KUNINGAN (MASS) – Bersyukur merupakan salah satu hal yang sepatutnya dilakukan manusia. Ada begitu banyak alasan untuk bersyukur, mulai dari kesehatan, kesempatan, keberadaan orang-orang terdekat, hingga berbagai kemudahan yang seringnya luput dari perhatian. Namun, manusia tidak jarang justru lupa bersyukur, terutama ketika sedang berbahagia. Sebaliknya, ketika berduka atau menghadapi kesulitan, kita cenderung lebih mudah mengingat Allah dan memanjatkan doa.
Kecenderungan tersebut menarik untuk direnungkan. Ketika kehidupan berjalan sesuai harapan, seringnya kita sibuk menikmati apa yang dimiliki. Namun, ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita segera mencari tempat untuk bersandar. Dalam keadaan seperti itu, Allah menjadi tempat kita mengadu, memohon pertolongan, dan berharap agar kesulitan segera berlalu.
Dalam Al-Qur’an, kecenderungan manusia untuk berpaling ketika memperoleh nikmat dan kembali berdoa ketika ditimpa kesulitan telah digambarkan dalam surah Fussilat ayat 51. Allah Swt., berfirman, yang artinya, “Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong), tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa”.
Ayat tersebut seolah menjadi cermin bagi kita. Ketika keadaan berjalan sesuai keinginan, kita mudah terlena. Namun, ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita segera mencari tempat bersandar kepada Allah. Gambaran serupa juga terdapat dalam surah Yunus ayat 12. Allah Swt., berfirman, yang artinya, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali (melalui jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya”.
Kedua ayat tersebut mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Allah semestinya tetap terjaga dalam segala keadaan, baik ketika sedang mengalami kesulitan maupun ketika menikmati kebahagiaan. Relasi manusia dengan Allah bukanlah hubungan yang hanya dicari ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Namun hubungan tersebut merupakan bagian mendasar dari kehidupan seorang hamba yang senantiasa membutuhkan petunjuk, rahmat, dan pertolongan-Nya.
Pernahkah kita memiliki teman yang datang hanya ketika sedang membutuhkan bantuan? Kita mungkin merasa kesal karena seolah-olah hanya dicari ketika dibutuhkan. Ketika sedang mengalami kesulitan, ia datang untuk meminta pertolongan. Namun, setelah masalahnya selesai, ia kembali sibuk dengan kehidupannya sendiri. Tanpa disadari, kita mungkin pernah berada dalam posisi yang sama terhadap orang lain. Akan tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bercermin dan bertanya apakah kita juga melakukan hal serupa dalam hubungan dengan Allah?
Ketika sedang memiliki masalah, kita datang kepada Allah. Kita menangis dalam doa, meminta pertolongan, memohon agar masalah segera selesai, dan berharap keinginan kita terwujud. Kita mungkin menjadi lebih rajin beribadah karena menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak mampu kita selesaikan sendiri. Namun, ketika masalah itu selesai dan keinginan kita terkabul, apa yang kita lakukan? Seringnya, kita kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kita menikmati kebahagiaan yang telah diberikan, tetapi lupa kepada siapa kita meminta pertolongan dan menggantungkan harapan sejak awal.
Tentu saja, hubungan manusia dengan Allah tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan hubungan antarmanusia. Allah tidak membutuhkan perhatian manusia, sedangkan manusialah yang senantiasa membutuhkan-Nya. Perumpamaan tentang teman yang hanya datang ketika membutuhkan bantuan bukanlah untuk menyamakan kedua hubungan tersebut, melainkan sebagai cara sederhana untuk mengajak kita mengevaluasi kebiasaan diri sendiri. Jangan sampai kita hanya mengingat Allah ketika ada sesuatu yang ingin diminta, tetapi melupakan-Nya ketika keadaan sudah membaik.
Hal seperti ini mungkin pernah terjadi dalam kehidupan kita. Ketika sedih, kita mudah mengingat Allah. Ketika jatuh, kita mencari Allah. Ketika merasa tidak memiliki apa-apa, kita rajin berdoa. Namun, ketika semuanya berjalan sesuai keinginan, kita justru mudah terlena. Padahal, hubungan dengan Allah tidak semestinya hanya dipelihara ketika kita sedang berada dalam keadaan sulit.
