Jalan Penghubung Winduhaji-Lebakwangi Rusak dan Gelap, PUTR Kuningan Ungkap Alasan Penundaan Perbaikan

KUNINGAN (MASS) – Kondisi jalan rusak kembali dikeluhkan oleh masyarakat. Kali ini pada akses jalan utama di Desa Ciporang, Kecamatan Maleber, tepatnya di kawasan Kampung Heuleut Kaler yang mengarah ke wilayah Kecamatan Lebakwangi.

Menurut penuturan salah seorang warga setempat, jalur tersebut saat ini dalam kondisi rusak parah dan banyak lubang. Situasi semakin membahayakan para pengendara karena saat malam hari, area tersebut sangat minim akan fasilitas lampu penerangan jalan umum.

Merespons keluhan tersebut, Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kuningan, Teddy Bisma menjelaskan jalur yang dikeluhkan warga tersebut merupakan bagian dari ruas jalan Winduhaji-Lebakwangi yang memiliki panjang total 13 kilometer. Jalur ini membentang luas mulai dari Simpang Kelurahan Winduhaji sampai ke Simpang Koramil Lebakwangi.

“Itu ruas jalan winduhaji-lebakwangi panjang nya 13 km, membentang dari simpang Kelurahan Winduhaji sampai dengan simpang Koramil lebakwangi.” tuturnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Ia menegaskan ruas jalan strategis ini sebenarnya sudah masuk ke dalam rencana target penanganan. Proyek ini dipastikan menggunakan anggaran Bantuan Langsung (BL) dan akan dikerjakan langsung oleh tim UPTD V DBMPR Provinsi Jawa Barat.

“Seperti yang sering di informasikan juga ruas ini masuk rencana penanganan melalui BL bantuan langsung dan dikerjakan langsung oleh tim UPTD V DBMPR Jabar,” tambahnya.

Namun, Teddy mengungkapkan adanya kendala non-teknis yang membuat proyek ini sempat tertunda dari target awal setelah Idulfitri kemarin. Penundaan terjadi akibat situasi geopolitik global yang memicu kenaikan harga aspal serta bahan bakar minyak (BBM) sektor industri.

“Target awal sih setelah iduk fitri kemarin namun ada pertimbangan lain untuk menunda sedikit pelaksanaan nya, situasi geo politik mengharuskan ada penyesuaian kenaikan harga satuan bahan material begitu juga perubahan DED nya,” paparnya.

Dampak dari kenaikan harga material tersebut membuat nilai proyek harus dikurangi, dari yang semula dialokasikan sebesar Rp21 Miliar kini menyusut menjadi Rp16,15 Miliar. Kondisi ini memaksa tim di lapangan untuk melakukan penyesuaian ulang terhadap dokumen perencanaan.

“Alokasi anggaran nya semula 21 M sekarang ada pengurangan menjadi 16,15 M. Kami selalu berkoordinasi dengan tim PPK yg akan melaksanakan kegiatan ini. Mohon doa nya Semoga bisa segera dilaksanakan,” pungkasnya. (raqib)