KUNINGAN (MASS) – Ahli geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, menyebut terdapat tiga wilayah yang memiliki manifestasi atau tanda keberadaan panas bumi di Kabupaten Kuningan. Wilayah tersebut meliputi Pajambon, kawasan Ciniru-Jalaksana, dan Sangkanurip.
Penjelasan itu disampaikan Jumhari dalam sebuah podcast yang baru-baru ini tayang di YouTube. Dalam perbincangan tersebut, ia menjelaskan potensi panas bumi sekaligus kebutuhan sumur untuk menghasilkan energi listrik.
Menurutnya keberadaan manifestasi panas bumi di suatu wilayah menjadi salah satu petunjuk awal mengenai potensi sumber panas di bawah permukaan tanah. Namun, besaran potensi dan kelayakan pengembangannya tetap harus diketahui melalui kajian teknis lebih lanjut.
“Potensinya itu secara manifestasi keberadaan yang sudah ada itu di Pajambon, Ciniru Jalaksana sama Sangkanurip, jadi tiga titik itu menjadi areal,” tuturnya.
Ia menjelaskan, untuk menghasilkan listrik sebesar 2 megawatt (MW), secara ilustratif dibutuhkan dua sumur, yakni satu sumur produksi dan satu sumur injeksi. Sumur produksi berfungsi mengalirkan panas bumi untuk dimanfaatkan dalam proses pembangkitan listrik, sedangkan sumur injeksi digunakan untuk memasukan air ke dalam bumi.
“Untuk pembuatan 2 MW listrik, itu dibutuhkan dua bor, yang pertama bor produksi, yang kedua bor injeksi,” tandasnya.
Jumhari menyebut jarak antara sumur produksi dan sumur injeksi dapat berkisar antara 500 hingga 1.500 meter. Namun, penempatan sumur tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan jarak karena perlu mempertimbangkan kondisi pendukung lain.
“Yang produksi itu yang mengeluarkan uap ya, injeksi yang mengisi air jaraknya itu 500 sampai 1500 meter jarak titik bor dua bor itu tuh,” tambahnya.
Ia kemudian memberikan gambaran mengenai kebutuhan sumur apabila pembangkit dirancang menghasilkan listrik sebesar 40 MW. Dalam ilustrasi yang disampaikannya, kebutuhan tersebut dapat mencapai 40 lubang sumur yang terdiri dari 20 sumur produksi dan 20 sumur injeksi.
“Jadi ketika kita mau produksi 40 MW misalnya maka butuh 40 lubang bor, 20 bor produksi 20 bor injeksi kalau kita butuhnya 40 MW”, katanya.
Meski demikian, Jumhari menegaskan bahwa jumlah sumur yang dibutuhkan dapat berbeda, bergantung pada kemampuan sumber panas bumi dan penempatan titik pengeboran. Karena itu, angka tersebut merupakan gambaran perhitungan yang disampaikan dalam podcast, bukan ketentuan yang berlaku untuk semua proyek panas bumi.
“Memungkinkan untuk menghasilkan bisa lebih besar bisa lebih kecil tergantung dari nanti cara penempatan titik bornya,” pungkasnya. (raqib)
