Sambangi Kampung Cirendeu, Tim Peneliti UM Kuningan Eksplorasi bentuk-bentuk Etnomatematika di Kampung Adat

CIMAHI (MASS) – Tim Peneliti Universitas Muhammadiyah Kuningan dari Prodi Pendidikan Matematika yang mendapatkan Hibah Penelitian Funfamental Reguler (PFR) dalam skema multitahun dari DPPM Kemendiktiristek, melanjutkan penelitian tentang bentuk-bentuk etnomatematika di Kampung Adat Cirendeu Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi. Tim PFR yang diketuai oleh Dr Uba Umbara, M.Pd., M.M yang beranggotakan Evan Farhan Wahyu Puadi, M.Pd dan Tio Heriyana, M.Pd memulai program penelitian di Kampung Cirendeu pada 23 April 2026 lalu.

Kampung Adat Cireundeu sendiri merupakan salah satu Kampung adat di Jawa Barat yang masih memegang kuat ajaran leluhur. Kampung yang terdiri dari 50 kepala keluarga dengan sekitar 800 jiwa memiliki mata pencaharian utama sebagai petani ketela (Sampeu;red). Kampung Adat Cireundeu sendiri memiliki luas 64 ha terdiri dari 60 ha untuk pertanian dan 4 ha untuk pemukiman.

Sebagian besar penduduknya memeluk dan memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan hingga saat ini selalu konsisten dalam menjalankan ajaran kepercayaan serta terus melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah turun-temurun dari nenek moyang mereka. Salah satu ciri khas dan keunikan masyarakat Kampung Cirendeu adalah masyarakatnya yang konsisten mengkonsumsi rasi alias beras singkong (beras yang terbuat dari tepung singkong).

Hingga kini, masyarakat adat mengonsum­si singkong atau ketela yang disebut dengan rasi sebagai makanan pokok secara turun temurun. Diawali pada tahun 1918 ketika sawah-sawah yang mengering. Kemu­dian para leluhur menyarankan dan berpesan untuk menanamkan ketela sebagai pengganti padi karena tanaman ketela dapat dita­nam pada musim kering maupun musim hujan dan melihat ketersediaan lahan untuk menanam padi semakin sempit dan kecil, banyak sawah-sawah yang telah berganti gedung. Oleh karena itu, sampai saat ini sudah 108 tahun masyarakat Kampung Cirendeu tidak mengkonsumsi nasi.

Empat kalimat tersebut seolah merangkum sejarah konsumsi rasi alias beras singkong di Kampung Cireundeu yang hingga saat ini bertahan untuk tidak mengkonsumsi nasi. Hal tersebut membuat mereka mandiri soal pangan. Kehidupan di tempat tersebut bisa dibilang tak terpengaruh gejolak ekonomi-sosial, terutama soal fluktuasi harga beras.

Keterangan itulah yang disampaikan Ketua Tim Tim PFR Uba. Selain keunikan tersebut, kata Uba, Kampung Cirendeu juga disinyalir memiliki keunikan dalam struktur bangunan adat yang menjadi landmark dan kebiasaan dalam melakukan perhitungan-perhitungan (paririmbon) dalam aktivitas keseharian mereka sehingga menjadi alasan utama dipilih sebagai tempat penelitian. Ujar Uba.

“Berdasarkan hal tersebut maka penelitian yang bertujuan untuk meneksplorasi bentuk-bentuk etnomatematika sesuai dengan tujuan penelitian tim PFR,” ujarnya.

Uba menjelaskan bahwa etnomatematika adalah studi tentang cara masyarakat asli memahami, mengartikulasikan, dan menggunakan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari mereka sehingga hasil penelitian dapat diintegrasikan kedalam pembelajaran matematika di Sekolah. Dengan memanfaatkan konsep etnomatematika, penelitian diharapkan dapat menciptakan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan bagi siswa.

“Melalui penelitian ini, kami ingin menemukan cara-cara baru untuk mengajarkan matematika yang lebih dekat dengan pengalaman dan lingkungan siswa,” ujar Evan.

Senada, anggota tim Tio menambahkan bahwa pengembangan bahan ajar pembelajaran matematika berbasis pendekatan deep learning terintegrasi etnomatematika sunda sebagai tujuan utama penelitian dapat digunakan untuk memngambangkan kemampuan literasi matematis di sekolah. Deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan sebagai program kemendikdasmen tahun 2025. Deep learning merupakan bentuk inovasi yang berbeda dalam sifat dan cakupannya dengan pembelajaran lain dengan mengubah pembelajaran yang berfokus pada hal-hal yang bermakna melalui perubahan peran siswa, guru, keluarga, dan orang lain.

Integrasi literasi matematis ke dalam kurikulum menjadi bagian penting dalam inovasi pembelajaran matematika. Integrasi literasi matematis ke dalam kurikulum matematika memerlukan rekontekstualisasi yang membawa perubahan kriteria pencapaian tugas, namun perlu diperhatikan bahwa matematika yang dipelajari dan matematika yang perlu diketahui merupakan dua hal yang berbeda.

Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa tidak semua konten matematika dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena matematika memiliki kepentingan sosial budaya, ujar Uba memberikan penekanan yang rasional. Dikatakan, tim peneliti akan mendokumentasikan berbagai pola, bentuk, dan konsep matematika yang ditemukan dalam aktivitas budaya dan adat istiadat masyarakat Kampung Cirendeu.

Penelitian ini disambut baik oleh masyarakat Kampung Cirendeu. Guide Kampung Cirendeu, Kang Jajat, yang menyampaikan bahwa masyarakat sangat terbuka terhadap kegiatan ini dan berharap hasil penelitian dapat bermanfaat bagi generasi mendatang. Senada, Abah Widi selaku Ais Pangampih Kampung Cirendeu mengutarakan hal serupa.

 “Kami senang bisa berkontribusi dalam pengembangan pendidikan khususnya matematika yang berbasis pada budaya kami sendiri sekaligus berharap Kampung Cirendeu menjadi contoh bagi peneliti lain yang ingin datang ke Kampung kami,” tuturnya. (eki)