Lebih Setahun MBG Berjalan, Dinkes Sebut Zero Stunting Masih Jadi Tantangan Berat

KUNINGAN (MASS) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan hampir dua tahun mulai memicu pertanyaan besar sejauh mana efektivitasnya dalam menekan angka stunting? Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr H Edi Martono, MARS, memberikan penjelasannya usai mengikuti Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) pada Selasa (21/4/2026).

Menurutnya meskipun program ini sudah berjalan cukup lama, pihaknya masih melakukan penelitian mendalam untuk melihat kaitan langsung antara MBG dengan fluktuasi angka stunting. Ia mencatat adanya dinamika di lapangan, di mana beberapa kecamatan mengalami penurunan kasus, namun ada pula wilayah seperti Kalimanggis dan Garawangi yang justru mengalami sedikit kenaikan.

“Harusnya sih ada pengaruh ya, tapi kita belum meneliti itu ya pengaruhnya. Karena kalau kita liat kan memang ada kecamatan kecamatan yang turun nih, Kalimanggis dan Garawangi naik tapi tidak signifikan karena karena memang itu yang rendah Kalimanggis paling rendah ya dia dia cuma 0,04%, sementara yang lainnya kan diatas 5%,” paparnya.

Dinkes Kuningan saat ini sedang melakukan pendataan ulang untuk memastikan penyebab pasti turunnya angka stunting di setiap kecamatan. Ada beberapa kemungkinan yang sedang dikaji, apakah karena penanganan gizi yang membaik, penyakit penyerta anak yang sudah diobati, bantuan dari program MBG, atau sekadar karena anak tersebut sudah melewati usia lima tahun (balita).

“Nah jadi penurunan ini kita mau lihat apakah memang karena penanganan gizinya atau memang karena yang punya penyakit sudah diobati atau juga memang ada bantuan dari MBG, nah ini lagi didata ulang lagi. Ini masih proses. Atau turunnya karena memang sudah di atas 5 tahun ya. Jadi kalau udah diatas 5 tahun kan udah nggak bisa lagi gitu,” tuturnya.

Namun, ketika disinggung mengenai target “Zero Stunting” atau nol kasus di Kuningan, dr Edi mengakui hal tersebut adalah tantangan yang sangat berat. Masalah stunting tidak bisa dilepaskan dari pola hidup dan tingkat ekonomi masyarakat. Sulit bagi orang tua untuk memenuhi gizi anak jika pendapatan keluarga tidak mencukupi untuk membeli bahan pangan berkualitas.

“Zero stunting itu berat ya, saya rasa juga semua pasti akan berat kalau hidrostatik ya. Kecuali kalau masyarakat sudah mampu dan cukup kaya raya barangkali ya semua gizinya,” tambahnya.

Langkah ini dianggap krusial demi menyongsong target besar pemerintah pusat, yakni mewujudkan “Generasi Emas 2045”. Menurut dr. Edi, persiapan menuju generasi yang cerdas dan sehat tersebut harus dimulai dari sekarang, terutama melalui pemenuhan gizi yang konsisten pada masa seribu hari pertama kehidupan anak.

“Makanya kenapa ada PMT dari puskes, kenapa ada MBG, Itu salah satunya untuk kita membantu orang orang yang kurang mampu ini supaya si anak yang mereka punyai ini tetap punya kualitas, tujuannya seperti target pemerintah ya di tahun 2045 kita punya generasi emas ya,” pungkasnya. (raqib)