KUNINGAN (MASS) – Pengembangan energi panas bumi atau geotermal membutuhkan waktu 5 sampai 10 tahun hingga dapat menghasilkan listrik. Selain proses yang panjang, pembangunan fasilitas geotermal juga memerlukan biaya besar, terutama untuk kegiatan pengeboran satu titik bor bisa sampai 4 milyar.
Hal itu disampaikan ahli geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, dalam sebuah podcast yang tayang di YouTube baru-baru ini. Dalam perbincangan tersebut, ia menjelaskan perkiraan waktu pengembangan hingga beroperasi serta besarnya biaya yang diperlukan untuk pengeboran.
Jumhari memperkirakan, proses pengembangan geotermal tidak mungkin selesai hanya dalam waktu satu tahun. Menurutnya, tahapan menuju produksi listrik membutuhkan waktu beberapa tahun, meskipun ia mengaku tidak secara khusus mendalami aspek teknis pembangunan hingga tahap operasi.
“Setahun enggak mungkin ya pasti lama 5 tahun 10 tahun 5 tahunan lah pasti tahunan gitu,” ujarnya dalam podcast tersebut.
Ia menyebut, berdasarkan perkiraannya satu titik pengeboran dapat membutuhkan biaya sekitar Rp4 miliar. Jika terdapat 40 titik pengeboran, biaya yang diperlukan diperkirakan mencapai Rp160-200 miliar. Angka tersebut baru untuk kegiatan pengeboran, belum termasuk pembangunan fasilitas dan konstruksi pendukung lainnya.
“Memang itu kebutuhan biayanya besar ya bisa satu titik itu 4 miliar satu titik bor, kalau 40 titik jadi 160 miliar 200 miliaran itu untuk bornya saja belum konstruksi apa-apa,” paparnya.
Menurutnya, besarnya biaya membuat pengembangan geotermal harus didukung perencanaan dan data geologi yang akurat. Penentuan lokasi pengeboran tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena kesalahan menentukan titik dapat berujung pada kerugian besar.
“Geotermal itu padat modal. Karena itu, butuh ketelitian luar biasa. Data menjadi sangat berharga, dan penentuan titik pengeboran harus benar-benar terukur,” tegasnya.
Ia menambahkan, perusahaan yang mengerjakan proyek geotermal harus memiliki kredibilitas, pengalaman, serta tenaga ahli yang kompeten. Kemampuan teknis menjadi penting karena proyek tersebut membutuhkan investasi besar dan ketelitian dalam setiap tahapan pekerjaan.
“Tidak asalan asal ngebor enggak bisa gitu karena ketika penempatan titik baru itu harga 4 miliar akan hilang itu baru alat baru pengeborannya aja ya, pemenang lelangnya juga kan pasti punya ahlinya ya iya jadi secara struktur perusahaannya itu yang sudah pasti kredibel yang sudah berpengalaman yang memiliki kemampuan teknis maupun orang-orang yang mumpuni di bidangnya,” pungkasnya. (raqib)
