KUNINGAN (MASS) – Suasana di depan Balai Desa Kalimanggis Kulon, Kecamatan Kalimanggis, mendadak tegang pada Senin (20/4/2026). Ratusan warga yang datang dari berbagai sudut desa tampak mengepung kantor desa untuk menyampaikan mosi tidak percaya kepada pimpinan mereka. Dalam aksi damai tersebut, masyarakat menuntut Kepala Desa (Kuwu) Wahidi untuk segera melepaskan jabatannya.
Aksi yang berlangsung sejak pagi ini akhirnya membuahkan hasil sesuai keinginan massa. Kuwu Wahidi tampak pasrah dan menyatakan menerima aspirasi rakyatnya yang menuntut dirinya untuk “lengser”. Di hadapan ratusan pasang mata, Wahidi menyampaikan kesiapannya untuk mundur demi menjaga kondusivitas desa yang ia pimpin.
Pasca aksi, Sekretaris Forum Masyarakat Kalimanggis Kulon, Suprianto, memaparkan alasan mendalam di balik desakan mundur tersebut. Menurutnya, keputusan warga untuk mencabut mandat dari Wahidi adalah hasil evaluasi panjang terkait tata kelola pemerintahan desa yang dinilai banyak mengandung penyimpangan.
“Ini adalah beberapa kali aku mengajukan pengunduran diri dikarenakan apa yang pertama tata kelola desa yang setelah kami analisa, setelah kami evaluasi banyak penyimpangan penyimpangan dan itu sudah kami rumuskan. Ya sudah kami jelaskan tentang penyimpangan penyimpangan tersebut. Jadi akhirnya akumulasi dari aksi tersebut. Hari ini kami melakukan aksi damai,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com pasca aksi.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah kebijakan pembangunan dua menara telekomunikasi (tower) yang dianggap tidak menempuh prosedur perizinan yang benar. Warga menilai pembangunan tersebut mengabaikan aspek keselamatan lingkungan dan keamanan masyarakat sekitar.
“Penyimpangan yang pertama adalah kebijakan lahirnya Tower 1 dan Tower 2 yang tidak memenuhi ijin mengabaikan keselamatan warga,” tambahnya.
Selain masalah perizinan, pengelolaan dana desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi bumbu utama dalam protes ini. Warga mencontohkan keanehan pada unit usaha ternak kambing BUMDes yang jumlahnya terus berkurang. Dari awalnya memiliki 30 ekor, menyusut hingga 16 ekor, dan kini dilaporkan kosong.
“Yang kedua, pengelolaan dana desa, yang ketiga BUMDes. Pengelolaan BUMDes. Itu yang kami kejar, Awalnya kambing ada 26 sampai kemudian 16, sampai kemudian sekarang kosong,” paparnya. (raqib)