KUNINGAN (MASS) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masih menjadi tantangan bagi petugas gabungan. Medan yang terjal, keterbatasan sumber air, serta angin kencang membuat proses pemadaman membutuhkan upaya ekstra.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan kebakaran, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten turut mendampingi kegiatan supervisi pengendalian kebakaran hutan sekaligus penyerahan bantuan bagi personel gabungan di Posko Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Minggu (25/10/2026).
Humas Perhutani, Dani, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut melibatkan jajaran Kementerian Kehutanan dan Perhutani sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan karhutla di kawasan Gunung Ciremai.
“Kami mendampingi Bapak Dirjen Planologi Kementerian Kehutanan bersama Bapak Wakadivre, Kadep PSDH, dan Administratur/KKPH Kuningan dalam rangka supervisi pengendalian kebakaran hutan dan penyerahan bantuan bagi personel gabungan bertempat di Posko Pasawahan,” ujar Dani.
Dalam kegiatan tersebut, Perhutani mendampingi Direktur Jenderal Planologi Kementerian Kehutanan, Ade Tri Ajikusumah, bersama Wakil Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Barat dan Banten, Komarudin. Turut hadir Kepala Departemen Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH), Usep Rustandi, serta Administratur/Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Kuningan, Siti Khasanah.
Karhutla yang terjadi sejak Kamis (22/10/2026) itu menghadirkan sejumlah kendala bagi petugas di lapangan. Cuaca panas disertai angin kencang membuat api berpotensi merambat dengan cepat, sedangkan kondisi medan yang curam dan terbatasnya sumber air menyulitkan proses pemadaman.
Karena akses alat berat terbatas, petugas melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan yang tersedia, termasuk alat gepyok. Selain itu, sekat bakar (firebreak) dibuat di sejumlah titik strategis untuk menghambat perambatan api.
Penanganan kebakaran melibatkan Satgas TNGC, BPBD, TNI/Polri, Polisi Kehutanan Perhutani, serta para relawan. Personel ditempatkan di sejumlah titik, termasuk di area perbatasan api, untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran ke kawasan hutan lainnya.
Hingga Minggu (25/10/2026), petugas gabungan masih bersiaga di posko untuk memantau pergerakan angin dan perkembangan titik api. Upaya pengendalian terus dilakukan agar kebakaran dapat dilokalisasi dan tidak merembet lebih jauh. (didin)
