Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/kuninganmass/public_html/wp-content/themes/zoxpress/zoxpress/parts/post/post-img.php on line 35

Netizen Mass

Menumbuhkan Patriotisme Kebangsaan Pemuda Muslim dengan Ilmu dan Amal

Pengertian

Menumbuhkan berasal dari kata tumbuh, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); menumbuhkan/ v: 1. menjadikan (menyebabkan) tumbuh: lidah buaya gunanya untuk ~ rambut; usaha ~ pepohonan di daerah kering itu harus didukung oleh segenap penduduk di daerah tersebut; 2. memelihara dan sebagainya supaya tumbuh (bertambah besar, sempurna, dan sebagainya); memperkembangkan: pelatihan itu untuk ~ bakat yang telah ada pada anak-anak; ia ~ rasa kasih sayang; 3. menimbulkan (kebencian, perselisihan, dan sebagainya): dialah yang mula-mula ~ kekecewaan itu; ia ~ kebersamaan di antara kita.1 Maka menumbuhkan itu bisa dari sesuatu yang tidak ada kemudian ada, atau dari sesuatu yang ada kemudian dipelihara agar tetap ada (eksis) atau bertambah sempurna.

Patriotisme menurut KBBI adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.2 Maka patriotisme kebangsaan adalah sikap bela negara (patriotisme) serta sikap mempertahankan kesatuan dan keutuhan sebuah bangsa (kebangsaan). Artinya, patriotisme kebangsaan adalah sikap rela berkorban untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa. Sikap seperti ini seharusnya bersemayam di setiap individu masyarakat suatu bangsa. Patriotisme kebangsaan adalah sebuah isu kontroversial, sesuatu yang begitu penting dan sangat berdampak bagi suatu bangsa (JJ Rousseau, M Viroli).3 Karena dengan sikap inilah akan tumbuh dalam hati setiap individu masyarakat rasa memiliki kepada bangsa atau negara.

Kemudian jika rasa memiliki sudah tumbuh subur, maka akan berbuah rasa peduli. Jika rasa peduli sudah bersemayam di hati, maka pengorbanan jiwa, raga, dan harta tidak akan pernah memberatkan hati. Oleh karenanya di dalam Islam kita mengenal istilah, “mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.” Ini menunjukan bahwa kadar keimanan seseorang dapat dilihat dari kadar jiwa patriotisme kebangsaannya.

Pemuda menurut Undang-Undang 40/2009 tentang Kepemudaaan adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun.4 Sedangkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan pemuda sebagai “…a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence and awareness of our interdependence as members of a community…”.5 Dalam pengertian ini, yang disebut sebagai “pemuda” adalah mereka yang sedang menjalani transisi dari masa kanak-kanak menuju periode ketika mereka dituntut untuk menjadi lebih mandiri dan independen. Pada periode tersebut, mereka juga diharapkan untuk memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas.6 Maka dari kedua definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa pemuda adalah individu yang secara fisik dan psikolog mengalami perubahan serta perkembangan sebagai respon terhadap lingkungan sekitarnya pada kisaran usia 16-30 tahun.

Kondisi jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim hari ini

Pemuda muslim, denganya sejarah telah mencatat dengan tinta mas bahwa peradaban dunia tidak lepas dari kontribusi mereka. Pada masa saintis Islam, kita mengenal Ibnu Sina sebagai rujukan ilmu kedokteran, Al-biruni sebagai antropolog pertama, dan Al-khawarizmi sebagai penemu Al-jabar dan angka nol, serta masih banyak ilmuan muda muslim lainnya. Kita juga mengenal Muhammad Al-Fatih sebagai pemimpin muda yang menaklukan konstantinopel dan Sholehuddin Al-Ayubi sebagai pemimpin muda yang membebaskan Al-Aqsho pada perang salib.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Di Indonesia kita mengenal Bung Tomo Sang Orator, H. Agus Salim Sang Advokator, Pangeran Diponegoro dan Jendral Soedirman Sang Panglima Perang, serta masih banyak yang lainnya. Kita juga mengenal Hari Sumpah Pemuda sebagai awal Kebangkitan dan Revolusi Negara Republik Indonesia. Kemudian kita juga mengenal Mush’ab bin Umair, Bilal bin Rabbah, Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Tholib, dan sahabat lainnya yang mereka semua adalah pemuda yang ikut berjuang bersama Rasululloh menegakkan kalimat Allah dan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam sebagai peradaban.

