Memimpin Itu Ternyata Tidak Sesederhana Mengkritik

KUNINGAN (MASS) – Ada kalanya kehidupan mengajarkan kita sesuatu bukan melalui buku, bukan pula melalui perdebatan, melainkan melalui pengalaman yang membuat kita terdiam dan kembali memeriksa diri sendiri.

Dulu, saya bisa begitu keras mengkritik pemerintah. Melihat persoalan dari luar, menunjukkan kekurangan, mempertanyakan kebijakan, bahkan terkadang merasa bahwa segala sesuatu semestinya bisa diselesaikan dengan lebih mudah apabila para pemimpin memiliki kemauan.

Namun, belakangan saya merenungkan satu hal yang sederhana, tetapi cukup menampar kesadaran saya sendiri yaitu memimpin keluarga kecil saja ternyata tidak mudah.

Dalam keluarga yang anggotanya bisa dihitung dengan jari, perbedaan pandangan saja dapat menimbulkan pertengkaran, menjauhkan hubungan, bahkan berujung pada perpecahan. Padahal, orang-orang di dalamnya memiliki ikatan, sejarah, dan kedekatan emosional.

Menyatukan keluarga sendiri saja tidak selalu mudah, bagaimana dengan seorang Bupati yang harus memimpin sebuah kabupaten dengan beragam karakter, kepentingan, aspirasi, dan harapan masyarakat?

Di sana ada masyarakat yang menginginkan jalan mulus, petani yang membutuhkan kepastian air, pencari kerja yang mendambakan lapangan pekerjaan, pengusaha yang mengharapkan kepastian perizinan, serta kelompok masyarakat yang menuntut perlindungan lingkungan.

Belum lagi dinamika birokrasi, kepentingan politik, keterbatasan anggaran, aturan hukum, dan berbagai persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan niat baik.

Seorang pemimpin tidak mungkin membuat semua orang selalu puas. Keputusan yang dianggap tepat oleh satu kelompok bisa jadi dipandang merugikan oleh kelompok lain. Langkah yang terlihat lambat dari luar mungkin sedang berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana di dalam.

Di titik inilah saya mulai memahami bahwa mengkritik dan memimpin adalah dua hal yang berbeda.

Mengkritik dapat dimulai dari satu persoalan yang terlihat. Memimpin mengharuskan seseorang mempertimbangkan banyak persoalan sekaligus, termasuk akibat dari setiap keputusan yang diambilnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh dikritik. Justru kritik tetap diperlukan agar kekuasaan tidak kehilangan arah dan kepentingan masyarakat tidak terabaikan.

Namun, pengalaman dan perenungan ini membuat saya sedikit malu kepada diri sendiri. Jangan-jangan, selama ini saya terlalu mudah menilai sulitnya sebuah persoalan dari luar, tanpa cukup memahami beratnya tanggung jawab mereka yang harus mengambil keputusan.

Malu bukan karena pernah mengkritik, melainkan karena menyadari bahwa terkadang kita begitu cepat menuntut orang lain mampu menyelesaikan persoalan, sementara kita sendiri belum tentu sanggup menyelesaikan persoalan serupa dalam lingkup yang jauh lebih kecil.

Kesadaran ini bukan berarti saya akan berhenti bersikap kritis. Saya tetap percaya bahwa kebijakan publik harus diawasi, kekuasaan harus dijalankan secara bertanggung jawab, dan setiap kekeliruan harus diperbaiki.

Akan tetapi, mungkin sudah saatnya kritik disertai kesediaan untuk memahami. Ketegasan perlu berjalan bersama kebijaksanaan. Keberanian menunjukkan kesalahan harus diimbangi kerendahan hati untuk mengakui bahwa persoalan yang dihadapi seorang pemimpin sering kali jauh lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.

Kepada para pemimpin, masyarakat berhak menuntut kinerja, integritas, dan keberpihakan kepada kepentingan umum. Sebaliknya, kepada masyarakat, kiranya kita juga perlu membangun tradisi kritik yang tidak sekadar menjatuhkan, tetapi menawarkan jalan keluar.

Sebab, sebuah daerah tidak akan maju jika pemimpinnya sibuk mempertahankan diri, sementara masyarakatnya sibuk mencari kesalahan. Keduanya harus berani bercermin, memperbaiki diri, dan bekerja untuk tujuan yang sama.

Hari ini, saya belajar bahwa memimpin bukan sekadar soal siapa yang paling benar, paling berani, atau paling lantang berbicara. Memimpin adalah kesanggupan merawat perbedaan tanpa membiarkannya berubah menjadi perpecahan.

Dan sebelum terlalu jauh menilai seorang pemimpin, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita mampu menyatukan orang-orang yang paling dekat dengan kita?

Saya sedang belajar menjawab pertanyaan itu.

Sebab, semakin jauh seseorang memahami arti kepemimpinan, semestinya semakin rendah hati pula ia dalam menilai orang lain.

Ternyata, menjadi pengkritik itu tidak selalu mudah. Namun, menjadi pemimpin yang harus menjaga begitu banyak kepentingan, tanpa kehilangan arah dan nurani, mungkin jauh lebih sulit daripada yang selama ini saya bayangkan.

Oleh: Dadan Satyavadin
Pemerhati Kebijakan Publik, Tokoh Masyarakat