Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Ilustrasi membaca. (Foto: AI)

Netizen Mass

Krisis Literasi Membaca Siswa Kelas VI Sekolah Dasar

KUNINGAN (MASS) – Membaca merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa, dengan memiliki level kemampuan membaca yang tinggi, siswa akan mampu menggapai keberhasilan dalam belajar. kelas VI sendiri merupakan kelas tinggi yang tahap membacanya memasuki tahapan membaca lanjut yang idealnya telah memiliki kemampuan membaca yang mumpuni dalam jenjang Sekolah Dasar (SD) berbeda dengan kelas rendah yang memasuki tahapan membaca permulaan.

Namun, kondisi kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar di Indonesia masih memprihatinkan. Kemajuan teknologi menjadi tantangan karena berhasil menjadi pengalihan perhatian anak-anak, bisa dilihat dari kegiatan sehari-hari mereka menghabiskan waktu di depan televisi atau bermain gadget dengan berbagai macam pilihan yang membuat sang anak tertarik. Peran guru dan keluarga sangatlah penting dalam kemampuan membaca siswa, dituntut menjadi pembimbing, pendukung dengan terus meningkatkan mengembangkan pembelajaran supaya siswa tertarik untuk terus belajar membaca.

Kasus siswa kelas VI SD yang belum bisa membaca ini adalah masalah serius yang menunjukkan adanya mata rantai yang terputus di sistem sekolah. Sangat mengkhawatirkan karena mereka sudah di tingkat akhir sekolah dasar, tapi kemampuan dasarnya belum tuntas. Ini membuktikan bahwa selama ini kenaikan kelas mungkin hanya dilihat sebagai formalitas administratif, tanpa benar-benar memastikan siswanya sudah paham atau belum.

Banyaknya siswa SD, khususnya kelas VI, yang belum mampu membaca merupakan persoalan serius yang menunjukkan adanya krisis literasi dasar dalam pendidikan. Pada usia ini, siswa seharusnya sudah lancar membaca untuk memahami berbagai mata pelajaran, namun kenyataan di lapangan masih menunjukkan lemahnya kemampuan tersebut akibat kurangnya pembiasaan membaca, minimnya pendampingan orang tua, serta pembelajaran yang lebih menekankan kelulusan daripada penguasaan kemampuan dasar.

Isu banyaknya siswa sekolah dasar, khususnya kelas VI, yang belum bisa membaca merupakan masalah serius yang tidak bisa diabaikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca sejak kelas awal belum berjalan dengan maksimal. Padahal, kemampuan membaca merupakan dasar penting bagi siswa untuk memahami pelajaran lainnya. Jika siswa terus dinaikkan kelas tanpa benar-benar menguasai kemampuan dasar tersebut, maka mereka akan semakin kesulitan saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, di era digital saat ini, penggunaan gawai yang berlebihan juga turut memengaruhi minat membaca anak. Apabila masalah ini terus dibiarkan, siswa berisiko tertinggal jauh dalam proses belajar.

Masih ditemukannya siswa sekolah dasar kelas VI yang belum memiliki kemampuan membaca secara lancar menunjukkan bahwa capaian akademik tidak dapat semata-mata diukur melalui kenaikan kelas maupun hasil penilaian rapor. Literasi membaca merupakan kompetensi fundamental yang berperan penting dalam menunjang pemahaman siswa terhadap seluruh mata pelajaran. Keterbatasan kemampuan membaca berpotensi menghambat proses pembelajaran, perkembangan kemampuan berpikir kritis, serta optimalisasi potensi akademik peserta didik.

Masih terdapat siswa Sekolah Dasar, khususnya kelas VI, yang belum mampu membaca dengan lancar. Padahal, kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang seharusnya sudah dikuasai sejak kelas awal karena sangat berpengaruh terhadap pemahaman seluruh mata pelajaran.

Rendahnya kemampuan membaca ini dipengaruhi oleh kurangnya kebiasaan membaca sejak dini, minimnya pendampingan orang tua, serta pembelajaran di sekolah yang lebih berfokus pada penyelesaian materi dibanding penguatan literasi. Jika kondisi ini dibiarkan, siswa akan mengalami kesulitan belajar di jenjang selanjutnya dan prestasi akademik pun menurun.

Keterlambatan membaca di kalangan siswa kelas VI dapat dilihat dari beberapa hal seperti banyak siswa yang belum bisa membaca dengan lancar, bahkan untuk teks yang sederhana. Ini membuat mereka merasa kurang percaya diri di kelas, siswa juga sering kali tidak tertarik untuk membaca buku. Mereka lebih memilih bermain atau menonton televisi, yang mengakibatkan kurangnya minat mereka terhadap membaca buku yang bermanfaat bagi masa depan. Selanjutnya dukungan keluarga yang minim, banyak orang tua yang sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu untuk membantu anak-anak mereka belajar membaca. Beberapa orang tua juga mungkin tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mendukung proses belajar anak.

Menurut opini kami, masalah ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada siswa. Faktor lingkungan keluarga, minimnya pendampingan orang tua, kurangnya budaya membaca di rumah, serta metode pembelajaran yang kurang variatif di sekolah turut berkontribusi besar. Selain itu, dampak pembelajaran jarak jauh pada masa lalu juga meninggalkan kesenjangan kemampuan literasi yang belum sepenuhnya teratasi hingga sekarang.

