KUNINGAN -MASS) – 1 Mei 2026 merupakan hari jadi Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam (GEMPA) Al-Ihya Kuningan yang ke 12 tahun. Usia ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang organisasi GEMPA Al-Ihya.
Organisasi yang bergerak di bidang kepencintaalaman dan sosial ini didirikan pada 1 Mei 2014 dan berbasis di Universitas Islam Al-Ihya Kuningan. Satu dekade lebih GEMPA Al-Ihya telah melalui berbagai dinamika dalam proses tumbuh dan berkembang.
Secara filosofis, usia 12 tahun diibaratkan sebagai fase awal menuju kedewasaan, di mana organisasi terus berproses dalam pengembangan diri dan kapasitas anggotanya.
Eks Ketua GEMPA Al-Ihya periode 2018-2020, Nova Rizky Sugema, menyampaikan perjalanan organisasi ini bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, ia menegaskan usia ke-12 bukanlah titik akhir, melainkan awal untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Ini merupakan titik awal dari sebuah perjalanan agar organisasi terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Nova menjelaskan, GEMPA Al-Ihya memiliki tujuan utama membangun kerja sama antar mahasiswa dan civitas akademika dengan semangat kekeluargaan, serta menciptakan insan akademis yang bermoral dan bertanggung jawab dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pencinta alam sebagai garda terdepan dalam pelestarian lingkungan, di tengah kondisi alam yang semakin terancam akibat alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hutan.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan alam,” katanya.
Nova mengungkapkan organisasi yang kuat adalah organisasi yang memiliki karakter dan nilai-nilai inti yang dijalankan secara konsisten, serta mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Hal itu dinilai penting dalam mencetak kader yang tangguh, intelektual, dan progresif.
“Saya sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari keluarga Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam Al-Ihya ini. organisasi ini banyak memberikan pengalaman-pengalaman yang sangat luar biasa, tentunya kemandirian, loyalitas serta kemampuan dalam menghadapi tantangan zaman,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan GEMPA Al-Ihya memiliki lambang kuda dengan arah mata angin yang terikat tambang. Filosofi tersebut menggambarkan kecepatan berpikir kritis, kekuatan dalam menghadapi dinamika, keberanian, serta kebebasan berpikir yang tetap terarah dalam ikatan kekeluargaan.
Selain itu, syal berwarna oranye yang menjadi identitas organisasi melambangkan energi, antusiasme, kreativitas, dan optimisme. Nilai-nilai tersebut lanjut Nova diharapkan mampu membentuk karakter anggota yang percaya diri, adaptif, dan memiliki kemampuan sosial yang baik.
Di akhir refleksinya, Nova menyampaikan harapan agar GEMPA Al-Ihya Kuningan terus konsisten dalam belajar, bergerak, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
“Organisasi ini merupakan organisasi hebat,” tutupnya. (didin)