Rekapitulasi Data Catat 447 Kasus Stunting, GARPUDI Minta Penguatan Intervensi Gizi Harus Jadi Perhatian Pemerintah

KUNINGAN (MASS) – Stunting masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius dan penanganan berkelanjutan. Berdasarkan rekapitulasi data, tercatat 447 kasus bayi alami stunting dari total 2.253 data yang dihimpun.  Selain stunting, rekapitulasi tersebut mencatat 91 kasus wasting atau kondisi berat badan yang terlalu rendah dibandingkan tinggi badan, serta 252 kasus underweight atau berat badan kurang menurut umur.

Berdasarkan penghitungan terhadap keseluruhan data, proporsi stunting mencapai sekitar 19,84 persen, wasting 4,04 persen, dan underweight 11,19 persen. Angka-angka itulah yang diungkap Ketua Umum Ormas GARPUDI (Garda Pemuda Demokrasi Indonesia) Budi Hidayah menilai. Ia menilai bahwa persoalan stunting membutuhkan perhatian serius dan komitmen bersama dari berbagai pihak. Data yang tersedia seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam laporan, tetapi menjadi dasar evaluasi untuk memperkuat kebijakan dan pelaksanaan intervensi gizi.

“Penanganan stunting harus dilakukan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan. Kita tidak cukup hanya melihat angka kasus, tetapi harus memastikan bahwa langkah pencegahan dan penanganan benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ketiga kelompok ini perlu mendapatkan perhatian sesuai kebutuhan gizi dan kondisi kesehatannya,” tegasnya, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, upaya penurunan stunting perlu dimulai dari penguatan pencegahan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, serta pendampingan keluarga. Pemantauan pertumbuhan balita secara berkala juga penting agar masalah gizi dapat diketahui lebih awal dan ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan. Ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan stunting semestinya dinilai melalui perbaikan kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak, bukan semata-mata berdasarkan jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan.

Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa kehamilan, dilanjutkan selama masa menyusui hingga periode pertumbuhan anak. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu hamil membutuhkan pemenuhan gizi sesuai kebutuhan, pemeriksaan kehamilan secara berkala, dan penanganan apabila ditemukan masalah kesehatan.

Setelah kelahiran, kata Budi, dukungan bagi ibu menyusui, pemberian ASI sesuai rekomendasi kesehatan, serta pemberian makanan pendamping ASI yang tepat pada waktunya merupakan bagian penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Pada masa balita, pemantauan berat badan dan tinggi badan secara berkala perlu dilakukan untuk mengenali gangguan pertumbuhan sedini mungkin. Anak yang menunjukkan indikasi masalah gizi perlu memperoleh pemeriksaan dan tindak lanjut dari tenaga kesehatan.

Ia menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor sehingga penanganannya tidak dapat bergantung pada satu bentuk intervensi saja. Pemenuhan gizi perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan pola asuh, pencegahan dan penanganan infeksi, serta peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Keterlibatan keluarga juga sangat penting. Pengetahuan mengenai kebutuhan gizi ibu dan anak, kebiasaan hidup bersih, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin dapat mendukung upaya pencegahan dan penanganan masalah gizi. Karena itu, lanjut Budi, koordinasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat perlu diperkuat agar intervensi berjalan secara berkesinambungan dan sesuai dengan kebutuhan sasaran.

Data Harus Menjadi Dasar Penentuan Prioritas

Di akhir, Budi kembali menegaskan bahwa rekapitulasi yang mencatat 447 kasus stunting perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah penanganan. Namun, penentuan prioritas intervensi harus didukung data yang terverifikasi, termasuk jumlah sasaran yang diukur, prevalensi, faktor risiko, serta kondisi kesehatan masyarakat.

“Penggunaan data secara tepat dapat membantu menentukan kebutuhan intervensi, mengevaluasi pelaksanaan program, dan mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk mengetahui apakah langkah yang dilakukan telah memberikan perubahan nyata terhadap kondisi gizi masyarakat,” jelasnya.

Pada saat yang sama, masih kata Budi, penyampaian informasi kepada publik perlu memperhatikan ketepatan data dan sensitivitas wilayah. Oleh karena itu, pemberitaan ini menyajikan angka secara agregat tanpa merinci persebaran kasus berdasarkan desa.

“Pada akhirnya, penurunan stunting membutuhkan perencanaan berbasis data, intervensi yang tepat sasaran, serta keterlibatan berbagai pihak secara konsisten. Tujuan utamanya bukan sekadar menurunkan angka dalam laporan, melainkan memastikan ibu dan anak memperoleh dukungan kesehatan dan gizi yang memadai agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” pungkasnya. (eki)