Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Mahasiswa PGSD UM Kuningan.

Netizen Mass

Pembelajaran Formal, Pemahaman Minimal

KUNINGAN (MASS) – Saat ini, dunia pendidikan sering kali terlalu fokus pada angka dan nilai. Siswa dianggap berhasil jika sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun, hal yang perlu dipertanyakan adalah apakah siswa benar-benar memahami materi atau hanya sekadar memenuhi nilai minimum. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih berorientasi pada hasil, bukan pada pemahaman yang mendalam.

Di sekolah-sekolah, guru sering dikejar target kurikulum yang padat. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi terburu-buru dan melahirkan surface learning atau pembelajaran permukaan. Siswa menghafal materi untuk ujian, mencapai nilai KKM, lalu melupakan materi tersebut dalam waktu singkat. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya berdampak pada nilai, tetapi juga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.

Masalah ini merupakan bagian dari krisis kualitas pendidikan yang masih terjadi di Indonesia. Banyak siswa bersekolah dan memperoleh nilai yang cukup, tetapi belum benar-benar memahami materi pelajaran. Sistem pembelajaran yang terlalu menekankan hafalan, penilaian yang kurang tepat, serta metode pengajaran yang kurang bervariasi membuat siswa kesulitan memahami konsep dasar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, pembelajaran formal adalah kegiatan belajar yang dilakukan secara terstruktur di lembaga resmi seperti sekolah dan perguruan tinggi. Pembelajaran ini memiliki tujuan, kurikulum, dan aturan yang jelas. Guru berperan sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik yang diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Pemahaman minimal merupakan penguasaan dasar yang harus dimiliki siswa agar dapat melanjutkan pembelajaran ke tahap berikutnya, yaitu memahami konsep inti dan menerapkannya secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pembelajaran formal seharusnya tidak berhenti pada pencapaian pemahaman minimal siswa. Meskipun standar dasar diperlukan untuk memastikan keseragaman kompetensi, fokus yang terlalu besar pada batas minimal berisiko membuat pembelajaran menjadi kurang menantang dan tidak mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimal. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan hanya mampu memenuhi syarat dasar, tetapi belum siap bersaing dan berinovasi di dunia kerja yang terus berkembang.

Pembelajaran formal tetap memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan akademik, karakter, dan kedisiplinan siswa. Selain itu, pembelajaran formal juga memberikan pengakuan resmi berupa ijazah yang dibutuhkan untuk dunia kerja dan pendidikan lanjutan. Namun, pembelajaran formal perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel agar dapat memenuhi kebutuhan siswa saat ini.

pembelajaran formal tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan sikap positif siswa. Oleh karena itu, pemahaman minimal seharusnya dijadikan dasar, bukan tujuan akhir.

Dalam kenyataannya, pembelajaran formal belum sepenuhnya menjamin pemahaman yang mendalam. Banyak siswa belajar hanya untuk lulus dan mendapatkan ijazah, tanpa benar-benar memahami dan mampu menerapkan ilmu yang dipelajari. Kondisi ini menunjukkan bahwa orientasi pendidikan masih perlu diperbaiki.

Agar pemahaman siswa meningkat, pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman nyata. Jika materi pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, siswa akan lebih mudah memahami, tidak cepat lupa, dan lebih aktif dalam proses belajar.

Pembelajaran formal itu bagus, tetapi guru juga harus mengajak siswa untuk terjun langsung kelapangan, contohnya ke tempat yang bisa mendapatkan banyak ilmu seperti : Laboratorium, Komunitas, dan juga lingkungan pekerjaan.

Pembelajaran formal juga perlu didukung oleh pendidikan nonformal dan informal. Pembelajaran nonformal dan informal dapat membantu mengembangkan minat dan bakat siswa yang tidak selalu terakomodasi dalam pembelajaran formal. Dengan adanya keterpaduan ketiga jalur pendidikan ini, proses belajar akan menjadi lebih seimbang dan bermakna.

Pembelajaran formal merupakan pendidikan yang terstruktur dan berjenjang di sekolah. Namun, pembelajaran formal sering kali hanya menekankan pemahaman minimal, yaitu sekadar memenuhi nilai tanpa memahami materi secara mendalam. Oleh karena itu, pembelajaran formal perlu didukung oleh pendidikan nonformal dan informal agar siswa dapat mengembangkan potensi dan pemahaman yang lebih baik. Pemahaman minimal seharusnya menjadi dasar, bukan tujuan akhir pembelajaran.

Pembelajaran formal memiliki peran penting dalam membentuk pengetahuan, keterampilan, dan karakter generasi muda, terutama dalam menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan jiwa nasionalisme. Namun, pembelajaran formal tidak seharusnya hanya menekankan hafalan dan pencapaian nilai. Pembelajaran perlu didukung oleh pendidikan nonformal dan informal agar siswa tidak hanya lulus ujian, tetapi juga memiliki pemahaman yang baik, karakter yang kuat, serta kesiapan dalam menghadapi kehidupan.

“Oleh karena itu, perlu didorong paradigma Mastery Learning atau pembelajaran tuntas, di mana siswa diajak mencintai proses belajar, bukan sekadar mengejar hasil akhir. Guru, termasuk di Kuningan, perlu diberi ruang untuk mengeksplorasi potensi siswa tanpa dibebani tuntutan administratif yang kaku.”

Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Guru diharapkan mampu memberi teladan, menumbuhkan semangat belajar, serta memberikan dorongan agar siswa mampu melampaui pemahaman minimal dan berkembang secara optimal.

Mari kita ubah wajah kelas kita. Jangan jadikan pemahaman minimal sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. Pendidikan  harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu, bukan sekadar kulit luar.

​Sebab, pada akhirnya: “Pendidikan yang baik tidak hanya menyiapkan anak untuk bekerja, tapi menyiapkan anak untuk hidup seutuhnya.”

Tulisan disusun oleh kelompok mahasiswa dari PGSD 1D, Kelompok 1 Pedagogika, Angkatan 2025

Ratna Anisa, Elsa Gina Pitria, Ilham Dwi Andika, Haniatul Fujiah, Sifa Marwah, Dwi Lestari, Adi Darma Saputra, Desi Salsabila, Fiyaniza Ramadhina Putri, Agung Eka Permana, Muhammad Ragil Pratama, Lutfiah Khaerunnisa Rochmawati, Annisa Nur Afifah, Makaiyla Ghaitsa.

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like