Sehingga pantas saja Dr. ‘Aidh Al-Qarny dalam bukunya Lisysyabaab khaashshoh, fityatun aamanu birobbihim, mengatakan: “Pemuda-lah yang dicintai oleh Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Kebanyakan anggota pasukan beliau adalah para pemuda, dan kebanyakan para penceramah beliau di atas mimbar adalah pemuda. Demikian pula para delegasi beliau adalah pemuda”.7 Ini semua menunjukan bahwa peran pemuda muslim dari masa ke masa dan di manapun tempatnya telah menjadi aktor perubahan dan peradaban, bukan saja pada bangsa, bahkan dunia.
Jika kita telusuri, tentu bukan tanpa sebab pemuda muslim dahulu begitu berprestasi. Mereka memiliki landasan dasar sehingga mereka memahami akan esensi dan eksistensi seorang pemuda dalam masyarakat. Salah satu landasan dasar mereka adalah apa yang telah disampaikan Rasululloh;

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ. رواه الترمذى

“Tidak akan bergeres kaki manusia di sisi Tuhannya sehingga ditanya tentang lima perkara; 1. Tentang umurnya bagaimana ia habiskan, 2. Tentang masa mudanya bagaimana ia lewati, 3. Tentang hartanya dari mana ia dapatkan, 4. Dan kemana ia mengeluarkannya (harta), 5. Dan apa yang ia amalkan dengan ilmunya”. (H.R At-Tirmidzi)8

Jika dilihat dari konteks hadist di atas. Allah mempertanyakan kepada kita tentang seluruh umur kita, lalu di bagian kedua di pertegas dengan masa muda kita. Itu artinya masa muda adalah masa terpenting dari seluruh umur kita yang akan dipertanyakan oleh Allah kelak di akhirat. Yang akan Allah tanya bukan masa kecil kita dan juga bukan masa tua kita, melainkan masa muda kita. Ini menunjukan kedudukan masa muda kita lebih penting dari seluruh umur kita. Dalam sudut pandang yang lain, maka dapat dikatakan Golden Age itu bukan di usia balita, melainkan masa remaja/ pemuda. Oleh karena masa muda adalah masa yang sangat penting, maka seorang pemuda muslim dahulu sangat memaksimalkan masa mudanya sebagai ladang mengumpulkan bekal untuk kehidupan kelak yang kekal.

Namun apa yang terjadi hari ini dengan pemuda membuat kita prihatin. Pemberitaan buruk tentang pemuda selalu menemani berita pagi kita. Berbagai jenis pelanggaran, mulai dari Narkoba, tawuran, pelecehan seksual, pencurian, dan pembunuhan dilakukan oleh para pemuda.

Prilaku pergaulan para pemuda pun jauh dari agama. Makna kebebasan bagi para pemuda sudah terlalu bebas sehingga seolah mengeksploitasi syahwat dan hawa nafsu belaka. Patriotisme kebangsaan yang ada pada jiwa pemuda hari ini telah berubah menjadi fanatis golongan. Jiwa patriot mereka kini telah salah tempat, dengan pembelaan pada salah satu klub bola secara jahil. Membela salah satu klub bola adalah suatu hal yang wajar, namun menjadi tidak wajar ketika pembelaan itu menjadikan pembenaran tindakan kekerasan pada fans klub bola yang lainnya. Ini berarti tidak ubahnya seperti gengster atau yakuza model baru. Dan yang lebih ironi adalah hilangnya jiwa patriotisme kebangsaan pada sebagian pemuda hari ini. Banyaknya kasus korupsi yang dilakukan para Pejabat adalah bukti telah hilangnya jiwa patriotisme kebangsaan. Mereka yang korupsi itu, jangankan bersemangat untuk memperjuangkan bangsa serta membela kesatuan dan keutuhan bangsa (patriotisme kebangsaan), bahkan mereka adalah bom waktu yang akan menghancurkan bangsa dan negara.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ada beberapa penyebab hilangnya jiwa patriotisme kebangsaan pada pemuda hari ini, diantaranya adalah:

