KUNINGAN (MASS) – Keberadaan potensi energi panas bumi (geotermal) di wilayah Kabupaten Kuningan kerap memicu kekhawatiran dan persepsi publik tentangmanfaatnya hanya dirasakan oleh pihak pengembang. Padahal, jika dikelola secara tepat, masyarakat lokal justru berpeluang mendapatkan berbagai dampak ekonomi langsung dari pemanfaatan potensi alami tersebut.
Pandangan mendasar ini dipaparkan oleh pakar geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, dalam sebuah tayangan podcast yang membahas potensi dan pemanfaatan geotermal baru-baru ini di YouTube Kuninganmass.
Dalam keterangannya, Ia menekankan masyarakat tidak perlu selalu membayangkan manfaat geotermal dalam skala besar atau rumit. Menurutnya, pemanfaatan uap panas bumi justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang menyentuh langsung kegiatan ekonomi warga desa sekitar. Salah satu contoh peluang usaha paling riil adalah pengembangan budidaya jamur atau supa.
“Jangan berpikir yang tinggi dulu, mulai dari yang sederhana. Panas bumi itu bisa dimanfaatkan untuk rumah-rumah budidaya jamur atau supa warga sekitar,” ujarnya.
Selain sektor pertanian dan budidaya, potensi pemandian air panas alami hingga pengembangan destinasi pariwisata pendukung seperti penginapan dan hotel juga menjadi peluang ekonomi yang terbuka lebar. Mengenai tata ruang dan perizinan di sekitar kawasan Gunung Ciremai, ia memaparkan pemanfaatan fasilitas tersebut tidak harus berdiri persis di titik sumber energi.
“Pemanfaatannya bisa dikembangkan untuk pemandian air panas sampai hotel. Perizinannya tetap terjaga karena sistem alirannya menggunakan jaringan pipa ke lokasi yang aman,” terangnya.
Tak hanya soal uap panas langsung, Jumhari juga menyoroti perkembangan teknologi energi listrik saat ini yang semakin fleksibel. Listrik yang dihasilkan dari pembangkit geotermal kini dapat disimpan dan dipindahkan secara praktis menggunakan teknologi penyimpanan daya berkapasitas besar.
“Listrik dari geotermal sekarang sudah bisa ‘disasetkan’ atau disimpan dalam bentuk baterai. Jadi energinya bisa dipindah-pindah dan dimanfaatkan di tempat lain secara efisien,” pungkasnya. (raqib)
