereka dengan doa, bantuan yang manfa’at dan suara ikhlas bahwa kedzoliman pada waktunya akan bertemu dengan kehancuran yang maha pedih.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saudaraku, jangan kira nyawa para syuhada itu hilang begitu saja. Mereka kini berada di tempat yang paling mulia. Mereka sedang tersenyum melihat kita yang masih terlelap. Mereka sudah sampai, sementara kita masih dalam perjalanan yang panjang.

Maka, mari kita jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momen revolusi jiwa. Korbankan ketakutan kita. Korbankan kenyamanan kita.
Korbankan sikap diam kita. Bersuara untuk Palestina -Gaza, Lebanon, Iran, bukanlah tindakan politik semata, tetapi itu adalah kewajiban iman. Karena Nabi Muhammad Rasul Allah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka dia bukan dari golongan mereka.”

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَلِلَّهِ الْحَمْد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumul lah.

Saya ingin mengajak kita sejenak merenung. Banyak di antara kita hari ini yang dengan mudahnya menyembelih kambing atau sapi, merapatkan saf, dan pulang dengan perut kenyang. Apakah ini makna Idul Adha yang sebenarnya?

TIDAK. Idul Adha bukanlah pesta daging. Idul Adha adalah momentum melatih jiwa untuk siap berkorban. Dan di masa ini, ada umat muslim yang pantas disebut “ahli qurban” itulah saudara kita di Palestina, Lebanon, Iran.

Mereka mengorbankan rasa aman. Mereka mengorbankan masa depan anak-anaknya. Mereka mengorbankan segalanya. Dan sebagai gantinya, Allah beri mereka mahkota syahadah, mahkota yang paling berat timbangannya di hari kiamat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Mari kita introspeksi. Di mana posisi kita di hadapan Allah saat melihat saudara kita dibantai dengan biadab?

Kita di Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, harus bertindak lebih dari sekadar “mengecam” dan “meminta gencatan senjata”. Kita harus menggerakkan kekuatan politik, ekonomi, dan diplomasi untuk:

1.Memutus segala bentuk hubungan ekonomi dengan entitas yang mendukung penjajahan Israel.

2.Melanjutkan mengirimkan bantuan kemanusiaan yang besar secara konsisten.

    3 Mengangkat isu Palestina sebagai isu utama diplomasi luar negeri.

    4.Jangan pernah mengakui eksistensi Israel sebagai negara untuk menguasai dunia

    Saya berharap kepada Menteri Agama RI, PP MUI, PB NU, PP Muhammadiyah, PP SII, PB PUI, PP GPI, dan seluruh komponen bangsa yang hadir secara rohani di majelis idul adha tahun ini melalui teks khutbah ini: Jadikanlah pembelaan terhadap Palestina sebagai prioritas tertinggi.

    Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.

    Kita adalah umat yang satu. Satu keyakinan, satu kiblat, satu tujuan. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam. Gaza sekarang sedang demam berat. Lebanon sedang merintih. Maka, tubuh kita (umat Islam sedunia) harus ikut merasakan sakitnya.

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa. Turunkanlah pertolongan-Mu untuk saudara-saudara kami di Palestina- Gaza, dan Lebanon.

    Hancurkanlah kedzaliman teroris Zionis Israel dan sekutunya. Bebaskanlah Masjid Al-Aqsha dari kenajisan penjajah. Kembalikanlah tanah mereka, pulihkanlah jiwa anak-anak mereka, dan terimalah para syuhada mereka di tempat yang mulia di sisi-Mu.

    Ya Allah, berilah kekuatan kepada mujahidin di setiap jengkal tanah Palestina. Jangan Kau biarkan mereka sendirian. Satukanlah hati umat Islam di dunia untuk bersatu melawan penindasan.

    Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga melalaikan panggilan saudara kami. Jadikanlah kami umat yang peduli, umat yang berkorban, dan umat yang pantas mendapatkan pertolongan-Mu.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

    Hadanallahu
    Waiyyakum Ajma’in

    A. Dadang Hermawan

    *) Mantan Wk. Sekretaris Jenderal Lajnah Tanfidziyah : DPP PSII-1905 : Periode 1998/2003).

    #

    27 Mei 2026