KUNINGAN (MASS) – Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Ia mengkalibrasi qolbu. Menghidupkan jiwa melembutkan hati. Menjadi lebih peduli dan empati.
Saat perut kosong, kita mulai memahami apa yang setiap hari dirasakan oleh fakir miskin. saat tenggorokan memgering, kita belajar makna seteguk air bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Dan dari sinilah muncul dorongan untuk memberi dan berbagi sebagi ekspresi peduli dan empati.
Ramadhan Bulan SEDEKAH
Di dalam Islam, kerelaan memberi (harta maupun non-harta) dari seorang muslim kepada pihak lain dengan niat ikhlas mencari rida Allah SWT dikenal dengan sedekah. Kata ini berasal dari akar kata Arab sidq yang berarti ketulusan dan kejujuran hati. Lebih lanjut di masyarakat kita perbuatannya disebut derma, orangnya disebut dermawan.
Rasulullah SAW adalah manusia paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah musim semi bagi kebaikan. Bagi kedermawanan. Siapa yang menanam, akan panen raya. Pahala berlipat lipat digandakan. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk sedekah.
Sedekah bukan soal jumlah. Ini perkara Iman. Ini tentang cinta. Maka, orang bisa bersedekah dengan uang. Bersedekah dengan makanan berbuka. Bersedekah dengan tenaga. Bersedekan dengan gagasan. Atau bersedekah dengan doa yang diam-diam. Khusus soal harta, ramadhan mengajarkan kita bahwa harta bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk mengalir. Air yang mengalir itu bersih dan sehat. Harta yang mengalir itu berkah.
Sedekah secara umum dibagi dua. Sedekah wajib dan sedekah sunah. Sedekah wajib sebagaimana termaktub dalam QS at Taubah ayat 60 adalah ZAKAT. Pemberinya disebut muzakki. Penerimanya disebut mustahik yang terbagi dalam 8 asnaf atau kelompok. Kewajibannya keluar setelah kepemilikan satu tahun (haul).
Zakat pun secara umum terbagi dua, zakat fitrah yang hanya ada di bulan ramadhan dan zakat maal atau harta. Sedangkan sedekah sunah, bisa kapan saja. Bisa siapa saja. Dan bisa untuk siapa saja sesuai kebutuhan dan haknya.
Yuk BERZAKAT !!!
Sebagai salah satu rukun Islam. Zakat wajib ditunaikan. Di dalam Al-Qur’an, perintah berzakat sering kali disandingkan dengan perintah sholat. Ada 30 kali penyebutan kata zakat di dalam Al-Qur’an dan 27 kalinya disandingkan dengan kata shalat. Banyaknya pengulangan ini menunjukkan bahwa shalat dan zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam bangunan Islam.
“Shalat merupakan ibadah fisik yang berkaitan dengan pemenuhan hak dari seorang hamba kepada Allah (hablum minallah), sementara zakat merupakan ibadah harta yang berkaitan dengan pemenuhan hak sesama manusia (hablum minan naas),”
Secara bahasa, zakat berasal dari kata zakaa-yazuuku-zakatan yang artinya murni, bertambah, dan suci. Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta yang diambil dari jenis harta tertentu yang wajib diserahkan kepada golongan manusia tertentu dengan syarat-syarat tertentu.
Manfaat ZAKAT
Untuk para Muzakki. Menghilangkan watak RAKUS dan KIKIR yang menempel pada harta.
Begitu banyak hikmah berzakat. Selain mendapat pahala berlipat dan tempat terbaik disisi Allah SWT. Bahwa, ada watak bawaan yang menempel pada harta. Harus dikenali. Harus diwaspadai. Dimana tidak ada seorang pun manusia yang kebal akan dua watak ini. Siapapun ia, sebagai apapun. Diposisi apapun. Pejabat tertinggi atau rendahan. Siapapaun, termasuk aparatur penegak hukum. Yaitu watak rakus dan kikir.
Rakus atau serakah, muncul pada harta di saat mencarinya. Suatu keinginan berlebih. Ini penyakit hati, bahkan kelainan jiwa. Ditandai dengan ketidakpuasan dan keinginan berlebihan terhadap harta. Bahkan cenderung menghalalkan segala cara. Jika dibiarkan dapat memicu kerusakan sosial. Zalim, koruptif dan merusak alam.
Kikir atau bakhil muncul pada saat menggunakan atau membagikannya. Rasa berat untuk membagi atau mengalirkan maslahat harta. Kombinasi antara takut dan hilangnya empati. Orang jenis ini sulit bahagia. Ia tidak tahu cara membahagiakan. Ia tidak akan mendapat pantulan bahagia. Kekikiran menjauhkan seseorang dari keberkahan dan kebahagiaan sejati yang bersumber dari memberi.