Ujian juga tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan dan kesengsaraan. Kebahagiaan, keberhasilan, kesehatan, bahkan kemudahan dalam hidup dapat menjadi ujian bagi manusia. Dalam surah Al-Anbiya ayat 35, Allah Swt., menjelaskan bahwa manusia diuji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan lapang maupun sempit sama-sama menjadi bagian dari ujian kehidupan.
Ketika menghadapi kesulitan, manusia diuji dalam kesabaran dan keteguhannya. Sementara itu, ketika memperoleh nikmat, manusia diuji dalam rasa syukur dan cara menyikapi pemberian tersebut. Ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, kita sebenarnya sedang dihadapkan pada pertanyaan, apakah nikmat itu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah kebahagiaan mendorong kita untuk semakin bersyukur atau malah membuat kita lupa kepada-Nya?
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang mudah lalai ketika kehidupannya sedang berada dalam keadaan lapang.
Pertama, kita merasa bahwa apa yang diperoleh sepenuhnya merupakan hasil usaha sendiri. Ketika berhasil mencapai sesuatu, kita cenderung berfokus pada kerja keras, kemampuan, dan pengorbanan yang telah dilakukan. Semua itu memang memiliki peran penting. Namun, kita terkadang lupa bahwa di balik usaha tersebut terdapat kesehatan, kesempatan, bantuan orang lain, dan berbagai kemudahan yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan. Kesadaran terhadap hal-hal tersebut bukan berarti mengabaikan usaha pribadi, melainkan membantu kita memahami bahwa keberhasilan tidak selalu berdiri di atas kemampuan diri sendiri.
Kedua, ketika keadaan sedang baik-baik saja, kita merasa mampu melakukan semuanya sendiri. Kita merasa tidak membutuhkan pertolongan siapa pun karena segala sesuatu berjalan dengan lancar. Padahal, manusia tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua hal dapat diprediksi, tidak semua rencana dapat diwujudkan, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kemampuan sendiri. Bahkan, kemampuan untuk berusaha dan menyelesaikan sesuatu pun merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Ketiga, kita terlalu terlena dengan apa yang telah dimiliki. Sesuatu yang awalnya sangat diharapkan dapat perlahan dianggap biasa setelah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita terbiasa dengan kesehatan, kesempatan, kenyamanan, dan keberadaan orang-orang terdekat sehingga tidak lagi menyadari betapa berharganya hal-hal tersebut. Akibatnya, perhatian kita lebih banyak tertuju pada sesuatu yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah ada.
Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa kelalaian tidak selalu muncul karena seseorang tidak mengetahui pentingnya bersyukur. Terkadang, seseorang mengetahui bahwa nikmat perlu disyukuri, tetapi belum terbiasa menyadari kehadiran nikmat tersebut dalam kehidupannya. Karena itu, menjaga relasi dengan Allah juga membutuhkan kesadaran dan upaya yang dilakukan secara terus-menerus.
Dalam hal ini, syukur tidak cukup diwujudkan melalui ucapan alhamdulillah ketika menerima kabar baik. Syukur juga perlu tercermin dalam cara kita memandang kehidupan dan menggunakan nikmat yang diberikan. Ketika memperoleh ilmu, misalnya, kita dapat mensyukurinya dengan belajar secara sungguh-sungguh dan membagikan manfaatnya. Ketika memperoleh rezeki, kita dapat menggunakannya untuk memenuhi tanggung jawab dan membantu orang lain. Begitu pula ketika diberikan kesehatan, kita dapat memanfaatkannya untuk beribadah dan menjalankan berbagai kebaikan.
Allah Swt., berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7, yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur atas nikmat yang diterima. Syukur bukan hanya tentang merasa senang karena memperoleh sesuatu, tetapi juga tentang menyadari pemberian Allah dan berusaha menyikapinya dengan baik.
Dengan demikian, menjaga relasi dengan Allah dalam keadaan lapang tidak hanya berarti tetap berdoa atau melaksanakan ibadah. Hal tersebut juga berkaitan dengan bagaimana kita menjaga kerendahan hati ketika berhasil, menggunakan nikmat secara bertanggung jawab, dan tetap menyadari keterbatasan diri ketika kehidupan terasa mudah. Kebahagiaan seharusnya tidak membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Allah, sebagaimana kesulitan tidak seharusnya membuat kita kehilangan harapan kepada-Nya.
Oleh : Nazwa Aurel
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Husnul Khotimah Kuningan