1. Tujuan hidup yang Materialistis
Jiwa patriot itu selalu berbanding lurus dengan ketulusan (ikhlas). Sungguh sulit menanamkan jiwa patriot dalam diri seseorang tanpa adanya ketulusan. Sedangkan ketulusan (ikhlas) adalah mengosongkan materi dalam tujuan. Dan pemuda hari ini, mereka selalu mengukur hanya dengan materi dalam bekerja dan beraktifitas. Sekolah hanya untuk mendapatkan gelar dan bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, tujuannya selalu mentok di materi. Dalam sebuah istilah “UUD, ujung-ujungnya duit”. Sikap materialistis ini akan mengikis jiwa patriotisme kebangsaan seseorang. Karena segala sesuatunya hanya akan diukur dengan materi. Sedangkan patriotisme kebangsaan adalah sikap membela dengan penuh ketulusan (imateralistis).

2. Sikap tergesa-gesa
Kehidupan yang serba cepat dan instan membuat pemuda hari ini ingin menggapai setiap tujuannya dengan instan, “bekerja hari ini dan melihat hasilnya besok”. Pemuda hari ini memiliki angan-angan yang begitu tinggi tapi tidak mau mereka perjuangkan dengan sebuah proses. Sedangkan sunnatulloh-nya semua hasil diraih dengan proses. Siang dan malam tidak datang tiba-tiba, pohon berbuah tidak dengan tiba-tiba, manusia menjadi dewasa tidak dengan tiba-tiba, melainkan semuanya terjadi secara berangsur-angsur melalui proses yang panjang (uninstan). Seseorang yang memiliki sikap tergesa-gesa akan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai dengan cepat. Sedagkan di dalam jiwa patriotisme kebangsaan terdapat perjuangan panjang dengan penuh kesabaran, sehingga jauh dari sikap tergesa-gesa.

3. Lebih senang berada di zona nyaman
Zona nyaman telah menjadi tempat favorit pemuda hari ini. Pesta-pesta, hura-hura, nongkrong-kongkoy, dan jalan-jalan di mall lebih disukai sebagian pemuda hari ini. Saya pernah membagikan form isian kepada beberapa pemuda bermasalah. Di dalam form itu terdapat pertanyaan; bagaimana pendapat anda terhadap diri anda?, apa cita-cita ril anda?. Rata-rata pemuda yang bermasalah ini mengakui bahwa dirinya bukan seorang pejuang sejati, sedang cita-cita mereka begitu tinggi. Ini adalah bukti cita-cita tinggi mereka tidak menjadikan mereka berusaha keras untuk mewujudkannya, karena semangat berjuang (jiwa patriot) mereka terkalahkan oleh kenyamanan mereka berada dalam kenikmatan sesa’at (zona nyaman). Padahal, jiwa patriot itu tercipta dari masa yang sulit dan payah yang membutuhkan perjuangan, bukan tercipta dari zona nyaman.

Langkah-langkah menumbuhkan patriotisme kebangsaan pemuda muslim

Mengetahui kondisi jiwa patriotisme kebangsaan pemuda hari ini yang membuat kita prihatin bukan berarti menjadikan kita pasrah dengan keadaan tanpa ada upaya. Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah dan merubah ke arah yang lebih baik. Oleh sebab itu, berikut adalah langkah-langkah menumbuhkan patriotisme kebangsaan sebagai upaya menghadirkan dan menumbuh-kembangkan jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim:

1. Al-‘Ilmu (Ilmu Pengetahuan)
Setidaknya ada tiga golongan orang berilmu di dunia ini, sebagaimana ini telah disampaikan Imam Ghozali dalam pendahuluan kitabnya Bidayatul Hidayah;9

