KUNINGAN (MASS) – Saat ini, rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Kuningan hanya 7-8 tahun. Bisa dibilang, jika dirata-rata hanya lulusan SLTP. Hal itulah yang ingin digenjot oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan Dr Elon Carlan M Pd.
Tak tanggung-tanggung, ia bahkan memasang target di tahun 2029 nanti, rata-rata lama sekolah warga Kuningan bisa mencapai 12 tahun atau setara SLTA. Target itu jadi salah satu prioritasnya sebagai pejabat definitif anyar di Disdikbud.
“Yang berat di Disdikbud itu tentang RLS, kita kan masing di angka 7-9. Seolah-olah kan usia produksi kita itu lulusan SMP kelas 2, itu PR besar,” aku Elon, Sabtu (21/2/2026) dalam Podcast Kuningan Mass.
Selain itu, yang sama-sama jadi prioritas Elon adalah kekosongan kepala SD, SMP, dan pengawas. Lalu soal kurang atau kelebihannya guru.
Kalo lebih, kata Elon, tertumpul dimana dan harus distribusi kemana. Kalo kekurangan, baru saja mengangkat P3K Paruh Waktu yang belum tentu menjawab kebutuhan tersebut.
Permasalahan-permasalahan itu bagian realitas yang ingin Elon selesaikan, dan berdiri beriringan dengan BKPSDM, BKN hingga PAN-RB.
Selain soal pendidikan, masalah kebudayaan juga ingin diurai oleh Elon, mulai dari pelestarian, atraksi budaya yang tak jadi nilai ekonomi, serta icon budaya Kuningan belum ada yang jadi top.
Disinggung kembali soal rata lama sekolah, Elon cukup percaya diri dengan pengalamannya saat menjadi Kepala Bidang PAUD dan Dikmas. Ia mengaku punya pengalaman menyelesaikan anak usia sekolah tidak sekolah, dan usia produktif masih bersetara SMP kelas 2.
“Insya allah melalui bidang itu, saya akan menggenjot dan akan melakukan tahapan dari tahun ke tahun angkanya (RLS) mulai robah,” tegas Elon.
“Pokoknya saya di 2029 itu (RLS) udah 12 tahun,” imbuhnya lagi, menegaskan target RLS.
Nampaknya bukan tanpa strategi Elon menjawab hal tersebut. Jika melalui pendidikan formal angkanya dirasa tidak akan mengejar (karena meski Kadis terus berganti, angkanya tidak banyak berubah), maka pendidikan non formal itulah yang bisa dioptimalkan oleh Elon untuk menekan angka tersebut.
“Ini yang menjadi tantangan saya, kan mumpung sekarang lagi menjadi tren nasional juga tren Jawa Barat. Jadi ada timing-nya (mengoptimalkan sekolah non formal),” tegasnya.
“Saya sudah minta izin Pak Bupati, jadi nanti mungkin kebijakan regulasi, kebijakan anggaran itu keberpihakan terhadap pendidikan nonformalnya lebih diperhatikan. Terlebih memang peluang-peluang di kementerian tuh banyaklah ya. Jadi saya tidak sudah kecil hati walaupun APBD kita enggak bisa memenuhi itu, saya masih bisa cari jalan lain,” ujarnya lugas. (eki)
















