Pilihlah Tradisi yang Tepat

KUNINGAN (MASS) – Setiap hari, kita tanpa sadar sedang menulis sejarah. Bukan dengan tinta, tapi dengan kebiasaan dan tradisi yang kita mulai, kita teruskan, atau kita wariskan.

Hikmatul Yaum: “Membuat tradisi baik mengantarkan kepada amal jariyah, sedangkan membuat tradisi buruk mengantarkan kepada dosa jariyah”.

Kalimat ini bukan sekadar nasihat. Ini adalah alarm bagi hati kita. Sebab di alam kubur, amal manusia akan terputus. Kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.

Rasulullah SAW bersabda:  “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah, tradisi baik yang kita mulai hari ini bisa menjadi “sedekah jariyah” dan “ilmu yang bermanfaat” yang pahalanya terus mengalir. Mendirikan kajian rutin di masjid, membiasakan sedekah subuh, mengajarkan adab kepada anak semua itu adalah benih amal yang tidak akan mati.

Sebaliknya, tradisi buruk juga tidak akan mati. Membiasakan ghibah di grup WA keluarga, menunda shalat berjamaah, atau membiarkan anak-anak tumbuh tanpa didikan agama, akan menjadi dosa yang terus berjalan. Kita sudah tiada, tapi dosanya masih mencatat.

Maka, tanyakan pada diri kita: tradisi apa yang sedang kita tanam untuk panen di akhirat nanti? Jangan tunggu “nanti”. Mulailah dari diri, dari keluarga, dari kebiasaan kecil yang konsisten. Karena satu tradisi baik, bisa menyelamatkan generasi.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar mampu membangun tradisi kebaikan sehingga layak mendapatkan pahala jariyah dan terhindar dari dosa jariyah. Amin.

Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat