Dari Tradisi Biologis yang Membentuk Peradaban Mulia
KUNINGAN (MASS) – Pada setiap bulan Ramadan, milyaran manusia melakukan hal yang sama, ritual PUASA. Namun berpuasa ternyata bukan hanya tradisi Islam. Gereja-gereja Kristen di masa Prapaskah mengajak umatnya membatasi makanan dan kesenangan duniawi. Begitu juga Yom Kippur dalam tradisi Yahudi, menghadirkan lapar sebagai bahasa pertobatan kolektif. Ribuan penganut Hindu di India berpuasa pada hari ekadashi untuk kejernihan batin. Di gurun Amerika, seorang pemuda indian asli menepi dari komunitasnya demi menemukan visi hidup juga melalui puasa.
Di banyak tempat dan waktu, manusia melakukan tindakan yang sama. Ia menunda makan. Ia menahan diri. Ia memberi jarak pada dorongan paling dasar. Tubuh berhenti makan. Namun jiwa justru bergerak. Ia tumbuh, ia hidup.
Puasa adalah salah satu tradisi tertua dalam sejarah manusia. Ia lahir dari pergulatan manusia dengan alam, kelaparan, dan misteri keberadaan.
Sejak manusia agraris mengenal musim kering dan paceklik, ia mengenal lapar. Namun pada satu titik kesadaran, manusia melakukan sesuatu yang revolusioner. Ia tidak lagi sekadar siap menderita karena lapar. Ia justru memilih lapar. Di situlah tradisi puasa berubah dari takdir biologis menjadi tindakan spiritual.
Jejak Puasa di zaman kuno
Sejak manusia pra-sejarah menari di sekitar api dan menatap langit tanpa nama, ia sudah belajar membatasi makan, tidur, dan kata-kata demi merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar.
Dalam teks piramida pada era Mesir Kuno sekitar 3000 hingga 1000 Sebelum Masehi, para imam kuil menjalani periode puasa sebelum ritual keagamaan. Penyucian diri melalui pembatasan makan diyakini memurnikan tubuh sebelum berhadapan dengan sang ilahi. Tubuh yang ringan dianggap membuat doa lebih jernih dan hati lebih bersih.
Di masa Yunani Kuno pada abad ke-6 SM, praktik puasa tercatat dalam tradisi filsafat dan misteri keagamaan. Konon Pythagoras sekitar 570 hingga 495 SM mewajibkan murid-muridnya berpuasa sebelum menerima ajaran esoterik. Ia percaya pikiran menjadi lebih tajam ketika tubuh tidak dikuasai oleh nafsu makan.
Pada abad ke-5 SM, para inisiat juga berpuasa sebagai bagian dari proses pemurnian spiritual. Tidak ada satu tokoh yang mencetuskan puasa. Ia muncul dari kebutuhan spiritual dan sosial yang serupa di berbagai peradaban. Begitulah, ketika manusia menyadari kerapuhannya di hadapan alam, ia belajar merendahkan diri melalui lapar yang disengaja.
Tradisi Puasa dalam Agama-Agama Besar
Dalam Kekristenan, Yesus berpuasa empat puluh hari sebelum memulai pelayanannya. Pengalaman itu melahirkan tradisi Prapaskah sebagai masa refleksi dan pemurnian diri. Dalam Buddhisme, Siddhartha Gautama menjalani asketisme ekstrem sebelum menemukan Jalan Tengah. Ia menyadari bahwa penyiksaan diri bukan tujuan. Yang dicari adalah pengendalian diri yang bijak.
Puasa berkembang dari praktik lokal menjadi ritus dan seremoni global. Ia menjadi kalender suci, disiplin kolektif, dan pengingat bahwa manusia bukan hanya tubuh yang membutuhkan makanan, tetapi makhluk sadar yang mencari makna.
Dalam Islam, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun 624 Masehiatau tahun ke 2 hijriah. Al-Qur’an menyatakan bahwa puasa diwajibkan sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelumnya. Ini menegaskan kesinambungan sejarah spiritual manusia.
Kontek Sosial dan Laboratorium Nurani
Dalam masyarakat agraris, paceklik membentuk kesadaran kolektif tentang keterbatasan. Puasa melatih solidaritas dan kemampuan berbagi ketika sumber daya terbatas.
Dalam jeda makan yang disengajakan itu, manusia menemukan laboratorium nuraninya sendiri. Ia mempelajari rasa lapar. Ia mengamati hasrat, menegosiasikan kecenderungan. Ia belajar membedakan kebutuhan sejati dari keinginan yang berlebihan.
Puasa bukan sekadar menahan kalori. Ia melatih kejernihan. Dan, di dunia yang dikuasai konsumsi dan kecepatan, puasa adalah perlambatan yang disengaja. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu segera dipuaskan.
Puasa Ramadan: Disiplin Kolektif yang Membentuk Peradaban Mulia
Ramadhan adalah anugerah ilahi, peristiwa di bumi dengan spektrum energi semesta. Ruang dan waktu terbaik untuk memperbaiki diri, masyarakat dan ekologinya. Puasa Ramadan berlangsung satu bulan penuh setiap tahun, sejak fajar hingga matahari terbenam.
Selama lebih dari 14 abad, miliaran manusia menjalani disiplin yang sama dalam kalender lunar yang bergerak melintasi musim dan benua. Seketika ritme sosial berubah. Jam kerja disesuaikan. Aktivitas hidup melambat. Meja makan menjadi ruang rekonsiliasi. Solidaritas sosial menguat.
Ramadan bukan hanya latihan biologis. Ia adalah rekonstruksi sosial. Ia membentuk peradaban mulia. Orang kaya merasakan lapar yang biasa dialami orang miskin. Zakat, infak dan sedekah meningkat. Peduli dan empati diuji. Kepribadian ditata ulang dari mulai pola pikir, pola rasa dan pola tindak. Dari skala sempit individu meluas secara sosial dan ekologis.
Ketika manusia dengan sadar memilih lapar, ia sedang mengingat jati dirinya. Ia bukan sekadar makhluk yang hidup untuk makan, tetapi makhluk yang mencari makna. Di situlah puasa menjadi pendidikan nurani yang sederhana sekaligus radikal revolusioner.
Puasa mengajarkan bahwa derajat kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak terletak pada kepemilikan tanpa batas, melainkan pada kemampuan berkata cukup serta kemudahan peduli dan berbagi.
Sejak 14 abad yang lalu, Islam berkontribusi memberi warna, dimana tradisi menahan keinginan dan menyengaja lapar itu diberi tatalaksana ritus puasa penuh makna plus spektrum energi semesta yang terjaga sampai saat ini.
Suka tidak suka, islam lah yang mentransformasi tradisi manusia dari menyengaja lapar menuju kesejatian diri. Dari level lapar manusia biasa menjadi level lapar manusia paling terhormat dan mulia di muka bumi. Dari kewajiban puasa menuju derajat takwa.
Wallahu ‘alam bish shawab.
Penulis : Iman Priatna Rahman
(Pembelajar & Pemberdaya Kuningan)
















