KUNINGAN (MASS) – Langkah kecil sering kali membawa pesan besar. Ketika Tuti Andriani terlihat membuka pre-order bakso lewat status WhatsApp, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai hal biasa. Tapi jika ditarik lebih dalam, ini justru menjadi simbol kuat tentang kepemimpinan yang membumi.
Di tengah budaya birokrasi yang kerap dibungkus formalitas dan jarak sosial, sikap seperti ini memberi pesan bahwa jabatan bukan alasan untuk kehilangan kedekatan dengan realitas masyarakat. Justru sebaliknya, seorang pemimpin tetap bisa produktif, sederhana, dan tidak gengsi untuk menjalani aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat.
Ada nilai edukasi yang tersirat: bahwa gengsi bukan ukuran kehormatan. Banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa citra harus dijaga dengan tampilan “tinggi”, padahal yang lebih penting adalah kejujuran dalam menjalani hidup dan memberi contoh nyata. Ketika seorang wakil bupati saja menunjukkan bahwa usaha kecil seperti berjualan bakso adalah sesuatu yang wajar dan terhormat, maka stigma sosial tentang “malu berusaha” perlahan bisa terkikis.
Lebih dari itu, ini juga menjadi pesan ekonomi yang kuat. Di saat pemerintah mendorong UMKM untuk bangkit dan mandiri, keteladanan seperti ini jauh lebih efektif daripada sekadar slogan. Pemimpin yang ikut merasakan langsung dinamika usaha kecil akan lebih paham denyut ekonomi rakyatnya.
Citra pemimpin tidak dibangun dari kemewahan, tetapi dari keteladanan. Dan dalam konteks ini, apa yang dilakukan Tuti Andriani adalah bentuk komunikasi publik yang jujur: bahwa menjadi sederhana bukan berarti rendah, justru di situlah letak kemuliaan.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang benar-benar “bergengsi” bukanlah apa yang ia tampilkan, tetapi nilai yang ia tanamkan.
Oleh : Dadan Satyavadin, Pemerhati Kebijakan Publik.
















