KUNINGAN (MASS) – Ahli geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, menjelaskan karakteristik batuan di wilayah Pajambon hingga Sangkanurip yang menurut penilaiannya relatif aman dari risiko kebocoran dalam pengembangan panas bumi atau geotermal.
Hal tersebut disampaikan Jumhari dalam sebuah podcast yang baru-baru ini tayang di YouTube. Dalam perbincangan itu, ia membahas potensi panas bumi di Kuningan, termasuk kondisi geologi dan struktur batuan yang perlu diperhatikan sebelum pengembangan dilakukan.
Menurut Jumhari, wilayah Pajambon dan Sangkanurip memiliki karakteristik batuan yang berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Kuningan. Ia menyebut batuan andesit dan breksi yang terdapat di kawasan tersebut sebagai batuan keras yang dapat memengaruhi kemungkinan terjadinya kebocoran hingga minimal.
“Batuan andesit dan breksi itu batuan keras, batuan-batuan yang terikat matriks sehingga menjadi batuan yang kuat,” jelas Jumhari dalam podcast tersebut.
Ia menilai karakteristik batuan itu menjadi salah satu faktor yang membuat peluang kebocoran fluida dalam sistem panas bumi relatif kecil. Namun, penilaian risiko tetap perlu didasarkan pada kajian teknis yang menyeluruh, termasuk kondisi rekahan batuan dan sistem reservoir di bawah permukaan.
Selain karakteristik batuan, Jumhari juga menyoroti keberadaan struktur geologi atau sesar. Menurutnya, perkembangan struktur geologi di wilayah Pajambon hingga Sangkanurip relatif terbatas dibandingkan sejumlah kawasan lain yang memiliki sesar mendatar.
“Kalau wilayah Kuningan bagian utara, dari Pajambon ke arah Sangkanurip, relatif aman. Termasuk yang masuk wilayah Majalengka, tidak ada potensi sesar besar seperti yang melintas di bagian selatan,” ungkapnya.
Jumhari menjelaskan, struktur sesar mendatar ditemukan di wilayah Kuningan bagian selatan hingga Majalengka bagian selatan. Sesar merupakan bidang atau zona tempat batuan mengalami pergeseran akibat aktivitas geologi. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam penilaian risiko pembangunan sumur panas bumi.
“Kuningan wilayah selatan nih selatan Gunung Cermai itu ada ada struktur sesar mendatar yang besar melintas, pergeseran tanah, pergeseran bumi jadi kalau misalkan sumur bor nya disitu berpeluang retak bahaya lah,” tambahnya.
Ia mengingatkan bahwa kondisi geologi perlu ditelaah secara rinci sebelum pengeboran dilakukan. Keberadaan sesar, rekahan, karakter batuan, serta tekanan fluida bawah tanah dapat memengaruhi perencanaan dan keselamatan operasi panas bumi.
“Tapi kalau yang di di wilayah utara mah mendekat dari Pajambon ke arah Sangkanurip relatif aman termasuk yang masuk wilayah Majalengka,” pungkasnya. (raqib)