Pertama, pinter bageur. Golongan ini adalah mereka yang mencari ilmu hanya untuk tujuan akhirat. Maka golongan ini akan berusaha sakuat mungkin memberikan manfa’at kepada orang lain dengan sekecil apapun ilmu yang ia miliki. Karena baginya ilmu adalah ladang untuk menanam kebaikan. Semakin hektaran dan luas ladang yang ia miliki maka semakin banyak pula kebaikan yang dapat ia tanam sebagai bekal kelak di akhirat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kedua, pinter kabalingeur. Golongan ini adalah mereka yang mencari ilmu hanya untuk dijadikan sarana mendapatkan kehidupan dunia yang fana. Maka golongan ini bisanya melabrak segala aturan Allah dan RasulNya. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, berupa jabatan ataupun kekayaan. Golongan ini masih bisa selamat jika ia segera bertobat sebelum ajal menjemput. Menyesali atas segala perbuatannya dan berkomitmen akan merubah haluan dari pinter kabalingeur menjadi pinter bageur.

Ketiga, pinter lieur. Golongan ini adalah yang paling berbahaya kerena selain ia mencari ilmu hanya untuk kepentingan duniawi saja, ia juga mencari ilmu untuk kesombongan. Golongan ini lieur atau serba terbalik, mereka menganggap kebaikan itu buruk jika menurut hawa nafsunya itu buruk. Begitupun sebaliknya, mereka mengaggap keburukan itu baik jika menurut hawa nafsunya baik. Mereka menganggap dirinya paling pintar dan tidak mau disalahkan. Mereka mengajak manusia berpaling dari dunia dengan kata-katanya, tapi mereka rakus terhadap dunia dengan prilakunya. Golongan ini hanya sedikit yang selamat, karena kemungkinan bertobat bagi golongan ini sangat kecil.

Maka selayaknya seorang pemuda harus menjadi golongan yang pertama, pinter bageur. Yaitu seorang pemuda intelek yang berharap ridho Allah serta berorientasi untuk akhirat. Semakin pemuda itu pintar semakin dekat ia kepada Allah. Sungguh kita merindukan sosok pemuda seperti ini.
Langkah pertama untuk menumbuhkan jiwa patriotisme kebangsaan adalah dengan belajar. Terutama belajar ilmu agama. Sehingga jangan sampai sikap patriotisme kebangsaan disalah artikan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku sebagai pemuda muslim yang menghalalkan aksi terorisme. Dengan Al-‘Ilmu maka akan muncul pemahaman dan kesadaran akan patriotisme kebangsaan. Al-‘Ilmu adalah pupuk. Didalam menumbuhkan jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim dibutuhkan Al-‘Ilmu sebagai pupuk agar jiwa patriotisme kebangsaan tumbuh sehat dan sesuai dengan syari’at.

2. Al-‘Amal (Kerja Nyata)
Amal adalah pembuktian dari iman. Iman dan amal selalu bersama kemanapun ia pergi, tidak boleh terpisahkan. Amal adalah bukti menghidupkan kehidupan. Setidaknya ada tiga amalan atau kerja nyata yang harus dilakukan para pemuda;

Pertama, ibadah. Seorang pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Pemuda yang hatinya selalu connect dengan Allah. Pemuda yang harinya-harinya ia lewati dengan bertaqorrub ila Allah. Karena pemuda ini meyakini betul bahwa ia diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ -٥٦-
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”10

Kedua, hijrah. Seorang pemuda yang senantiasa selalu hijrah atau berpindah dari hal-hal yang buruk kepada hal-hal yang baik. Pemuda yang senantiasa mengup grade dirinya menjadi lebih sholeh-sholehah. Pemuda yang selalu melakukan muhasabah sebagai sarana mengevaluasi diri, sehingga ia melakuakan perbaikan di hari kemudian. Karena pemuda ini meyakini bahwa seseorang yang hari ini sama dengan kemarin adalah orang yang rugi. Sehingga tidak ada pilihan lain, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini.

