SAMARINDA (MASS) – Tensi panas menjelang laga El Clasico Indonesia yang mempertemukan Persija Jakarta melawan Persib Bandung kian memuncak. Kabar mengejutkan muncul setelah lokasi pertandingan yang semula dijadwalkan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, mendadak dipindah ke Stadion Segiri, Samarinda.
Pemindahan lokasi yang terkesan mendadak ini memancing reaksi keras dari para pendukung, termasuk dari Kabupaten Kuningan. Mochamad Farel, salah satu Bobotoh asal Kuningan, menilai keputusan ini sangat tidak wajar jika dilihat dari sisi teknis pertandingan.
Farel menyoroti narasi “Persib takut main di Jakarta” yang ramai diunggah oleh pendukung Persija di media sosial. Menurutnya, tuduhan tersebut hanyalah pengalihan isu yang terlalu dangkal untuk dipercaya oleh masyarakat pecinta bola.
“Narasi “Persib takut main di Jakarta” yang di posting serentak oleh jak mania itu terlalu dangkal untuk dipercaya mentah-mentah (ini pengalihan isu),” tuturnya kepada kuninganmass.com Jumat (8/5/2026).
Hal yang dianggap paling janggal adalah waktu pengambilan keputusan yang dilakukan hanya empat hari (H-4) sebelum pertandingan dimulai. Perubahan lokasi di saat-saat terakhir dinilai akan berdampak besar pada kesiapan fisik dan mental para pemain.
“Justru yang terasa janggal adalah timing-nya. Ini bukan sekadar perubahan teknis ini keputusan yang dampaknya sangat besar ke kondisi fisiktusan yang dampaknya sangat besar ke kondisi fisik dan mental tim,” tambahnya.
Farel menambahkan perjalanan dari Bandung menuju Samarinda bukanlah perjalanan yang ringan bagi sebuah tim profesional. Masalah pemulihan fisik pemain, adaptasi cuaca, hingga kelelahan selama di pesawat menjadi tantangan berat yang harus dihadapi skuad Maung Bandung.
“Bandung ke Samarinda itu bukan perjalanan ringan. Bukan cuma soal jarak, tapi soal recovery pemain, adaptasi cuaca, kelelahan perjalanan, dan waktu persiapan yang terpotong,” tandasnya.
Ia meragukan jika pemindahan ini disebut sebagai faktor teknis belaka atau sekadar kebetulan.
“Kalau dibilang ini kebetulan, rasanya terlalu ‘rapi’ untuk disebut kebetulan,” pungkasnya. (raqib)