Nah, sebagaimana ditegaskan QS at Taubah ayat 103, maka zakat mampu membersihkan dan mensucikan harta dari sifat serakah dan kikir ini. Kebahagiaan dan kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang dikumpulkan (serakah) atau ditahan (kikir) untuk diri sendiri, melainkan dari apa yang ditinggalkan dan dibagikan kepada orang lain dan lingkungan alamnya.
Untuk para Mustahik. Menebalkan keimanan, kesabaran dan ketulusan mendoakan.
Saat menerima zakat laksana menerima sebutir kasih dari Ilahi. Simbol empati imani. Bersih dan suci karena Allah semata. Sebentuk cinta muzakki ini akan menghidupkan hati para mustahik. Kita tahu bahwa kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. Ujian ketiadaan sumberdaya materi sangat dekat dengan kufur. Naudzubillah.
Perhatian, keberpihakan dan tanggungjawab sebagai ekpresi cinta para muzakki akan sangat membantu para mustahik bertahan bahkan melalui masa sulit ujian kefakiran. Dalam kesabaran yang panjang saat diuji. Mereka akan selalu tulus mendoakan kebaikan, keselamatan dan keberkahan saudaranya yang lebih beruntung secara sumberdaya.
The Power of GIVING
Ternyata begitu ajaib kekuatan memberi. Semuanya ingin memberi. Sebagai muzakki ataupun mustahik. Nyatanya, semakin kita memberi, justru hati semakin tenang dan berseri. Semakin kita berbagi, justru hidup terasa ringan dan tercukupi. Itu karena sesungguhnya, yang kita berikan tidak pernah hilang. Yang kita bagi tidak pernah pergi. Ia sedang menunggu kita di akhirat.
Jangan tunggu kaya, berdaya, berilmu dan berpengaruh untuk bersedekah. Justru bersedekahlah agar Allah cukupkan, berdayakan, luaskan dan maslahatkan. Ramadhan pasti akan pergi. Tapi sedekah dan zakat yang kita lakukan, tidak pernah pergi. Ia menetap. Ia tumbuh. Ia menunggu. Kelak ia akan menjadi tabungan dan bekal yang membanggakan penuh kesyukuran.
Berkah ZAKAT
Zakatlah instrumen agama untuk membersihkan dan mensucikan harta. Dari proses dan etika mendapatkan. Serta cara menggunakan atau mendistribusikannya. Memberangus sifat serakah dan kikir. Memantapkan sifat zuhud dan qona’ah. Juga ikut menyelesaikan masalah sosial ekonomi dan kemiskinan.
Zakat mendidik para muzakki menjadi para pencipta sumberdaya materi yang dermawan dan rendah hati. Zakat membentuk para mustahik menjadi sabar dan ikhlas atas keterbatasan. Zakat menjadikan orang kaya unggul dalam kedermawanan harta. Dan dhuafa unggul dalam kedermawanan doa.
Zakat mempersaudarakan muzakki dan mustahik dalam silaturahim agung. Perkawanan para pencinta sejati. Saling respek, rendah hati, syukur dan support. Menciptakan kohesi sosial yang kokoh. Menjadi social capital yang produktif. Modal dasar lahirnya ekosistem kedermawanan.
Para Muzakki yang soleh dan dermawan khusyu’ berdoa, sebagaimana diajarkan sang rasul saw. “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk mampu berbuat baik, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Ampunilah aku dan rahmatilah aku…,”
Sabda nabi saw menguatkan kesadaran. “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, sholat dan keikhlasan mereka.”
Disinilah fakta imani berbicara. Dimana orang-orang lemah lebih ikhlas dalam berdoa. Lebih khusyu’ dalam ibadah. Karena hati mereka sangat sedikit bergantung dengan materi dan hirup pikuk kehidupan dunia.
Hidup itu terkadang naik turun. Sekarang kaya besok jatuh miskin. Atau sebaliknya. Sekarang berjaya besok terpuruk. Disinilah Zakat membentuk mentalitas mukmin sejati. Muttaqun. Apabila diuji dalam kejayaan ia bersyukur, dan bila diuji dalam keterpurukan ia bersabar. Bukankah yang paling mulia disisi yang maha kaya adalah orang bertakwa. Di status ekonomi apapun ia.
Wallahu ‘alam bishawab.
Yuk menjadi ahli sedekah, Yuk Segera Tunaikan ZAKAT
Iman Priatna Rahman (Pembelajar & Pemberdaya Kuningan)












