KUNINGAN(MASS) – Fenomena perundungan atau bullying kini semakin nyata terjadi di tengah kehidupan sosial masyarakat, baik di dunia nyata maupun melalui media sosial. Tindakan ini sering kali bermula dari kebiasaan mengejek fisik atau memberikan julukan buruk dengan dalih sekadar bercanda.
Kondisi tersebut ditanggapi oleh Nurul Akbar Syahadah dari STIS HK. Ia mengajak generasi muda dan masyarakat awam untuk menjadikan ajaran agama, khususnya Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 11, sebagai kontrol diri.
“Sekarang ini lagi akrab banget sama istilah bullying atau perundungan. Tapi sebelum istilah itu muncul dikehidupan sosial kita, kita sudah diingatkan dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 untuk jadi alarm kita dalam bergaul,” tuturnya kepada kuninganmass.com Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, tindakan mencela atau merundung orang lain sebenarnya bersumber dari ego manusia yang merasa lebih hebat, lebih pintar, atau lebih rupawan. Padahal, dalam pandangan agama, bisa jadi orang yang diejek justru memiliki derajat yang jauh lebih mulia di hadapan Tuhan.
“Pas kita mulai ngasih julukan yang aneh-aneh, ego kita tuh lagi main. Ada bisikan dikepala kita bahwa kita jauh lebih oke, lebih pintar atau lebih cakep dari mereka, padahal bisa jadi orang yang kita bully jauh lebih mulia dihadapan Allah swt dari pada kita,” tambahnya.
Diakhir Nurul Akbar menegaskan menghentikan perundungan bukan sekadar ikut-ikutan tren kesehatan mental yang ramai di aplikasi TikTok. Sikap memanusiakan manusia ini merupakan perintah agama yang wajib dijalankan demi mengurangi polusi kebencian di lingkungan sosial sehari-hari.
“Berhenti dari kebiasaan membully bukan karena ingin terlihat keren atau ikut trend isu mental health yang ramai diTikTok atau medsos lainnya. Namun, atas perintah dan ajuran dari firman Allah swt yaitu Surat Al-Hujurat ayat 11,” pungkasnya. (raqib)