KUNINGAN (MASS) – Di atas kertas, Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu program paling menjanjikan dalam dunia pendidikan. Gagasannya sederhana, tetapi kuat: memastikan setiap anak datang ke sekolah dengan perut terisi dan tubuh siap belajar. Tidak ada jargon rumit, tidak ada konsep abstrak. Hanya satu tujuan dasar, anak tidak boleh kalah sebelum pelajaran dimulai.
Dalam banyak kasus, MBG memang membawa perubahan nyata. Guru melihat kelas yang lebih tenang. Anak-anak lebih fokus. Kehadiran membaik. Bagi keluarga rentan, satu porsi makanan di sekolah berarti satu kekhawatiran berkurang di rumah. Dalam konteks ini, MBG bekerja sebagaimana mestinya: menjadi fondasi, bukan hiasan kebijakan.
Namun seperti banyak program besar lainnya, kekuatan MBG justru menuntut kejujuran yang lebih besar dalam pelaksanaannya. Karena di lapangan, realitas jarang sesederhana konsep.
Ketika Anak Lapar, Pendidikan Tidak Pernah Dimulai dari Garis yang Sama
Di banyak sekolah negeri, terutama di wilayah pinggiran, desa, atau kawasan padat penduduk, anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan bukan pengecualian. Itu realitas harian. Bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena keterbatasan ekonomi, jam kerja yang panjang, dan kondisi rumah tangga yang rapuh.
Dalam kondisi seperti ini, MBG benar-benar menjadi penentu. Anak yang lapar sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan cepat kehilangan minat belajar. Tidak ada metode pengajaran yang mampu menembus tubuh yang kekurangan energi.
Di sekolah-sekolah ini, MBG bukan sekadar tambahan. Ia adalah syarat minimal agar pendidikan bisa berjalan dengan masuk akal.
Dampak Nyata di Lapangan: Kecil, Tapi Konsisten
Sekolah yang sudah menjalankan program makan bersama atau program sejenis umumnya melihat perubahan yang cepat, meski tidak dramatis:
- Anak lebih siap mengikuti pelajaran
- Konflik kecil antar murid berkurang
- Guru lebih mudah mengelola kelas
- Anak lebih betah berada di sekolah
MBG tidak serta-merta mencetak prestasi akademik. Tetapi ia menciptakan prasyarat yang selama ini diabaikan: kesiapan fisik dan mental anak untuk belajar.
Namun Tidak Semua Sekolah Berangkat dari Titik yang Sama
Masalah mulai muncul ketika MBG diterapkan secara seragam, tanpa cukup mempertimbangkan kondisi tiap sekolah.
Di sejumlah sekolah swasta, terutama di perkotaan, kebutuhan gizi anak sebenarnya sudah terpenuhi. Beberapa sekolah bahkan memiliki dapur sendiri, menu terstandar, pengawasan ahli gizi, dan keterlibatan aktif orang tua. Bagi mereka, makan bersama bukan hal baru.
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan yang wajar:
apakah MBG tetap harus diberikan di sekolah yang sudah mampu memenuhi kebutuhan gizinya sendiri?
Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap MBG, melainkan kritik terhadap cara distribusinya. Karena ketika sumber daya publik yang terbatas digunakan untuk kebutuhan yang sebenarnya sudah terpenuhi, muncul risiko pemborosan dan ketidakadilan.
Penolakan Orang Tua: Tidak Selalu Bentuk Penentangan
Di beberapa sekolah, sebagian orang tua murid menyampaikan keberatan terhadap MBG. Alasannya beragam dan sering kali masuk akal:
- Anak memiliki kebutuhan gizi khusus
- Kekhawatiran soal kebersihan dan kualitas
- Orang tua ingin tetap mengontrol asupan anak
- Kekhawatiran program menggantikan peran keluarga
Penolakan ini sering dibaca sebagai sikap tidak mendukung program pemerintah. Padahal, dalam banyak kasus, penolakan justru lahir dari kepedulian. Orang tua merasa bertanggung jawab penuh atas kebutuhan anak dan tidak ingin peran itu diambil alih tanpa ruang dialog.
Di sinilah kebijakan publik diuji kedewasaannya. Program yang baik tidak memaksa keseragaman, tetapi membuka ruang penyesuaian.
Sama Rata Tidak Selalu Adil
Salah satu persoalan inti MBG adalah perbedaan antara “sama rata” dan “adil”. Memberikan perlakuan yang sama pada kondisi yang berbeda sering kali terasa adil di permukaan, tetapi tidak menyentuh akar masalah.
Anak yang setiap hari datang ke sekolah tanpa sarapan jelas membutuhkan intervensi berbeda dibanding anak yang membawa bekal bergizi dari rumah. Ketika keduanya diperlakukan sama, tujuan keadilan justru bisa meleset.
Dalam kebijakan sosial, keadilan sering kali berarti keberpihakan pada yang paling membutuhkan, bukan penyamaan perlakuan secara kaku.
Apakah MBG Lebih Efektif Jika Berbasis Kebutuhan?
Banyak pendidik dan pemerhati pendidikan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih tajam:
apakah MBG seharusnya diprioritaskan untuk sekolah dan wilayah yang benar-benar membutuhkan?
Secara dampak, jawabannya cenderung ya. MBG paling terasa manfaatnya di sekolah dengan:
- tingkat kemiskinan tinggi
- masalah gizi dan stunting
- keterbatasan akses pangan sehat
- keluarga dengan ketahanan ekonomi rendah
Di wilayah-wilayah ini, MBG bukan sekadar layanan tambahan. Ia adalah penopang utama agar anak tidak tertinggal sejak awal.
Pendekatan berbasis kebutuhan juga membuka ruang fleksibilitas. Sekolah yang sudah mampu bisa diberi opsi lain: penguatan standar gizi, subsidi bahan pangan lokal, atau dukungan bagi sistem makan yang sudah berjalan baik.
Tujuan MBG Perlu Diluruskan
Jika MBG dipahami sebagai “memberi makan semua anak”, maka perdebatan akan terus berputar. Namun jika tujuan utamanya dipahami sebagai memastikan tidak ada anak yang gagal belajar karena lapar, maka arah kebijakan menjadi lebih jelas.
MBG bukan soal menyeragamkan semua sekolah. Ia soal menutup kesenjangan paling dasar yang selama ini menghambat pendidikan.
Karena itu, evaluasi dan penyesuaian bukan tanda kegagalan, melainkan tanda keseriusan.
Penutup
Makan Bergizi Gratis adalah program baik dengan potensi besar. Namun potensi itu hanya akan terwujud jika kebijakan ini dijalankan dengan kejujuran melihat lapangan, keberanian mengoreksi diri, dan kerendahan hati untuk mendengar suara orang tua dan sekolah.
MBG tidak perlu dipertahankan sebagai simbol. Ia perlu dijalankan sebagai solusi nyata, tepat sasaran, fleksibel, dan adil.
Karena pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak diukur dari berapa banyak piring yang dibagikan, tetapi dari berapa banyak anak yang akhirnya bisa belajar dengan layak, karena kebutuhannya benar-benar dipahami.
Oleh: Eka Sukmana, M.Pd, Pemerhati Pendidikan
















