KUNINGAN (MASS) – Mari kita mulai dari datanya. Per 15 Mei 2026, rupiah dibuka di posisi Rp17.613 per dolar AS di pasar spot rekor terlemah dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sejak awal 2026, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 4,6 persen. Pada Januari 2026, kurs masih berada di kisaran Rp16.675. Akhir April menyentuh Rp17.346. Lalu pertengahan Mei ini jeblok ke kisaran Rp17.500–17.600. Ini bukan sekadar volatilitas harian. Ini adalah tren pelemahan tujuh minggu berturut-turut.
Per 7 April 2026, Forbes bahkan mencatat rupiah masuk ke dalam kelompok lima mata uang terlemah di dunia di mana Rp1.000 hanya mampu membeli 0,059 dolar AS. Ini adalah alarm yang berbunyi cukup keras untuk didengar semua kalangan.
Dolar Tidak Perlu Kamu Pegang untuk Mempengaruhi Hidupmu
Di sinilah inti persoalannya. Pernyataan “rakyat desa tidak pakai dolar” secara harfiah memang benar. Tidak ada petani di Blitar atau nelayan di Indramayu yang membayar benih atau solar dengan greenback. Tapi ekonomi tidak bekerja dengan logika sepraktis itu.
BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Januari hingga Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor bahan baku dan penolong mencapai 43,17 miliar dolar AS, sedangkan impor barang modal mencapai 12,98 miliar dolar AS. Neraca migas pada periode yang sama juga defisit 5,08 miliar dolar AS.
Angka-angka itu penting bukan karena terdengar besar, tapi karena ia tidak berhenti di pelabuhan. Impor bahan baku, barang modal, dan energi merambat ke harga pupuk, biaya transportasi, harga bahan bangunan, ongkos produksi pangan, suku cadang kendaraan, mesin pertanian, pakan ternak, obat-obatan, hingga barang konsumsi yang masuk sampai warung kecil di desa.
Bayangkan alurnya secara konkret. Ketika rupiah melemah, Pertamina harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli volume minyak yang sama di pasar internasional karena harga minyak global didenominasikan dalam dolar. Biaya energi naik. Ongkos transportasi naik. Dan ketika truk yang mengangkut cabai, bawang, atau semen harus membayar solar lebih mahal, harga semua yang ada di bak truk itu ikut merayap.
Atau ambil contoh yang lebih dekat ke meja makan: tahu dan tempe. Indonesia mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan kedelainya. Harga kedelai impor dibeli dalam dolar. Saat rupiah anjlok, pengrajin tahu-tempe di seluruh pelosok negeri menjerit bukan karena mereka berdagang dalam dolar, tapi karena bahan baku mereka terkena imbasnya. Ini yang dalam ilmu ekonomi disebut _imported inflation_ inflasi yang masuk dari luar lewat jalur nilai tukar.
Petani desa memang tidak membeli barang dengan mata uang Amerika. Tetapi harga pupuk mereka dipengaruhi impor bahan baku global. Harga BBM dipengaruhi geopolitik minyak dunia. Harga pakan ternak, obat-obatan, hingga ongkos logistik semuanya berkaitan dengan kurs dolar.
Siapa yang Paling Terpukul?
Ironinya, justru mereka yang paling tidak punya akses ke dolar itulah yang paling rentan terhadap dampaknya. Mereka tidak punya tabungan valas untuk melindungi nilai kekayaannya. Mereka tidak punya pilihan untuk beralih ke alternatif yang lebih murah. Mereka tidak punya kemampuan *hedging* seperti korporasi besar. Yang bisa mereka lakukan hanya menerima harga yang tertera di warung harga yang sudah diam-diam terdampak kurs jauh sebelum sampai ke tangan mereka.
Rupiah yang melemah dapat meningkatkan beban utang luar negeri berdenominasi dolar, mendorong inflasi impor, dan mempersempit ruang gerak kebijakan moneter Bank Indonesia. Ketika Bank Indonesia merespons pelemahan rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan yang saat ini sudah berada di 4,75 persen dan ada spekulasi akan naik ke 5 persen kredit perbankan menjadi lebih mahal. Dan siapa yang paling bergantung pada kredit modal kerja dengan bunga terjangkau? UMKM. Pedagang kecil. Petani yang butuh pinjaman musiman.
Rakyat Indonesia sekarang tidak kekurangan orang pintar. Mereka merasakan di dompet dan di meja makan mereka setiap kali harga naik bahkan jika mereka tidak pernah sekali pun menyebut kata “dolar” dalam hidup mereka.
Gak semuanya harus disentuh dulu buat ngaruh ke hidup kita. Dolar bisa terasa di tungku masak dan di sawah, meski tak pernah ada di saku baju.
Oleh: Fillah Ahmad A
Ketua BEM Uniku