KUNINGAN (MASS) – Di balik tambang batu Cileuleuy yang kini ditutup, terdapat banyak kisah keluarga penambang batu yang menggantungkan hidup pada aktifitas tersebut. Salah satunya adalah Rahmat. Pada kuninganmass.com ia banyak bercerita tantangan yang dihadapi dan kenapa bertahan selama bertahun-tahun jadi penambang.
Rahmat, yang usianya tak lagi muda, 65 tahun, mengaku merasa lelah dengan pekerjaan tambang, namun ia tetap melakukannya demi memenuhi kebutuhan hidup. “Pekerjaan memang capek. Cuman kan beban kebutuhan hidup, apalagi sekarang menghadapi bulan puasa,” ujarnya.
Ia khawatir apa yang terjadi jika tambang ditutup, karena dampaknya tidak hanya akan dirasakan olehnya, tetapi juga oleh anak-anak yang ikut menambang beserta seluruh keluarganya. “Anak-anak yang nambang juga mengandalkan pekerjaan ini,” kata Rahmat.
Meski tak setangguh dulu, Rahmat adalah sosok yang bertanggung jawab sebagai pencari nafkah untuk keluarga, termasuk cucu-cucunya yang berjumlah lima.
“Saya udah umur 65, cucu juga sudah ada lima, tapi masih kuat kerja, kalau ada perubahan mah ya bisa dari yang lain gitu. Jadi tolong dibantu agar tahu penambang itu sebenarnya sulit,” ujarnya.
Ia merasakan betapa kerasnya hidup sebagai penambang, walaupun keberadaan tambang memberikan lapangan pekerjaan.
“Terus ada yang memberi lahan itu kan punya orang itu memberi. Bersyukur. Saya bersyukur itu yang ngasih lahan pekerjaan. Kalau bayarnya ke yang punya lahan per 100.000 per truk,” jelasnya.
“Kalau tanahnya pribadi, mobilnya pribadi ya lumayan terhubung. Jadi tolong bapak jangan memojokkan penambang itu. Minimal ya tolonglah. Harus ada solusinya,” pintanya. (raqib)