Ketiga, dakwah. Seorang pemuda yang senantiasa menyampaikan kebaikan meski satu ayat. Pemuda yang selalu mengajak kepada kebaikan meski dengan satu kata ‘ayo’. Pemuda yang senantiasa peduli terhadap kondisi umat, sehingga tergerak hatinya mengajak umat untuk bersama-sama menyongsong masa depan yang penuh dengan kejayaan. Karena pemuda ini meyakini bahwa dirinya bagian dari golongan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ -١١٠-

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”11

Langkah selanjutnya untuk menumbuhkan patriotisme kebangsaan pemuda muslim adalah Al-‘Amal (kerja nyata). Artinya, kita hendaknya selalu mendorong para pemuda untuk menjadi Akhtivis dan Ukhtivis. Akhtivis dan Ukhtivis adalah pemuda yang senantiasa sibuk dengan ibadah, hijrah, dan dakwah. Jika Al-‘Ilmu adalah pupuk, maka Al-‘Amal adalah buahnya. Kita membutuhkan buah agar dari buah tersebut memiliki biji buah yang bisa menjadi benih kembali. Di dalam menumbuhkan patriotisme kebangsaan pemuda muslim kita butuh Al-‘Amal agar dapat menumbuhkan lebih banyak lagi patriotisme kebangsaan dalam jiwa pemuda muslim lainnya.

Kesimpulan
Patriotisme kebangsaan adalah sikap rela berkorban untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa. Sikap seperti ini seharusnya bersemayam di setiap individu masyarakat suatu bangsa. Oleh karenanya di dalam Islam kita mengenal istilah, “mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.” Ini menunjukan bahwa kadar keimanan seseorang dapat dilihat dari kadar jiwa patriotisme kebangsaannya.

Untuk mengetahui kondisi jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim hari ini dapat kita deteksi dengan cara perbandingan. Kemudian jika kita membandingkannya dengan pemuda muslim dahulu sa’at Islam berjaya, maka kondisi jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim hari ini butuh perhatian khusus. Baik itu perhatian khusus dari para orang tua, ulama, dan pemerintah. Ada beberapa penyebab yang menjadikan kondisi jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim hari ini butuh perhatian khusus, diantaranya adalah:

1. Tujuan hidup yang Materialistis
2. Sikap tergesa-gesa
3. Lebih senang berada di zona nyaman

Kemudian, setidaknya ada dua langkah untuk menumbuhkan jiwa patriotisme kebangsaan sebagai upaya mengahadirkan dan menumbuh-kembangkan jiwa patriotisme kebangsaan pemuda muslim. Yaitu sebagai berikut:

1. Al-‘Ilmu (Ilmu Pengetahuan); dengannya akan menciptakan pemahaman yang benar dan kesadaran yang total.
2. Al-‘Amal (Kerja Nyata); dengannya akan menciptakan karakter yang kokoh dan figur keteladanan (Sosok Da’i).

Penulis: Ade Zezen MZM, S.Pd.
Ketua KAMMI Kuningan dan Guru SMPIT Al-Multazam 2

Advertisement. Scroll to continue reading.

Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Kutubus Sittah
Al-Ghozali, Imam. 2012. Jalan Menuju Hidayah Allah (Bidayatul Hidayah). Jakarta: Khatulistiwa Press
Al-Qorni, Dr. ‘Aidh. 2011. Kado Istimewa untuk Kawula Muda (Lisysyabaab, Fityatun Aamnu Birabbihim). Jakarta Selatan: Embun Litera
As-Suwaidan, Thariq Muhammad dan Ir. Faishal Umar Basyarahil. 2005. Melahirkan Pemimpin Masa Depan (Shin’atil Qo’id). Jakarta: Gema Insani
Website
http://kbbi.web.id/tumbuh (diakses pada 11 Okt. 2019, pukul 20:01 WIB)
http://kbbi.web.id/patriotisme (diakses pada 10 Okt. 2019, pukul 20:34 WIB)
http://www.sinarharapan.co/news/read/33244/hilangnya-patriotisme (diakses pada 11 Okt. 2019, pukul 21:01 WIB)
http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/26/115.bpkp (diakses pada 10 Okt. 2019, pukul 21:05 WIB)
http://www.unesco.org/nem/en/social-and-human-sciences/themes/youth/youth-definition/ (diakses pada 10 Okt. 2019, pukul 22:38)
http://jurnal.selasar.com/politik/siapa-itu-pemuda (diakses pada 10 Okt. 2019, pukul 21:26)

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Politics

KUNINGAN (MASS) – PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Kabupaten Kuningan melalu jaringan Perempuannya pagi tadi (28/10/2018) mengadakan kreasi aksi flashmob dengan tujuan mengenalkan PKS No...

Advertisement