KUNINGAN (MASS) – Dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah menghadapi paradoks kesejahteraan yang tajam. Di tengah upaya transformasi birokrasi, muncul anomali sosiologis terkait stratifikasi ekonomi: jurang pemisah (gap) yang lebar antara pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan para guru honorer.
Perspektif Freirean: Pendidikan yang Membebaskan atau Menindas?
Dalam mahakaryanya, Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan (humanization). Namun, ketika sistem pendidikan justru melanggengkan struktur yang tidak adil terhadap para pendidiknya sendiri, maka institusi tersebut sedang mempraktikkan “kekerasan sistemik”.
Ketimpangan antara pegawai SPPG yang memiliki stabilitas regulasi dengan guru honorer yang berada dalam kondisi prekariat adalah bentuk nyata dari devaluasi profesi guru. Paulo Freire mengingatkan bahwa guru tidak dapat membebaskan pikiran muridnya jika ia sendiri masih terbelenggu oleh kecemasan akan pemenuhan kebutuhan dasar (ontologis). Ketimpangan ini menciptakan dikotomi antara mereka yang “terjamin secara administratif” dan mereka yang “terabaikan secara fungsional”.
Suara dari Ruang Kelas
Mengajar siswa di sekolah itu mudah, semua orang bisa. Yang sulit itu memasak makanan tengah malam, mencuci peralatan (ompreng) dan mengantar makanan dengan pendistribusian harus tepat waktu. Makanya wajar kalau gajinya 2 juta per bulan, yang tidak wajar itu guru honor yang gajinya 300 ribu per bulan. Itu yang tidak wajar.
Secara psikologi industri, ketidakadilan distributif (distributive injustice) memicu demotivasi kronis. Bagaimana mungkin seorang guru dapat melakukan transfer pengetahuan (knowledge transfer) secara optimal jika ia mengalami apa yang disebut Freire sebagai alienasi? Ketimpangan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan ancaman terhadap kualitas generasi mendatang.
Menutup narasi ini, selama ketimpangan antara pegawai SPPG dan guru honorer tetap dibiarkan tanpa intervensi kebijakan yang berkeadilan, maka visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi “pendidikan gaya bank” (banking concept of education) yang dikritik Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan kaum tertindas” sebuah sistem yang hampa karena gagal memanusiakan manusianya.
Oleh: Febriansyah Darmawan, Mantan Ketua Front Mahasiswa Islam (FMI) Kuningan











