KUNINGAN (MASS) – Setiap kali berbicara tentang geothermal, sebagian masyarakat mungkin langsung membayangkan pengeboran, panas bumi, perubahan lingkungan, atau kekhawatiran terhadap sumber air. Kekhawatiran itu wajar. Sebab setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya alam memang harus dilakukan dengan kehati-hatian.
Tetapi takut terhadap geothermal juga bukan cara terbaik untuk mengambil keputusan.
Kuningan justru dapat belajar dari daerah yang telah lebih dahulu menjalani pengalaman panjang dalam mengelola energi panas bumi. Salah satunya adalah Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Kamojang bukan cerita sehari dua hari. Pengembangan panas bumi di kawasan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Dari sana kita dapat melihat bahwa panas bumi bukan sekadar teori tentang energi dari dalam bumi, tetapi sebuah kegiatan yang membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, pengawasan, pengelolaan lingkungan, serta hubungan yang baik dengan masyarakat.
Karena itu, apabila suatu hari Kuningan mengembangkan geothermal, jangan memulainya dengan pertanyaan sederhana: “ Apakah geothermal berbahaya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “ Bagaimana geothermal dikelola agar manfaatnya diperoleh tanpa mengorbankan lingkungan dan sumber kehidupan masyarakat?”
Di sinilah pengalaman Kamojang menjadi penting.
Kuningan dapat belajar bagaimana menjaga keseimbangan reservoir, bagaimana mengelola air, bagaimana melakukan reinjeksi, bagaimana memantau lingkungan, bagaimana menjaga kawasan konservasi, serta bagaimana masyarakat sekitar memperoleh informasi dan manfaat secara proporsional.
Geothermal pada dasarnya adalah pemanfaatan panas yang sudah tersedia di dalam bumi. Namun mengambil energi dari bumi tentu bukan berarti bebas dari konsekuensi. Karena itu, teknologi dan kehati-hatian harus berjalan bersama.
Kita juga jangan melihat geothermal hanya dari angka megawatt.
Bagi Kuningan, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: apa manfaat ekonominya bagi daerah, bagaimana perlindungan sumber airnya, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, dan bagaimana masyarakat dilibatkan dalam prosesnya?
Dengan cara berpikir seperti itu, kita tidak menjadi kelompok yang membabi buta menerima geothermal, tetapi juga tidak menjadi kelompok yang menolaknya hanya karena rasa takut.
Kita belajar dari pengalaman daerah lain, kemudian menerapkannya sesuai karakter geografis dan sosial Kuningan.
Kuningan tidak harus takut pada geothermal. Kuningan harus cermat terhadap geothermal.
Sebab yang kita perlukan bukan keberanian untuk mengambil risiko, melainkan keberanian untuk memastikan bahwa setiap risiko telah dipahami, dikendalikan, dan diawasi.
Kalau Kamojang telah memberikan pengalaman puluhan tahun, maka Kuningan seharusnya tidak perlu mengulang semua kesalahan yang mungkin pernah terjadi.
Belajarlah dari Kamojang. Ambil ilmunya, pelajari pengalamannya, pahami risikonya, dan sesuaikan dengan karakter alam Kuningan.
Karena pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang tidak memiliki risiko.
Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang risikonya dipahami, manfaatnya jelas, lingkungannya dijaga, dan masyarakatnya tidak ditinggalkan.
Oleh: Dadan Satyavadin, Pemerhati Kebijakan Publik
