KUNINGAN(MASS) – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kuningan melalui Kabid Bina Marga membeberkan pemicu utama seringnya terjadi luapan air di jalur wisata. Kondisi saluran air atau drainase yang terlalu sempit di kawasan hulu menjadi akar masalah yang harus segera dibenahi.
Penjelasan teknis tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR Kuningan, Teddy Bisma. Ia menjelaskan untuk jalur utama Cisantana, tepatnya ruas jalan Cigugur menuju Palutungan, statusnya merupakan aset resmi milik Pemerintah Daerah. Namun, untuk akses lanjutan dari Simpang Palutungan menuju objek wisata Ipukan, statusnya adalah jalan non-kabupaten.
“Ruas Cigugur Palutungan merupakan aset pemerintah daerah, namun untuk akses strategis menuju objek wisata Ipukan dari Simpang Palutungan itu memang kawasan wisata yang statusnya non jalan kabupaten,” tuturnya kepada kuninganmass.com Selasa (19/5/2026).
Dinas PUTR dulu sempat melakukan perbaikan berupa pengaspalan jalan pada tahun 2023 lalu di segmen Palutungan-Ipukan tersebut. Namun, pasca-perbaikan jalan, kondisi saluran drainase di sepanjang jalur Ipukan memang masih menyisakan masalah.
“Pasca pengaspalan PUTR di tahun 2023 untuk segmen Palutungan Ipukan, drainase yang ada di sepanjang Jalan Ipukan ini kondisi eksisting memang di beberapa titik kecil,” tambahnya.
Berdasarkan hasil pemantauan langsung, kondisi fisik drainase di sepanjang jalan menuju wisata Ipukan tersebut sangat memprihatinkan di beberapa titik. Selain ukurannya yang terlalu kecil, saluran tersebut juga tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi.
“Selain kecil, per hari ini pun kita melanjutkan survey ke lokasi tersebut, bahkan kita mencatat beberapa rencana kerja yang sudah disepakati juga dengan pemerintahan Desa Cisantana maupun pihak Kecamatan Cigugur,” paparnya.
Petugas mencatat dan memetakan titik-titik krusial yang menjadi biang kerok meluapnya air hingga ke badan jalan. Dari hasil inventarisir di lapangan, petugas menemukan fakta gorong-gorong penyambung (crossing) menuju area restoran dan pemukiman warga ukurannya sangat sempit. Rata-rata diameter pipa saluran air yang terpasang di sana hanya berukuran 20 hingga 30 sentimeter.
“Beberapa crossing menuju kawasan resto, rumah makan dan permukiman yang kita inventarisir diameternya kecil. Itu mungkin akan menjadi target kita untuk memperbesar crossing crossing tersebut, yang rata-rata drainasenya diameter 20 sampai 30 cm,” pungkasnya. (raqiib)