Banyak siswa kelas VI SD di Indonesia dilaporkan masih belum bisa membaca dengan lancar meskipun berada di penghujung jenjang pendidikan dasar, yang menurut data Kemendikbudristek hanya sekitar 55 % siswa kelas VI mencapai tingkat literasi minimum dalam Asesmen Nasional, sehingga menimbulkan keprihatinan dan dorongan evaluasi terhadap proses pembelajaran dasar di sekolah. Fenomena siswa kelas VI SD yang belum bisa membaca juga disoroti oleh sejumlah pihak di dunia pendidikan yang menyebut bahwa belum teridentifikasinya kendala belajar sejak dini membuat beberapa siswa tetap naik kelas tanpa keterampilan literasi dasar yang memadai.

Jika masalah ini terus dibiarkan dengan alasan “kasihan kalau tidak naik kelas”, kita sebenarnya justru sedang merugikan masa depan siswa tersebut. Saat mereka masuk SMP nanti, mereka akan semakin sulit mengikuti pelajaran dan akhirnya makin tertinggal jauh. Isu ini harus jadi evaluasi besar bagi sekolah untuk lebih jujur dalam menilai kemampuan siswa sebelum meluluskan mereka ke jenjang berikutnya.

Munculnya fenomena siswa kelas VI SD yang belum bisa membaca merupakan rapor merah bagi efektivitas transisi kurikulum dan sistem penuntasan kelas yang selama ini diterapkan. Masalah ini mencerminkan adanya pengabaian terhadap kompetensi fondasi demi mengejar ketuntasan kurikulum secara formalitas, sehingga siswa terus dinaikkan kelas meski belum memiliki modal dasar literasi.

Tanpa adanya tindakan radikal melalui program remediasi khusus dan pemetaan kemampuan siswa secara jujur di setiap jenjang, sekolah hanya akan mencetak lulusan yang rentan terhadap putus sekolah dan kesulitan beradaptasi di masyarakat. Keadaan ini menuntut kolaborasi nyata antara sekolah dan orang tua agar literasi tidak lagi dianggap sebagai tanggung jawab guru semata, melainkan hak dasar anak yang wajib dipenuhi sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Masih banyak siswa SD, khususnya kelas VI, yang belum mampu membaca dengan lancar. Hal ini disebabkan oleh lemahnya literasi dasar sejak kelas awal, kurangnya pendampingan orang tua, minimnya budaya membaca, serta metode pembelajaran yang kurang tepat. Dampak pembelajaran jarak jauh dan pengaruh gawai juga memperburuk kondisi ini. Akibatnya, siswa kesulitan memahami pelajaran dan prestasi belajar menjadi rendah.

Beberapa tahun terakhir, sejumlah pihak menilai adanya kemunduran dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum Merdeka Belajar yang diharapkan mampu mendobrak kualitas pendidikan di Tanah Air, ternyata implementasinya tak semudah yang direncanakan. Belakangan justru ditemui siswa kelas VI SD yang belum bisa membaca, sementara selangkah lagi harus naik tingkat ke jenjang SMP. Belum lagi masih banyak siswa SD yang tidak bisa berhitung dengan operasi matematika dasar dan sederhana. Kondisinya jadi memprihatinkan.

Banyaknya siswa sekolah dasar, khususnya kelas enam, yang belum mampu membaca dengan baik merupakan tanda adanya ketimpangan dalam proses pendidikan dasar. Masalah ini tidak bisa dianggap wajar karena kemampuan membaca adalah keterampilan dasar yang seharusnya sudah tuntas di kelas-kelas awal. Ketika siswa naik kelas tanpa kemampuan membaca yang memadai, maka kesulitan belajar akan terus terbawa hingga jenjang selanjutnya.

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah fokus pembelajaran yang lebih menekankan pada pencapaian nilai dibandingkan penguasaan kemampuan dasar. Dalam praktiknya, siswa sering kali dinyatakan naik kelas meskipun belum benar-benar mampu membaca. Selain itu, perbedaan kemampuan belajar siswa yang tidak diimbangi dengan pendekatan pembelajaran yang tepat juga menjadi faktor yang memperparah keadaan.

Maka dari itu, penting untuk memberikan perhatian khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan. Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda, dan kita harus menghargai perbedaan ini. Program-program pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga mereka merasa diperhatikan dan didukung.

Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan kerja sama semua pihak. Sekolah perlu memperkuat program literasi, guru harus lebih kreatif dan sabar dalam mengajarkan membaca, serta orang tua perlu terlibat aktif mendampingi anak di rumah. Pemerintah pun harus memastikan adanya kebijakan dan pendampingan khusus bagi siswa yang tertinggal literasi. Tanpa langkah nyata dan berkelanjutan, masalah siswa kelas VI yang belum bisa membaca akan terus berulang dan menghambat kualitas pendidikan di masa depan.

PENULIS: Kelompok 2 Pedagogika, 1C PGSD 2025

  1. Vera Dwi Cahyani
  2. Muhammad Fazri Ramdani
  3. Adinda Rahmawati
  4. Aulia Azzahra Nurfadhila
  5. Jessica Indriana
  6. Arini Zulfa Aziza
  7. Ira Nur Fakhira Bu
  8. Anis Kirana Lestari
  9. Nalla Joliana
  10. Rahma Yulianti Azahra
  11. Regit Salsa Alpadiah
  12. Gilang Ramadan
  13. Endah Nurfitri
  14. Muhammad Rafli Pratama
  15. Revalina Amelia Aripin
Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like