KUNINGAN (MASS) – Kepala Seksi Bimas Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, Ridlo Maulana, menyoroti meningkatnya fenomena ketakutan menikah di kalangan generasi muda, yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi hingga media sosial.
Menurut Ridlo, media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi memberikan informasi dan edukasi, namun di sisi lain juga memperlihatkan berbagai masalah rumah tangga seperti perceraian dan kesulitan ekonomi yang justru menimbulkan ketakutan.
“Informasi di media sosial sering dijadikan dasar untuk tidak menikah, padahal seharusnya dijadikan pembelajaran agar kita tidak mengalami hal yang sama,” ujar Ridlo di tempat kerjanya, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, munculnya tren seperti memilih tidak memiliki anak (childfree) juga dinilai mulai bergeser dari tujuan utama pernikahan, yaitu melanjutkan keturunan.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi penyebab keretakan rumah tangga yang kerap disorot publik.
Ridlo mengingatkan pentingnya keyakinan rezeki telah diatur oleh Tuhan, sehingga masyarakat tidak perlu terlalu takut menikah. Yang terpenting adalah terus berusaha dan mencari peluang.
“Kalau satu usaha belum berhasil, coba bidang lain. Kita sudah dibekali akal untuk berpikir dan mencari jalan,” katanya.
Terkait biaya pernikahan, Ridlo juga menanggapi fenomena resepsi mewah yang justru membebani pasangan setelah menikah. Ia mengimbau agar masyarakat tidak berlebihan dan lebih bijak dalam mengalokasikan biaya.
“Sering kali resepsi dibuat besar, tapi setelah itu justru kesulitan ekonomi. Lebih baik dana digunakan untuk memulai kehidupan rumah tangga,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ada larangan untuk menggelar resepsi mewah selama kondisi finansial mencukupi.
“Kalau memang mampu dan kebutuhan setelah menikah sudah aman, silakan saja. Yang penting jangan memaksakan,” pungkasnya. (didin)